Oleh:
SUHARSONO A.Q.S.
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Lamongan
Malam itu, di sudut kota metropolis, kehidupan berdenyut dalam ritme yang padat. Jalanan sempit dipenuhi deru kendaraan yang saling berebut ruang, klakson bersahutan seperti orkestra tak pernah henti. Asap cerobong pabrik menggumpal di udara, menebarkan kabut kelabu yang menempel pada atap-atap rumah tua dan kaca jendela berdebu. Pedagang kaki lima berjejer di trotoar, menawarkan aroma gorengan yang bercampur dengan bau solar dan oli. Di tengah riuh itu, anak-anak masih berlarian di gang kecil, tertawa seolah hiruk-pikuk kota hanyalah musik latar bagi permainan mereka.
Dari kejauhan lamat-lamat lampu-lampu kecil menyala di serambi masjid, suara rebana berpadu dengan lantunan shalawat yang bergema syahdu. Warga di pinggiran kota itu berbondong-bondong hadir, membawa berkat dan doa di bulan Maulid Nabi. Di sudut masjid yang remang, seorang lelaki berambut uban duduk terpaku, tubuhnya bergetar menahan sesuatu yang lama ia pendam. Dialah Dullah, mantan preman yang dulu ditakuti orang-orang pasar, kini terpojok oleh rasa bersalah yang menyesakkan dada.
Dullah menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh, membasahi sajadah tua yang ia bawa dari rumah. Ingatan masa lalu menyerbu: wajah-wajah yang pernah ia sakiti, harta yang ia rebut dengan kasar, bahkan jeritan seorang ibu yang anaknya ia pukuli karena utang tak seberapa. Semua itu berputar seperti kilatan kilat dalam kepalanya, bertabrakan dengan lantunan shalawat yang menenangkan hati. Bulan Maulid, malam yang seharusnya penuh syukur, justru menjadi panggung tangis penyesalan bagi Dullah.
*
Sejak kecil ia tak pernah merasakan kelembutan agama, hanya kerasnya jalanan dan genggaman besi geng preman yang membesarkannya. Namun malam itu, suara shalawat yang dibacakan anak-anak pinggiran kota itu menusuk jauh ke relung hatinya. Kata-kata "Ya Nabi salam ‘alaika..." seakan menggugurkan seluruh topeng keras yang selama ini ia banggakan. Dullah tak sanggup lagi menahan tangis. Ia sadar, hidupnya yang penuh dosa tak pantas jika tak segera mencari cahaya.
Warga pinggiran itu yang melihatnya hanya bisa terdiam. Tak ada lagi wajah sangar, tak ada lagi tatapan garang; yang tersisa hanyalah seorang lelaki tua yang luluh di hadapan Sang Pencipta. Tangis Dullah di bulan Maulid itu menjadi saksi bahwa hidayah bisa mengetuk pintu siapa saja, bahkan bagi seorang mantan preman yang hatinya selama ini beku.
Dahulu, Dullah adalah sosok yang namanya sangat terkenal di setiap sudut kota kecil itu. Tubuhnya kekar, wajahnya penuh bekas luka perkelahian, dan tatapannya tajam seperti pisau yang siap menusuk siapa saja yang berani menantang. Ia bukan sekadar preman jalanan; ia pemimpin yang mengatur ritme kehidupan bawah tanah. Setiap warung, pasar, bahkan terminal, tak lepas dari bayang-bayangnya. Orang-orang menyebutnya "raja jalanan", bukan hanya karena kekuatannya, tapi juga karena keberanian dan wibawa yang membuat kawan maupun lawan segan.
Namun, di balik kegaranganya, Dullah menyimpan sisi lain yang jarang terlihat. Ia dikenal keras pada musuh, tetapi juga punya aturan sendiri yang tak boleh dilanggar: tidak mengganggu orang kecil yang mencari nafkah. Anak-anak jalanan justru sering dilindunginya, pedagang kecil dibiarkannya hidup tenang, bahkan ia sesekali menyelipkan uang receh ke tangan para pengemis. Karakter ini membuatnya bukan hanya ditakuti, tapi juga diam-diam dihormati oleh sebagian warga, seakan Dullah adalah bayangan hitam yang sekaligus menjadi pelindung di tengah kerasnya kehidupan kota.
Dullah menyimpan sisi yang hanya diketahui segelintir orang. Setiap sore, ia selalu pulang ke rumah sederhana di gang sempit. Di sanalah ibunya yang sudah renta menunggu, duduk di kursi bambu tua dengan selendang lusuh menutupi bahu. Di hadapan ibunya, Dullah berubah total: nada suaranya melunak, tangannya yang kasar oleh pukulan berubah lembut saat menyuapi sang ibu dengan bubur hangat.
Dullah bisa menolak ajakan teman-temannya untuk minum-minum, tetapi ia tak pernah menolak permintaan ibunya. Ia rela menjual barang rampasan atau hasil "keberaniannya" di pasar hanya untuk membeli obat dan kebutuhan rumah. Bagi Dullah, satu-satunya alasan ia masih berdiri tegar adalah doa ibunya. Di setiap shalat malam, ia mendengar lirih suara sang ibu memohon agar anaknya diberi hidayah, meski Dullah sendiri hanya diam di luar kamar, mendengarkan tanpa berani masuk.
Orang-orang mungkin hanya melihat Dullah sebagai sosok garang yang tak bisa disentuh hukum. Tapi mereka tak tahu, di setiap kerutan wajah ibunya, Dullah menemukan makna hidup. Ia sadar, sebesar apapun rasa takut orang padanya, tak ada yang bisa menandingi rasa takut kehilangan sosok tua yang setiap hari menantinya pulang. Di hadapan dunia ia preman, namun di hadapan ibunya ia hanyalah seorang anak kecil yang ingin selalu berbakti.
Dullah berdiri di tengah kerumunan, nafasnya terengah, wajahnya berlumur keringat dan debu jalanan. Malam itu, lampu-lampu temaram hanya menambah seram bayangan tubuhnya yang kekar. Ia tahu, malam ini bukan sekadar adu otot ini pertaruhan harga diri, kehormatan, sekaligus jawaban atas rasa takut yang selama ini ia tebarkan.
**
Prak…prak….terdengar suara botol pecah bersahutan, menandai awal pertarungan yang tak terhindarkan. Lawan-lawannya datang beramai-ramai, membawa dendam lama yang ingin dituntaskan. Dullah mencengkeram besi karatan di tangannya, matanya menyala penuh amarah, seolah seluruh luka masa lalunya ikut membakar api keberaniannya.
Keributan pecah. Teriakan, dentuman, dan jeritan bercampur jadi satu. Dullah menghantam satu persatu, tubuhnya seperti mesin yang digerakkan amarah. Namun semakin ia melawan, semakin banyak pula yang menghadang. Tubuhnya penuh luka, darah mengalir, tapi ia tak gentar, sebuah kegilaan yang justru membuatnya semakin disegani.
Di tengah kekacauan itu, terdengar lantang suara adzan dari masjid kecil di ujung gang. Seketika, waktu seperti berhenti. Dullah mematung, besi di tangannya terjatuh. Dalam hatinya, muncul bayangan ibunya yang dulu selalu berpesan, “Nak, jangan sampai hidupmu hanya jadi cerita orang tentang kekerasan.” Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pukulan mana pun.
Lawan-lawannya ikut terdiam, bingung melihat Dullah yang tiba-tiba merunduk, memegangi wajahnya sendiri. Tangannya gemetar, entah karena luka atau rasa sesal yang tiba-tiba menguasai dadanya. Malam yang penuh bising itu mendadak berubah menjadi senyap, hanya gema adzan yang mengisi udara.
Untuk pertama kalinya, Dullah merasa kalah, bukan oleh pukulan, tapi oleh dirinya sendiri. Tubuhnya jatuh terduduk di atas aspal, sementara orang-orang hanya bisa menatap tak percaya. Malam itu menjadi klimaks bagi hidupnya: titik balik antara memilih tetap menjadi preman jalanan, atau menempuh jalan baru yang lebih berat, menaklukkan dirinya sendiri.
Suara sholawat saling bersahuatan di langit kota seakan menjadi jembatan antara masa lalunya yang kelam dengan masa depannya yang penuh harap. Dullah merasakan setiap bait syair seperti tetesan air yang menyucikan, menembus celah-celah hatinya yang retak. Malam itu, ia sadar bahwa tidak ada yang lebih agung dari ampunan, dan tidak ada yang lebih indah daripada kembali kepada jalan Nabi.
Anak-anak kecil yang dulu takut melintas di depannya kini menatap dengan kagum. Mereka menyaksikan perubahan yang nyata: seorang lelaki yang dulunya menjadi bayangan menakutkan di lorong-lorong kini berubah menjadi teladan kerendahan hati. Dari sorot mata mereka, Dullah memahami bahwa taubatnya bukan hanya menyelamatkan dirinya, tapi juga memberi harapan bagi orang lain.
Di tengah riuh kota metropolis yang tak pernah tidur, Dullah menemukan ketenangan yang selama ini tak pernah ia kenal. Kota dengan lampu-lampu neon dan asap pabrik itu tak lagi terasa menyesakkan; justru menjadi saksi bisu atas lahirnya seorang hamba yang baru. Cahaya Maulid menjelma lentera yang menuntunnya keluar dari gelap jalanan menuju terang iman.
Pesan yang terpatri di hatinya sederhana namun mendalam: setiap manusia punya kesempatan kedua. Selama nafas masih terhembus, pintu taubat tetap terbuka lebar. Dullah, yang dulu dikenal dengan tinju dan ancaman, kini memilih untuk menebar salam dan doa. Ia ingin menutup hidupnya bukan dengan ditakuti, melainkan dengan dirindu karena kebaikan.
Malam Maulid itu pun berakhir dengan cahaya yang abadi di dalam hatinya. Dullah tahu, perjalanan barunya tidak mudah, namun langkah pertama telah ia ambil. Di tengah kota yang padat dan keras, ia telah membuktikan bahwa hidayah bukan milik segelintir orang, melainkan anugerah yang bisa turun kapan saja.
Lantunan shalawat sudah tak terdengar lagi. Dullah, mantan preman yang baru saja tersungkur dalam doa, menoleh. Pandangannya tertumbuk pada sosok renta berkerudung lusuh: ibunya. Mata perempuan tua itu berkaca-kaca. Dengan langkah gontai ia mendekat. “Ibu…” suaranya bergetar, serupa bisikan doa yang lama tak terucap.
Perempuan tua itu meraih tangannya, menggenggam erat seakan tak ingin lagi melepaskan. Tak ada kata-kata panjang, hanya pelukan yang menyatukan rindu dan penyesalan bertahun-tahun. Di hadapan Maulid Nabi, ia bersujud di pangkuan ibunya, meneteskan air mata taubat yang tak terbendung. Malam itu, masjid menjadi saksi, bagaimana hati yang keras luluh oleh kasih ibu, dan bagaimana cahaya Rasul menuntun seorang anak kembali ke jalan kebenaran. (*)
***
Bumi Utara, 5 September 2025
Editor : Yuan Edo Ramadhana