RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bagi masyarakat Bojonegoro, ada satu hal yang menjadi penanda sahih sebuah hajatan pernikahan: bungkusan besek atau kotak nasi yang dibawa pulang oleh para tamu. Di dalamnya, terhampar hidangan ikonik dengan aroma khas yang membangkitkan memori, yaitu Sego Buwuhan.
Namun, Sego Buwuhan bukanlah sekadar nasi berkat. Ia adalah puncak dari sebuah prosesi sosial yang sarat makna, perwujudan gotong royong, dan penanda kehangatan komunal. Tak heran, hidangan istimewa ini telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Membongkar Isian Lengkap Sego Buwuhan
Sego Buwuhan memiliki komposisi lauk-pauk yang relatif standar, sebuah paket lengkap yang cita rasanya begitu familiar di lidah masyarakat Bojonegoro. Isiannya yang royal biasanya terdiri dari:
-
Nasi Putih: Tentu saja, sebagai dasar utama.
-
Daging Sapi Bumbu Gelap: Potongan daging sapi yang dimasak dengan bumbu kental berwarna gelap pekat, menghasilkan rasa manis dan gurih yang meresap.
-
Momoh Tempe: Ini adalah salah satu lauk paling khas. Tempe yang dimasak dengan bumbu pedas dan santan encer, seringkali menyisakan kuah yang medok dan sedikit berminyak.
-
Sambal Goreng Kentang & Ati: Kombinasi klasik kentang dadu dan ati ampela yang dimasak bumbu merah pedas.
-
Mie Kuning Goreng: Mi yang digoreng dengan bumbu sederhana, memberikan tekstur kenyal.
-
Serundeng: Kelapa parut yang digoreng kering dengan bumbu, menambah rasa gurih dan tekstur renyah.
-
Acar: Irisan timun dan wortel sebagai penyeimbang rasa.
Lebih dari Makanan: Inilah Filosofi 'Rewang' dan 'Buwuh'
Keistimewaan Sego Buwuhan tidak terletak pada resepnya semata, melainkan pada proses di baliknya. Hidangan ini adalah hasil dari dua tradisi luhur:
-
Rewang atau Sinoman: Beberapa hari sebelum hari-H, para tetangga, kerabat, dan sahabat akan datang ke rumah sohibul hajat untuk membantu memasak dalam jumlah besar. Para ibu memasak di dapur, sementara para bapak (sinoman) mendirikan tenda dan melayani tamu. Inilah esensi gotong royong yang sesungguhnya. Sego Buwuhan lahir dari keringat dan kebersamaan ini.
-
Buwuh: Sego Buwuhan diberikan sebagai bentuk "terima kasih" kepada para tamu yang telah datang memberi doa restu dan sumbangan (buwuhan). Tradisi buwuh adalah sistem resiprositas sosial, di mana sumbangan akan dicatat dan dikembalikan dalam jumlah serupa atau lebih saat si tamu ganti memiliki hajatan. Ini adalah cara masyarakat menjaga ikatan sosial.
Pengakuan Nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI telah menetapkan Sego Buwuhan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pengakuan ini diberikan bukan hanya karena kelezatan kulinernya, melainkan karena ia merepresentasikan satu paket utuh yang mencakup:
-
Pengetahuan Tradisional: Keterampilan memasak lauk-pauk khas dalam porsi besar.
-
Adat Istiadat Masyarakat: Terikat erat dengan siklus hidup penting seperti pernikahan.
-
Nilai-Nilai Sosial: Mengandung makna gotong royong, kebersamaan, dan resiprositas.
Bertahan di Tengah Gempuran Katering Modern
Di era modern, banyak orang memilih layanan katering yang praktis untuk acara pernikahan. Namun, di banyak wilayah Bojonegoro, terutama di pedesaan, tradisi rewang dan menyajikan Sego Buwuhan masih bertahan kuat.
Mengapa? Karena tradisi ini menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dari katering: rasa kebersamaan dan kepemilikan komunal atas sebuah perayaan. Proses memasak bersama mempererat tali silaturahmi, sementara Sego Buwuhan yang dibawa pulang menjadi tanda konkret dari ikatan sosial tersebut.
Setiap suapan Sego Buwuhan adalah suapan cerita tentang tetangga yang membantu, tawa di dapur umum, dan hangatnya kebersamaan. Inilah warisan yang terus hidup, menjadikan setiap hajatan di Bojonegoro lebih dari sekadar pesta, melainkan sebuah perayaan gotong royong. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko