Oleh:
Nono Warnono
Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)
Kelindan anasir hidup pun kehidupan terus merakit menyulam asa. Pintalan bait jaman mempuisikan berbagai tapak cerita kehidupan anak manusia. Diantara wolak-walik bebrayan, lompatan peradaban jagat nyata pun aras ratmaya begitu cepat melintas. Perspektif cakrawala kasat mata dan sudut pandang mayapada pijakan manusia kuasa berinteraksi di dua alam tanpa batas realita. Gulita dan benderang tak menghalang orang-orang tetap mengembara panjang.
Era dimana profesor, pesohor, penggede kantor, hingga pelakor nyaris tiada beda nan signifikan dalam kiprah. Mereka bisa saling menipu dalam memainkan watak pun peran di jagat teknologi yang makin kehilangan pranata. Hidup bak kelana di hutan belantara digital dengan hukum rimba. Mereka segendang sepenabuhan menapaki hidup menisbikan Tuhan. Mereka menjadikan artificial intelegence sebagai Pengeran penuntun hidup. Betapa mereka pada akhirnya mentuhankan diri dalam berbagai dimensi langgam hidup. Otomatisasi dan dehumanisasi bak postdunia telah terjadi sebelum kiamat memungkasi.
Akan halnya Susanti, wanita muda nan bingung bimbang ditinggal suami tanpa kabar berita. Disebut bersuami, nyatanya tak menggambarkan bagaimana layaknya orang berumah tangga sejati. Disebut janda, realitanya masih ada ikatan pernikahan yang belum ada proses perceraian. Perempuan desa yang tak banyak makan bangku sekolahan namun ketrampilan mendayagunakan berbagai platform media sosial tak kalah dengan kemampuan anak kuliahan. Teknologi digital yang konon kata orang bisa berkontribusi positif, bisa jadi negatif manakala salah tata kelola. Dan akan mereduksi nilai dan kontra produktif di tengah bebrayan. Jejaring sosial yang manaka tak waspada akan menjaring diri.
Tik tok! Malam ini hujan deras telah mereda, namun tetes air dari atas genteng rumahnya yang sederhana membawa suara kegelisahan menembus jiwa. Tik tok, suara titik air kecil besar menetes seirama detak jantung yang nitir. Detak jantung yang beberapa hari ini terasa tak biasa tersebab daya tarik perkenalannya dengan lelaki muda di akun sosial media. Tik, ada titik ketertarikan hasrat netizen nan betapa peduli padanya. Tok, rasa gamang tatkala eling suaminya Supali yang hingga kini tak dapat ditemui meski telah bulan demi bulan dicari dengan berbagai cara. Suami nan telah memberinya dua anak sejatinya hanya seorang petani sahaja, hilang bak ditelan bumi tanpa sabab musabab pasti.
Celakanya, suami Susanti tak hanya minggat tanpa kabar berita, namun juga tanpa mengirimkan nafkah lahir batin. Lebih nelangsa lagi, dijaman Indonesia gelap keserakahan oligarki orang susah cari rejeki, dia telah ditinggali dua anak yang butuh sandang pangan dan pendidikan. Anak anaknya yang hanya dinahkahi dari nungsang njungkir menjual tenaga sebagai buruh cuci.
Resah gelisah membuncah di setiap langkah. Desah hela napas Susanti setiap kali menapak jalan buntu kehidupan. Betapa kadang kondisi keterpurukan akan menyeret orang dalam laku kenistaan tanpa pikir panjang nir akal sehat. Maka ketika sejurus kemudian hadir netizen bernama Ony, warga Lamongan DM di akun media sosialnya tak ayal gegas direspon antusias sarat makna. Untuk membangun citra dan kekaguman profil, dipakailah nama samaran dalam akun media sosialnya dengan tetenger Wahyu Dedi Christiyani. Dengan editan menggunakan foto orang lain nan sangat jelita, menjadikan narsisnya di jagat maya begitu menggoda.
Jejaring tipu daya tersebut bukan terjadi baru kali ini. Banyak sasaran yang telah menjadi korban kejuligannya. Uang hasil apus-apus tersebut lebih banyak didapat dari orang-orang iseng yang juga sudah lalu yuswa. Tetua yang banyak tingkah di jagat maya. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi. Susanti kadang senyum-senyum sendiri setelah dapat menjerat makhluk-makhluk tak tahu diri.
Wajah ayu Susanti di jagat maya menjadikan Ony begitu tergila-gila tanpa pertimbangan ruwet dan njlimet. Ketertarikan yang nampak begitu membabi buta tanpa kewarasan akal secara proporsional. Tapi, itulah beda era kiwari dan kawuri, jaman dimana ekspektasi saban manusia direalisasi meski hanya wujud keindahan semu dan lukisan mimpi.
Hingga seiring waktu keduanya berkenalan berinteraksi secara intens di media sosial. Seperti biasa, tak lupa bertukar nomor WhatsApp demi saling balas ungkapan rasa sarat keindahan. Memang di era akhir jaman seperti sekarang ini, tak sedikit orang menyulam asmara terasa indah hanya sebatas di dunia angan. Sebatas dengan nama samaran dalam akun media sosial yang justru membuat gelora rasa penasaran semakin bertumbuhkembang.
Dus selama menjalin hubungan kemesraan Susanti dengan Ony tidak pernah bertemu face to face. Nir tatap muka, bahkan tidak pernah atau menghindari melakukan video call dalam berkominikasi. Betapa Susanti selalu menemukan alasan agar tidak diketahui wajah aslinya. Hanya di ranah sesinglon. Agar tak dikorek identitas profil pun jejak diri yang sesungguhnya.
Susanti yang hidup di lingkungan pelosok desa, tamatan SMP yang dimasa mudanya penah menjadi asisten rumah tangga di kota, ternyata tidak hanya pintar mengelabui target orang dengan memamerkan foto wajah orang lain. Pun dengan bujuk rayunya dia juga sukses memerdayai Ony untuk mmperoleh keuntungan finansial. Tak pelak, Ony pada akhirnya mengirimkan sejumlah uang. Bukan hanya sekali dua kali, namun acap kali. Apapun yang dipinta Susanti dipenuhi dengan senang hati. Kadang mengemuka tanda tanya besar dalam pikirannya. Dengan mudahnya Ony menuruti apa yang dimau. Ini memang beda dengan target sebelumnya. Ini target kakap yang kelihatan tajir, masih muda belum berumah tangga.
Meskipun Ony mengenal wajah Wahyu Desi Christiyani dan nomor rekening yang ditransfer milik Susanti dia tetap percaya. Ini bukan hipnotis, ini bukan guna-guna. Memang narasi dan kecanggihan teknologi telah menggantikan peran dukun dan paranormal untuk mengguna-guna dan menghipnotis siapapun yang menjadi target sasaran. Tidak butuh merapal japamantra, cukup dengan berulah jari di jimat android dalam genggaman segala dapat direalisasi. Jaman di mana manusia semakin tereduksi dalam mengutamakan kebenaran. Cenderung menghalalkan segala cara dalam mewujudkan tujuan hidupnya. Begitu gumam hati Susanti yang beresonansi dalam diri.
Peristiwa anomali ini ternyata begitu dinikmati oleh para pelakunya. Bahkan Ony bergegas ingin melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang pernikahan. Meskipun urusan asmara seharusnya dipastikan secara fisik, tak hanya di ranah ratmaya. Ini keunikan yang di luar nalar, mahligai rumah tangga hanya interaksi lewat WatsApp, telepon, dan TikTok. Susanti semakin penasaran namun menikmati. Platform TikTok yang dirasa telah menjadi mahligai rumah tangga di dunia maya. Mahligai virtual yang menjadi ATM menghasilkan finansial menjanjikan hanya bersenjata tipu daya.
"Dik, Sus rasanya pertemanan kita sudah cukup lama, bagaimana kalau hubungan ini dilanjutkan lebih serius," tutur Ony pada suatu kesempatan via telpon.
"Kenapa kok tergesa gesa, Mas. Bukankah kita masih butuh waktu untuk lebih saling mengenali pribadi masing-masing?!" respon Susanti di balik telpon.
"Aku rasa sudah lebih dari cukup perkenalan kita, Dik. Aku sudah siap lahir batin untuk memasuki ikatan rumah tangga," sambungnya antusias.
"Bagaimana ya? Aku juga belum memperkenalkan diri dengan keluarga besar Mas Ony," kilahnya mencoba berkelit.
"Aku sudah bicara dengan orang tua bahkan keluarga yang lain. Mereka semua setuju meski kita hanya berkenalan lewat media sosial TikTok. Tidak ada yang keberatan. Jaman sekarang sudah lumrah bertunangan di dunia maya," desak Ony tanpa ragu.
"Kalau demikian besar tekat meresmikan hubungan kita, saya manut apa yang Mas Ony rencanakan," jawab Susanti dengan raut tegang.
Baginya ini adalah situasi pelik yang tidak diinginkannya. Ketika kepura-puraan yang hanya bertendensi finansial semata berubah menjadi interaksi yang serius, dia merasa akan menjadi mala-petaka besar. Bagaimana tidak, dia adalah wanita bersuami meski tak jelas statusnya. Padahal di mata Ony ia adalah wanita lajang yang belum bersuami apalagi beranak. Apa jadinya jika semuanya nanti terungkap. Simalakama. Tiba-tiba dia merasa bersalah. Telah salah langkah. Ada penyesalan yang muncul dalam relung hati paling dalam. Namun kini terjebak tanpa ada jalan keluar.
Tik tok! Malam saat suara jarum jam dan detak jantungnya kembali terdengar bersamaan. Dadanya gemuruh, badan menggigil. Ada rasa ketakutan hinggap dalam dirinya. Dia tak dapat memejamkan mata. Betapa telah bermain api. Dan hal tersebut adalah kesalahan besar dalam hidupnya. Dipandanginya wajah dua anaknya yang tengah tertidur pulas. Rasa welas, bagaimana harus menghidupi buah hati meski dengan jalan menerabas pranata negara dan agama.
Ketakutan itu terasa semakin mengerikan karena apa yang tengah terjadi belum diketahui oleh sanak keluarganya. Segalanya masih menjadi rahasia yang disimpan sendiri. Untuk memulai terbuka kepada keluarga, Susanti masih belum memiliki cara yang tepat. Sanggarunggi, kata orang jawa. Khawatir jika malah menjadi sumber amarah keluarga dan handai taulan. Bisa jadi malah akan dihakimi keluarga sebagai laku kriminal yang membahayakan bahkan memenjarakannya di balik terali besi.
Pascakesepakatan mereka berdua lewat telpon. Ony dengan rasa gembira nan membuncah segera menyampaikannya kepada keluarga besar. Hal tersebut berkali diungkapkan kepada Susanti melalui WA dan telepon. Terkait dengan kesepakatan hari pelaksanaan dan tempat ijab kobul. Susanti pura pura siap ditempati. Di rumahnya di Semanding Kabupaten Tuban. Namun pada akhirnya ijab kobul dan resepsi pernikahan dilaksanakan di rumah Ony wilayah Lamongan. Sekalikus hari tanggal dan bulan pelaksanaan.
Sebagai anak tunggal, resepsi pernikahannya akan digelar secara besar besaran. Rencana spektakuler. Ayah ibunya, Susanto- Endang Setyawati menuruti apa kemauan anak semata wayang. Persiapan acara tersebut telah dirancang secara matang. Mulai dekor, perias, terop, hingga hiburan sudah dibooking. Dekorasi dan terop memilih yang sudah kondang satu paket dengan perias Hesti. Konsumsi menghubungi catering Cita Rasa dari Bojonegoro yang sudah terkenal. Begitu juga hiburan elekton yang dibarengi vokalis penyanyi dangdut yang sering viral di jagat ratmaya.
Lagi-lagi itu adalah narasi Ony yang membumbungkan angan Susanti. Meski dia sendiri belum tahu apa dimana dan bagaimana yang diungkapkan oleh Ony tersebut benar ataukah hanya sebatas bualan yang memabukkan angan. Atau bahkan jebakan?
Dengan segenap keberanian, padha akhirnya Susanti berterus terang pada kedua orang tuanya. Bahwa telah mengiyakan untuk menikah kembali dengan lelaki lajang bernama Ony. Berkenalan dan bersepakat melalui media sosial hingga menjelang berlangsungnya pesta perkawinan. Meski Susanti sadar apa yang dikemukakan di hadapan kedua orang tuanya adalah hal yang semestinya mustahilterjadi. Bagaimana mungkin wanita bersuami harus menikah lagi dengan lelaki lain.
“Kau ini waras atau tidak Sus?! Bukankah engkau masih bersuami. Kok akan menikah lagi dengan laki-laki lain?” Samijo ayahnya memandang tajam beraut amarah.
“Eling ndhuk, setan mana yang merasukimu?!” Saminten ibunya geram.
Susanti terdiam seribu bahasa. Mematung tak kuasa berkata-kata. Dikuatkan hatinya untuk terlihat tegar. Namun begitu sanak saudaranya yang lain yang rumahnya berdekatan segera datang mengerubutinya, dia menjadi pesakitan. Suara mempersalahkan bercampur amarah membucah mencecar dirinya.
Tanpa sepatah kata, tiba-tiba Susanti meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Tak merespon kata-kata kasar dari sanak saudaranya. Bahkan meninggalkan kedua anaknya tanpa dihiraukan. Minggat adalah salah satu upaya untuk menjauh dari suara-suara sumbang sarat hujatan. Saat ini dari keluarga, lain hari pasti masyarakat di lingkungannya akan bersikap sama. Pengadilan sosial yang bebannya terasa lebih berat secara fisik terlebih kejiwaan.
Kondisi ini diceritakan kepada Ony melalui media soaial. Lelaki yang dikenal lewat TikTok itu begitu khawatir. Kepergiannya ke tempat lain malah akan menyusahkannya mencari, berkomunikasi dan berinteraksi.
“Kita harus ketemu,” suara Ony di balik telepon.
“Jangan sekarang Mas. Kita cari kesempatan yang baik,”
“Hari pernikahan kita sudah dekat jangan sampai kita gagal mewujudkannya,”
Dalam kondisi terjepit Susanti terpaksa mengabulkannya apa pinta Ony. Meski dia sadar rahasia yang selama ini disembunyikan akan terkuak di dunia nyata. Tapi apa boleh buat, ini lebih baik dari pada diadili dan dibenci keluarga dan masyarakat di lingkungannya yang lebih kejam.
Dalam bayangan Susanti apa yang selama ini dirasa, Ony adalah orang yang sabar dan murah hati. Orang yang bisa menerima orang apa adanya meski tak sesuai dengan apa yang pernah disampaikannya. Meski pada akhirnya menemui kenyataan bahwa dirinya tak sejelita dalam foto yang dipajang dalam akun medsosnya. Meski ia hanya awu-awu di balik belantara media sosial.
Rumah makan yang disebut oleh Ony di kota Tuban untuk bertemu telah diketahui lokasinya. Susanti datang dengan bayangan akan bertemu empat mata dengan orang yang selama ini gandrung kepadanya di dunia maya. TikTok yang jadi wahana perjumpaan ratmaya bak mahligai dalam sorga.
Susanti telah sampai di rumah makan “Omah Pedas”. Duduk dikursi bundar tempat para pelanggan menunggu pesanan menu makanan. Sebentar buka-buka daftar menu sambil menunggu orang bernama Ony.
Terperanjat Susanti. Ternyata yang datang beberapa orang berseragam polisi. Salah satu menyebut dirinya Ony. Menangkap dan memasukkannya ke dalam mobil polisi. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana