Oleh:
Nono Warnono
Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)
Galibnya cerita pewayangan sutradara dari lakon dalam pagelaran adalah dalang. Dialah sutradara bagaimana sebuah lakon pertunjukan diawali dan diakhiri. Happy endingnya ataupun bad ending, juga berpulang pada kehendak purbawasesa di tangan dalang.
MESKI ada lakon sesuai pakem, ada cerita carangan yang tokoh, plot, setting, hingga ending hasil ulah karya sang sutradara. Cerita bersumber dari kitab Ramayana semacam Rama Tambak ataupun bersumber dari kitab Mahabarata semisal lakon Baratayuda Jayabinangun harus pakem. Tidak boleh dibuat cerita carangan semaunya kehendak dalang.
Beda dengan Suwoto yang ingin membuat cerita berbeda. Berinovasi berkreasi di luar kebiasaa. Out of the box. Wayang dan gamelan pun milik sendiri warisan ayahnya yang juga seorang dalang wayang purwa bernama Ki Balela Carita. Wayang dan gamelan seperangkat yang telah usang lama tidak dipanggungkan, akan dilakonkan saat khitan anak bungsu.
Dicarinya dalang kondang yang pakem dan spesialis lakon ruwatan. Dalang Ki Sabda Carita namanya. Suwoto ingin lakon wayang didramakan untuk menggambarkan kehidupan realita saat ini. Kehidupan berbangsa bernegara yang sarat intrik, perselingkuhan politik, asmara, hingga pengkianatan.
Suatu malam Suwoto berbincang dengan istrinya Sumiyatun tentang niatnya menggelar lakon wayang saat punya hajat mengkitankan anak bungsu, Ahmad Pangestu yang biasa dipanggil Mamat.
"Bune, Mamat sudah waktunya dikhitan. Bagaimana kalau liburan bulan depan kita adakan hajatan?" Suwoto membincang.
"Kok mendadak ta, Pakne? Bukankah hajatan butuh persiapan. Memerlukan biaya yang tidak sedikit? Duwitnya dari mana? Bukankah Mamat anak ontang anting? Adat Jawa mensyaratkan anak semata wayang harus diruwat," tukas Sumiyatun
"Biaya bisa diikhtiarkan, Bune. Rasanya tidak banyak. Gamelan dan wayang kita pakai milik sendiri peninggalan bapak. Tinggal mencari dalang, waranggana dan penabuh. Dan aku sudah punya gambaran dalang ruwat meski harus ke luar kota," Suwoto menyanggupi.
"Rencana mengambil lakon apa, Pak?"
"Dasamuka Raja,"
"Lho! Lakon untuk ruwatan biasanya Murwakala atau Kunjarakarna. Ini kok aneh pak?"
"Tidak apa-apa, Bune. Yang penting niat awalnya. Masalah lakon aku ingin menyesuaikan dengan keadaan jaman sekarang!"
"Ora umum kuwi, Pak," bantah Sumiyatun berbahasa Jawa.
"Tidak masalah, Bune. Ini biar menarik perhatian para penonton pandemen. Kanggo pasemon buat pemimpin di jaman edan ini,"
"Bukankah Rahwana tokoh kiri yang dibenci banyak orang. Kok malah kepengin seperti itu!"
"Lha itu, Bune, jelas ta. Sekarang ini yang banyak jadi pemimpin di banyak tataran adalah orang-orang angkara murka. Orang-orang kiri. Banyak pengadilan sesat. Wong ala dipuja, wong becik malah dikunjara. Ini biar jadi sindiran?!"
"Kalau bisa jangan ambil cerita itu Pak. Ora umum. Nanti malah jadi masalah. Kriwikan dadi grojogan." alok Sumiyatun.
" Jangan cemas, Bune, percayalah tidak akan terjadi apa-apa. Penonton akan tertarik dengan cerita yang aneh ini,"
"Terserah Pakne. Aku hanya ngelingake!"
Sumiyatun pada akhirnya pasrah apa kehendak suaminya. Dia tau watak karakter suaminya yang kaku tak mempan diberi masukan. Harus dituruti jika sudah punya kemauan. Jika tidak malah berpotensi jadi gegeran.
Suwoto sendiri sudah mantab hatinya nanggap dalang wayang purwa ruwatan Ki Sabda Carita. Apa yang diperingatkan istrinya hanya dianggap angin lalu. Hanya untuk pantes-pantesan. Setuju atau tidak bukan jadi patokan bahan pertimbangan.
Bergegas dia bertandang ke rumah dalang Ki Sabda Carita bersama istrinya pada suatu kesempatan.
"Ki, mohon ijin bade matur. Saya sekeluarga hendak punya hajat khitanan. Jika berkenan dan kebetulan tidak bersamaan jadwal tanggapan, panjenengan saya aturi mbabar pagelaran wayang di rumah saya," Suwoto membuka perbibcangan.
“Kapan?” Tanya Ki Sabdo Carita sambil menghisap rokok dalam-dalam.
"Bulan depan Ki. Hari tanggal menyesuaikan longgarnya panjengan," jawab Suwoto penuh harap.
"Ngersakne dalang saja atau dengan wayang dan gamelan?"
"Wayang dan gamelan sudah ada Ki. Peninggalan ayah saya yang dulu ketika masih hidup juga seorang dalang. Tinggal nambah waranggana, pangrawit dan dagelan bintang tamu," Suwoto bicara terang benderang. Ki Sabda Carita mengangguk paham.
"Mengambil lakon apa Pak Suwoto?"
"Dasamuka Raja, Ki,"
"Lho bukankah wayangan ini untuk ruwatan? Kok ambil cerita yang tidak lazim sesuai pakem?"
"Nggih Ki. Memang saya pengin mengangkat lakon ruwatan tidak pada umumnya. Biar beda dan menjadikan penonton penasaran. Sekaligus sindiran para pemimpin yang akhir-akhir ini cenderung ngumbar angkara murka. Menabrak konstitusi dan berbagai pranata yang ada,"
"Wah ini lakon nyerempet nyerempet bahaya Pak Suwoto. Alangkah baiknya ambil lakon sebagaimana ruwatan pada umumnya. Lakon Murwakala atau Kunjarakarna. Pripun?"
"Ngapunten Ki. Sudah jadi hasrat saya sejak awal, bernadar nggelar lakon yang kritis dan keluar dari pakem lakon pewayangan yang lazim. Panjenengan keberatan?"
"Rasa keberatan tetap ada Pak Suwoto. Ini era digital, sembarang konten gampang viral. Ditambah penguasa yang mudah mengkriminalisasi orang yang dianggap membuat kegaduhan di dunia nyata maupun jagat maya," Ki Sabda Carita wanti-wanti.
"Nah itu, Ki. Ini kesempatan mendayagunakan panggung wayang untuk kritik sosial," eyel Suwoto.
"Saya ini dalang pakem dan dalang ruwatan Pak Suwoto. Bukan dalang kontemporer yang cenderung suka membuat sensasi kepada penontonnya. Dalang yang senang membuat kegaduhan agar lekas terkenal dan populer,"
"Berarti panjenengan tidak siap manggung di acara hajatan saya,Ki?"
"Bukan masalah siap atau tidak siap Pak Suwoto. Tetapi lebih kepada bagaimana mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Ruwatan itu bernuansa tradisi seni budaya dan kepercayaan. Mangga ngleluri seni budaya,"
Ki Sabda Carita kukuh pada pendiriannya, sebagai dalang lakon pakem dan upacara ruwatan. Sumiyatun yang duduk di sebelah suaminya memberi sasmita. Berkedip ketika beradu pandang. Kaki kanannya njawil kaki kiri suaminya. Memberi sinyal, agar tidak usah ngeyel atau membantah perkataan Ki Sabda Carita.
Suwoto paham isyarat tersebut. Seketika lebih banyak diam mendengarkan petuah dalang sepuh tersebut dengan seksama. Mengalah berargumentasi nan melukai hati sebagai rasa menghormati orang yang memiliki titisan dalang sakral dan kekuatan spiritual.
Sementara dalam relung hati paling dalam, Suwoto tidak bisa memilih dalang selain Ki Sabda Carita yang dipandang bukan dalang biasa tapi memiliki marwah dalang sejati. Maka sebelum pamit pulang Suwoto ingin memastikan kesanggupan Ki Sabda Carita untuk meruat anaknya.
"Bagaimana, Ki? Panjenengan siap meruwat anak saya nggih?" tanya Suwoto serius.
"Siap Pak Suwoto, tapi lakon tetap yang sesuai dengan adat tradisi ruwatan,"
"Inggih, Ki. Berarti ambil lakon Murwakala,"
"Leres, insya Allah saya siap menggelar lakon tersebut bersama waranggana dan pengrawit dari sanggar Sarwa Guna,"
"Matur nuwun, Ki. Saya tunggu kehadiran panjenengan di acara ngrowa ngruwat anak saya tersebut,"
Ki Sabda Carita mengangguk tanda setuju, dengan sunggingan senyum menawan meski giginya sudah tinggal beberapa. Suwoto mengimbangi juga dengan senyuman meski dipaksakan. Sesungguhnya hatinya getir tersebab kemauannya yang tak terealisasi.
Tapi Suwoto tetap punya agenda tersembunyi dibalik kemauannya yang tak direstui sang dalang. Skenario kejutan untuk memaksakan kemauannya demi kritik sosial di panggung pagelaran wayang bulan depan.
Mendekati hari hajatan, Suwoto tidak hanya mempersiapkan ubarampe gawe ruwatan dan panggung pagelaran, tapi juga mengundang teman komunitasnya di perkumpulan sastrawan.
Suwoto yang putra dalang memang tidak meneruskan bakat ayahnya di bidang pewayangan. Namun jiwa seni budayanya terejawantah di dunia sastra, terkhusus sastra Jawa. Maka acara hajatan menjadi momentum untuk menghadirkan para teman sastrawan untuk ikut menonton semalam suntuk.
Untuk suksesnya acara, segala piranti yang disewa tidak sembarangan. Meski bukan sound horeg, audio yang dipajang adalah pelantang suara terbaik di daerahnya sekitar Tuban. Demikian juga gebyar lighting yang disiratkan di saat malam. Meski biayanya menggelembung, waranggana berbusana seragam dengan warna yang sama, demikian juga para pengrawit yang pegang gamelan.Wayang dan gamelan peninggalan ayahnya konon punya kekuatan magis dengan kwalitas bagus dieranya. dan lama tak digunakan. Dibuka dibersihkan dengan upacara khusus. Diperbaharui dengan tintingan nada gamelan agar suara tidak blero atau sumbang.
Menjadi kejutan, Suwoto, istrinya, anak yang dikhitan, keluarga, hingga pelandang dipacaki busana wayang dengan ketokohan berbeda. Suwoto berpenampilan ala tokoh Rahwana atau Dasamuka. Istrinya berbusana Sarpakenaka. Anaknya dipacaki tokoh wayang Dursasana. Terima tamu atau pelandang dengan tokoh kiri yang berbeda perannya.
Sungguh malam dengan pagelaran spektakuler. Acara pagelaran wayang sekaligus ruwatan anak tunggal. Anak semata wayang yang digadang gadang.
Orang yang datang terheran-heran menyaksikan suasana yang tidak biasa. Bukan tanggapan wayang pada umumnya. Semua berdecak kagum melihat segala sudut pertunjukan.
Gamelan sudah ditabuh mengalun nganyut-anyut menyentuh suasana jiwa. Swarawati atau waranggana dengan gending yang indah menambah suasana merdu ayem tentrem. Rasa damai menghipnotis para pandemen yang menonton dengan khusuk. Para seniman, budayawan, hingga sastrawan luar daerah banyak yang turut hadir menyaksikan.
Sementara di dalam rumah, Suwoto resah. Berjalan mondar mandir dengan hati gelisah. Tersebab hingga pukul sembilan malam dalang Ki Sabda Carita belum juga datang. Pagelaran hanya diisi gending-gending panglipur. Diantara jejeran wayang lengkap di atas keber layar putih dan temaram blencong lampu sorot menerawang lakon wayang.
Untuk mengisi kekosongan panggung atas keterlambatan sang dalang. Seperti gagasan awal yang dirahasiakan oleh Suwoto, ia akan membacakan geguritan atau puisi Jawa untuk mengawali pagelaran. Puisi yang bermakna kritik sosial atas realita kekinian.
Sementara lampu padam, suana gulita. Ketika Suwoto sudah muncul di atas panggung dengan mengenakan busana Dasamuka, seketika lampu menyala membenderang. Sorak-sorai penonton membahana. Gending pengiring mengalun mewarnai pembacaan geguritan.
Dengan suara bergetar, Suwoto membaca kata demi kata.
"Wayang dan dalang//Akulah Dasamuka sang penguasa//pemenang panggung depan pun belakang//meski dengan angkaramurka//rakyat akan mendapat bahagia//Akulah wayang bukan sembarang wayang// dalang segala dalang"
Gelegar suara Suwoto tiba-tiba tercekat. Tak kuasa berkata-kata. Didepannya seperti sedang digerudug wayang wayang yang semula tertancap diatas potongan pohon pisang. Bayangan itu begitu nyata bak kejadian beneran. Ratusan wayang mengerubuti menyerang dirinya. Dunia tiba-tiba serasa gelap meski di sekelilingnya penuh cahaya warna warni.
Tak lama kemudian Suwoto semaput jatuh di atas panggung. Suara jeritan orang-orang mendekati tempat kejadian.Hendak menolong yang sedang terkapar tak sadarkan diri.
Keanehan terjadi, secara tiba-tiba gending berubah irama. Gending megatruh tanda belasungkawa kematian. Megatruh bermakna pisahnya ruh dari badan. Adalah sebuah kematian.
Benar saja, itu perlambang karena tak lama berselang Suwoto dikabarkan berpulang. Meninggal dunia di atas panggung pagelaran. Mati oleh ratusan bayangan wayang yang menyerangnya secara masif dalam rentang waktu hampir bersamaan.
Saat jasad Suwoto yang telah tak bernyawa di atas panggung digotong beramai-ramai ke dalam rumah utama. Yang lebih mengejutkan dari luar ada kabar mencengangkan. Dalam perjalanan, dalang Ki Sabda Carita dikabarkan mengalami kecelakaan tragis. Kendaraan yang ditumpangi menabrak truk tronton didepannya. Dalang sepuh yang duduk di samping kiri sopir tejepit dan meninggal seketika.
Suasana perhelatan wayang purwa malam itu menjadi suasana histeris. Suara tangis dan jeritan berbaur jadi satu dengan irama gending megatruh yang secara perlahan berhenti. Kondisi chaos, orang-orang tak tau harus berbuat apa. Ada yang tergesa masuk rumah memastikan kematian Suwoto. Sebagian yang lain saling bertanya dimana tempat kecelakaan Ki Sabda Carita dan sekarang di mana keberadaannya.
Malam jumat di bulan Suro, sudah lingsir wengi, orang-orang masih tertunduk sedih. Terbayang manusia hanyalah paraga wayang yang lakon ceritanya menjadi purbawasesanya Sang Maha Dalang. Gusti Kang Maha Wikan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana