Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dari Reog hingga Jamasan Pusaka: 7 Tradisi Sakral Malam 1 Suro di Jawa Timur

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 27 Juni 2025 | 03:01 WIB
Ilustrasi keris.
Ilustrasi keris.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Malam 1 Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah, memiliki makna sakral bagi masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar pergantian tahun, malam ini diyakini sebagai momentum spiritual untuk introspeksi, pembersihan diri, dan memohon keselamatan. Di Jawa Timur, tradisi menyambut malam 1 Suro begitu kaya—penuh simbolisme dan semangat kebersamaan.

Pada tahun 2025, malam 1 Suro jatuh pada Kamis malam, 26 Juni, dan berlangsung hingga Jumat sore, 27 Juni. Berikut tujuh tradisi unik yang mewarnai malam suci ini di berbagai wilayah Jawa Timur.

1. Baritan di Lereng Gunung Raung, Banyuwangi

Baritan merupakan ritual tolak bala yang digelar di kaki Gunung Raung. Warga desa secara kolektif menyusun takir (nasi dan lauk pauk dalam wadah daun pisang) di atas tikar panjang. Setelah doa bersama, makanan disantap ramai-ramai sebagai simbol kebersamaan dan permohonan keselamatan.

Ritual ini diyakini sebagai warisan leluhur untuk menjaga harmoni dengan alam, sekaligus bentuk sedekah bumi.

2. Grebeg Suro dan Festival Reog di Ponorogo

Ponorogo terkenal dengan Grebeg Suro, sebuah perayaan kolosal yang menampilkan kirab pusaka, Festival Reog Nasional, dan doa bersama di Makam Batoro Katong—pendiri Ponorogo.

Acara ini menjadi ajang spiritual sekaligus pertunjukan budaya yang menarik ribuan pengunjung, memperkuat identitas Ponorogo sebagai kota Reog.

3. Ritual Malam Suro di Gunung Lawu, Magetan

Setiap malam 1 Suro, ratusan peziarah mendaki Gunung Lawu, salah satu gunung yang dianggap keramat di tanah Jawa. Mereka melakukan semedi, tafakur, atau ritual pribadi di puncak atau pos-pos tertentu.

Gunung Lawu diyakini sebagai tempat petilasan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang konon menghilang secara spiritual di sini. Malam Suro menjadi saat penting untuk berdoa dan mencari “ketenangan batin”.

4. Jamasan Pusaka di Surabaya

Tradisi jamasan atau memandikan benda pusaka juga digelar di beberapa titik di Surabaya, baik oleh komunitas keratonan, spiritualis, maupun kolektor pusaka. Prosesi ini melibatkan air kembang, sesaji, dan doa tertentu.

Tujuannya bukan sekadar merawat fisik benda, tetapi menyucikan energi dan menghormati warisan leluhur.

5. Ruwat Agung Nuswantoro di Mojokerto

Sejak 1959, Mojokerto rutin menggelar Ruwat Agung Nuswantoro, sebuah ritual besar untuk meruwat (membersihkan) puluhan benda pusaka dari berbagai daerah. Kegiatan ini diiringi gamelan, wayang, dan prosesi simbolik pengembalian harmoni alam dan batin.

Tradisi ini terbuka untuk umum dan sering menarik perhatian pelancong budaya dan pencinta spiritualitas Jawa.

6. Sedekah Bumi & Ritual Pusaka di Gunung Kawi, Malang

Gunung Kawi dikenal sebagai salah satu pusat spiritual di Indonesia. Menjelang 1 Suro, berbagai acara digelar: sedekah bumi, pertunjukan wayang kulit, dan jamasan pusaka di sekitar kompleks petilasan Eyang Jugo dan Eyang Sujo.

Ribuan orang dari berbagai latar belakang berziarah ke sini, menjadikannya sebagai tempat refleksi dan permohonan rezeki.

7. Tirakatan di Musala dan Rumah-Rumah

Meskipun tidak sekompleks tradisi di tempat lain, tirakatan malam 1 Suro masih lestari di banyak desa. Warga berkumpul di mushola atau rumah, membaca doa bersama, dzikir, dan mengenang ajaran leluhur.

Kegiatan ini menjadi ruang kontemplatif yang sederhana namun mendalam, sekaligus menjaga kebersamaan antarwarga. (*)


Sumber Referensi: Detik | JatimTimes 

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Jamasan #tirakatan #Budaya #Keris #suro #reog #Tradisi