Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tradisi Menyambut Malam 1 Suro: Harmoni Antara Budaya Jawa dan Nilai Islam

Hakam Alghivari • Rabu, 25 Juni 2025 | 22:35 WIB
Tradisi keraton Jogjakarta ketika malam satu suro. Ribuan orang akan melakukan tapa bisu dengan pakaian khas jawa sambil berjalan.
Tradisi keraton Jogjakarta ketika malam satu suro. Ribuan orang akan melakukan tapa bisu dengan pakaian khas jawa sambil berjalan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Malam 1 Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharram, bukan hanya soal pergantian kalender Jawa dan Islam, tetapi juga titik refleksi bagi banyak masyarakat Jawa.

Berbagai daerah dari Solo, Yogyakarta, hingga Jepara, memaknai malam ini dengan ritual penuh nilai spiritual dan simbolik.

Berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi ini bukan semata soal ritual, tetapi juga soal bagaimana manusia berdialog dengan Tuhan, alam, dan para leluhur.

1. Kirab Pusaka dan Kebo Bule

Pada malam 1 Suro, kota-kota keraton seperti Surakarta dan Yogyakarta menggelar kirab pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap benda-benda bersejarah yang diwarisi dari para leluhur.

Salah satu daya tarik dari ritual ini ialah kehadiran kebo bule keramat yang mengiringi iring-iringan pusaka dari Keraton Surakarta.

Dalam suasana hening dan penuh khidmat, masyarakat memaknai kirab ini sebagai bentuk usaha memohon berkah dan perlindungan dari Allah SWT agar tahun yang baru membawa kebaikan bagi semua.

Selain itu, iring-iringan ini juga membawa nilai simbolik yang dalam bagi masyarakat Jawa. Mereka meyakini bahwa benda pusaka bukan hanya simbol identitas kerajaan, tetapi juga bentuk komunikasi batin dengan para pendahulu.

Oleh sebab itu, kirab pusaka bukan hanya soal pameran benda antik, tetapi juga bentuk refleksi spiritual bagi siapa saja yang menyaksikan.

2. Tapa Bisu dan Tirakatan

Selain kirab pusaka, malam 1 Suro juga lekat dengan tapa bisu, yaitu ritual berjalan bersama mengelilingi area tertentu tanpa berkata sepatah kata pun. Ritual ini biasa dilakukan di daerah sekitar Keraton Yogyakarta dan Surakarta, tempat para peserta hening dan memusatkan batin untuk memohon keberkahan dari Allah SWT.

Kesunyian ini dipercaya dapat membawa ketenangan jiwa dan memungkinkan manusia kembali merenung di tengah kesibukan dunia.

Selain tapa bisu, terdapat juga tirakatan, yaitu bentuk renungan dan doa bersama yang berlangsung sepanjang malam. Masyarakat, dari berbagai lapisan usia, memanjatkan doa, membaca Al-Qur’an, atau menyenandungkan shalawat Nabi hingga menjelang fajar.

Ritual ini bukan hanya soal merayakan tahun baru, tetapi juga bentuk kesalehan kolektif yang membawa semangat positif bagi setiap pribadi dan komunitas.

3. Kirab Gunungan dan Sedekah Hasil Bumi

Di daerah Jepara dan beberapa daerah lain di Jawa, malam 1 Suro juga diwarnai dengan kirab gunungan dan sedekah hasil bumi. Berbagai jenis hasil pertanian, mulai dari padi, sayur, hingga buah-buahan, disusun membentuk gunungan, diarak bersama sebagai simbol syukur atas rezeki yang Allah SWT berikan. Ritual ini juga membawa pesan solidaritas dan kesatuan antaranggota masyarakat.

Setelah kirab selesai, gunungan itu kemudian dibagikan kepada warga yang hadir. Nilainya bukan hanya soal makanan yang dapat dikonsumsi, tetapi juga soal keberkahan dari semangat berbagi dan saling memberi yang diajarkan oleh Islam.

Ritual ini mengajarkan nilai bahwa rezeki tidak hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada sesama, khususnya yang membutuhkan.

4. Jenang Suran, Dupa, dan Tawasul

Saat malam 1 Suro, banyak keluarga Jawa membuat jenang suran — bubur dari berbagai bahan yang disajikan sebagai simbol kesederhanaan dan bentuk syukur kepada Allah SWT.

Jenang ini juga dipercaya membawa pesan agar manusia tetap tawadhu dan sabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup yang datang dari Sang Khalik.

Selain itu, pembakaran dupa dan pembacaan tawasul juga biasa dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi para leluhur dan wali Allah. Masyarakat Jawa memandang ini sebagai bentuk komunikasi batin antar-generasi dan momen memohon ampun bagi yang telah mendahului.

Nilai yang diwariskan dari ritual ini ialah kesadaran bahwa manusia tidak pernah sendiri dan selalu berada dalam rantai panjang nilai-nilai kebaikan.

5. Larangan, Nilai Reflektif, dan Kesalehan Sosial

Pada malam 1 Suro, banyak daerah juga memegang nilai reflektif dengan menjauhi berbagai bentuk kesenangan duniawi yang dapat merusak makna spiritualitas. Bepergian jauh, membuat pesta besar, atau menggelar acara yang penuh kemewahan dianggap kurang sesuai dengan semangat malam ini.

Alasannya bukan soal pamali semata, tetapi soal menghargai momen sakral untuk merenung dan berdialog dengan Allah SWT.

Seiring dengan itu, para ulama dan tokoh agama mengingatkan bahwa bulan Muharram juga membawa pesan kesalehan sosial bagi umat Islam. Momen ini dijadikan titik balik untuk memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, memperbanyak sedekah, dan menjauhi hal-hal yang dapat merusak akidah.

Malam 1 Suro tidak hanya menjadi warisan budaya Jawa, tetapi juga momentum bagi umat Islam untuk memperkokoh iman dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Tradisi Sawuran Jadi Pertanda Masa Panen Tiba di Boleran, Masyarakat Arak Gunungan dan Lempar Beras

Tradisi malam 1 Suro adalah bentuk harmonisasi nilai Islam dan warisan leluhur Jawa. Berbagai ritual yang dijalankan — dari kirab pusaka hingga jenang suran — bukanlah bentuk kesyirikan, tetapi simbol refleksi spiritual, penghormatan terhadap leluhur, dan penguatan nilai-nilai kebaikan dalam agama.

Saat ini, di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, makna dari setiap ritual ini tetap relevan untuk dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang: bahwa dari kesunyian, kesederhanaan, dan nilai kebersamaan, manusia dapat menemukan keberkahan dan menjadikan tahun yang baru sebagai titik awal untuk perubahan yang lebih baik. (kam)

Editor : Hakam Alghivari
#malam 1 muharram #keraton surakarta #jawa #islam #malam 1 suro #ritual #Keraton Jogyakarta #Tradisi