Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Nyadran

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 15 Juni 2025 | 01:42 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SLAMET WIDODO
Guru MTsN 3 Bojonegoro

Hujan deras mengguyur dusun Laraswangi selama empat hari berturut-turut, seolah langit menumpahkan seluruh air yang disimpannya. Malam itu malam Jumat. Kepanikan mulai menyelimuti para penghuni dusun yang dikepung sungai dari segala penjuru, kecuali sisi barat, yang berhadapan dengan persawahan dan jalan dusun.

Sejak sore, beberapa warga sudah bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. Rumah-rumah di tepi sungai mulai mengemasi barang-barang penting. Hewan ternak—sapi, kambing, dan ayam—diungsikan ke lahan sawah yang lebih tinggi.

Sementara itu, gabah hasil panen masih tercecer di lantai rumah; sebagian besar belum sempat dikeringkan, apalagi dikarungkan. Tepat pukul sembilan malam, air bah datang dari arah selatan menerjang, tanpa ampun. Suaranya menggulung seperti tabuhan kendang raksasa, menggetarkan bumi, lalu melahap seluruh dusun Laraswangi dalam sekejap. Banyak warga masih terjebak di dalam rumah. Teriakan mereka bersahut-sahutan, menggema di atas gemuruh arus.

Barang-barang penduduk hanyut terseret arus gelap, nyaris tak bersisa. Puluhan rumah roboh, tak kuasa menahan derasnya luapan air. Dari arah sawah tempat pengungsian, orang-orang berhamburan ketakutan, berlari mencari anggota keluarga di tengah riuh tangis dan hujan yang tak juga reda.

Seorang ibu memegangi kerudungnya yang basah kuyup. Matanya sembap, suaranya bergetar saat bertanya kepada tetangga yang baru tiba.

’’Suamiku, Mas Warto... dia di rumah waktu air datang. Panjenengan lihat dia?”

Pak Damin, yang baru saja menerobos arus deras demi menyelamatkan diri, menggigil saat menjawab dengan napas tersengal. ’’Aku tak lihat suamimu. Air sudah setinggi atap rumah... rumah Pak Rejo sudah ambruk,” katanya tergopoh-gopoh, matanya menyapu sekitar, seakan mencari kepastian di tengah kekacauan itu.

Baca Juga: Lembar Budaya: Sajadah Ibu Dibawa Terbang Malaikat

Dari arah dusun yang tergenang, terdengar gemuruh menggelegar—disusul suara rumah roboh satu per satu, pating geledor-geledor, seperti tubuh raksasa yang ambruk menghantam bumi. Suara itu menembus malam yang dingin, memecah keheningan. Di pengungsian, suasana semakin histeris.

Anak-anak menjerit, para ibu memeluk erat buah hati mereka sambil merapal doa-doa semampunya—campur aduk antara harapan dan kepasrahan. Tak sedikit yang membaca Ayat Kursi atau sekadar melafalkan tasbih lirih, berharap banjir segera surut dan keluarga mereka ditemukan selamat.

Pukul dua dini hari, air mulai surut, menyisakan genangan setinggi mata kaki. Udara masih dingin, aroma lumpur menyengat hidung. Perlahan, orang-orang di pengungsian bergerak meninggalkan tempat pengungsian, menyusuri jalan becek menuju rumah masing-masing—atau setidaknya, menuju tempat yang dulu mereka sebut rumah. Tangis tertahan dan raut tak percaya menghiasi wajah-wajah mereka. Hampir saja mereka roboh menyaksikan kenyataan di hadapan: rumah-rumah porak-poranda, hanyut dan hancur diterjang arus. 

Hanya beberapa bangunan tembok yang masih berdiri—itu pun penuh lumpur hingga setinggi lutut. Lumpur menutup jalan-jalan dusun, menyelimuti lantai rumah, halaman, hingga kandang. Sisa-sisa perabot berserakan: genting, kursi plastik patah, bingkai foto yang kehilangan wajah. Masjid dan musala pun tak luput dari amukan air bah. Lantainya penuh dengan lumpur. Warga Laraswangi dipastikan tak dapat melaksanakan salat Jum’at.

*

Tanah Laraswangi belum kering betul. Lumpur masih menyisakan jejak di jalan-jalan dusun. Hati masyarakat pun belum pulih dari trauma. Berhembus kabar, desa di hulu sungai, terbelah menjadi dua. Muncul sungai baru yang besar. Artinya, banjir yang menerjang dusun Laraswangi sungguh dahsyat. Namun pagi itu, tepat sebulan setelah banjir, sebuah ucapan mengejutkan lahir dari bibir seorang sesepuh dusun.

Di warung pojok dekat pertigaan, Mbah Rejo duduk bersila, ditemani secangkir kopi pahit dan cerutu yang asapnya meliuk malas ke langit-langit warung. Jagongan pagi itu awalnya ringan—obrolan soal tanaman yang busuk, harga gabah yang turun, dan genteng yang belum sempat diganti.

Namun tiba-tiba, suara Mbah Rejo terdengar—pelan tapi mantap. ’’Mbah Danyang marah.”

Orang-orang langsung menoleh. Suasana seketika menjadi tegang. Percakapan terhenti. Semua mata tertuju pada Mbah Rejo, lelaki sepuh berusia lebih dari tujuh puluh tahun, yang dikenal sebagai penjaga tradisi dan pengetahuan desa.

’’Maksudnya pripun, Mbah?” tanya Wito, memberanikan diri memecah diam.

Mbah Rejo menarik napas panjang, menyedot cerutunya perlahan, lalu  menghembuskan asap ke udara pagi yang mulai menghangat. Tatapannya menerawang jauh, seolah berbicara bukan hanya kepada orang-orang di hadapannya, tapi juga kepada arwah masa lalu yang setia mendengarkan.

’’Orang-orang sudah berani merubah adat,” suaranya berat. ’’Mereka tak lagi punya adab. Nyadran, yang sejak dulu ditempatkan di Balai Gede, rumah Kepala Dusun... kini dipindah ke masjid.”

Tak ada yang bersuara. Keheningan menggantung di antara aroma kopi dan ketegangan yang tak bisa dijelaskan. Wajah-wajah tua saling berpandangan, mencoba menafsirkan makna kata-kata itu. Mbah Rejo kembali menyedot cerutunya, lalu dengan suara pelan namun penuh keyakinan, ia menambahkan: ’’Dulu, sebelum nyadran dipindah ke Balai Gede... tempatnya di punden.”

’’Punden? Engkang pundi, Mbah?” tanya Wito.

Baca Juga: Lembar Budaya: Lor Kulon

’’Sing ana ing Lor Kulon kono. Ngisor wit gedhé, sing agrom kaya payung. Saiki wis jarang sing nyedaki... padahal kono kuwi sakral. Leluhur kita menempatkan nyadran di sana, karena itu tempat paling tua, paling wingit, lan paling dihormati.”

Beberapa orang saling pandang, sebagian mengangguk pelan. Nama Lor Kulon memang sudah lama tak disebut-sebut dalam percakapan sehari-hari. Jaraknya cukup jauh dari pemukiman, dan suasananya memang selalu terasa beda. Sejak nyadran dipindah ke Balai Gede karena alasan praktis, Punden itu lambat laun dilupakan.

’’Tapi di sana dulu... kita tidak hanya makan dan berdoa,” lanjut Mbah Rejo.

’’Kita belajar merendah. Njaluk pangapura karo leluhur, karo alam. Kita ngerti diri. Ora mung ritual, tapi rasa.”

’’Iya... benar juga kata Mbah Rejo,” pikir Warto. Ia masih ingat, dulu nyadran adalah momen sakral sekaligus hangat: warga duduk melingkar di Balai Gede, membuka bekal dari rumah masing- masing, berdoa bersama, lalu makan dengan tawa yang mengalir.

Tapi semua berubah sejak hadirnya seorang ustaz muda. Sejak itulah, nyadran dipindah ke masjid, dikemas lebih syar’i, dan perlahan adat istiadat mulai ditinggalkan.

Dan pagi itu, ucapan Mbah Rejo bukan sekadar nostalgia. Itu peringatan. Mungkin juga... ancaman diam-diam dari masa lalu kepada masa kini.

*

Kabar ucapan Mbah Rejo menyebar pelan namun pasti. Dari warung pojok, menurun ke sawah, naik ke langgar-langgar kecil. Warga mulai berbisik-bisik. Sebagian diam-diam memihak adat, sebagian lagi merasa kikuk bicara, khawatir  menyentuh ranjau lama antara keyakinan dan kebiasaan.

Ustaz muda itu— Zayyan namanya—tidak marah saat mendengarnya. Justru, ia mengajak beberapa tokoh desa berkumpul di serambi masjid yang kini telah bersih kembali.

Duduk bersila, tanpa mimbar, tanpa pengeras suara. Hanya kopi hangat, suara burung, dan ketulusan di wajahnya. ’’Bapak-bapak sekalian,” ucapnya lembut, “saya tahu, ada yang merasa adat kita telah ditinggalkan. Tapi izinkan saya bercerita…”

Ia menunduk sejenak. Tangannya menggenggam cangkir, uap hangat menyentuh jemari. “Dulu, Kanjeng Nabi datang ke Madinah, dan di sana ada kebiasaan. masyarakat yang merayakan dua hari dengan suka cita. Tapi apa yang beliau lakukan? Beliau tidak langsung melarang. Beliau arahkan makna dan niatnya.” Para tetua khusuk mendengarkan.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kabut Di Haramain

’’Begitu pula nyadran,” lanjut Zayyan. ’’Kalau yang kita tuju adalah silaturahmi, mendoakan leluhur, berbagi rezeki dan kebaikan—insyaAllah itu bagian dari amal. Tinggal bagaimana kita tata ulang—niatnya, tempatnya, isinya.” Lalu Zayyan menatap Pak Salman di sebelahnya, dan berkata pelan:

’’Mari kita bawa nyadran kembali ke Balai Gede. Tapi kita isi dengan tahlil, doa bersama, dan berbagi berkat tanpa keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. Kita berdoa pada Allah untuk para leluhur.”

Mbah Rejo hadir diam-diam hari itu. Duduk di teras rumah tetangga masjid, memperhatikan dari kejauhan. Ia terdiam. Tapi ketika nyadran tahun berikutnya kembali digelar di Balai Gede— dengan saf-saf warga duduk rapi, menunduk khusyuk dalam tahlil, lalu makan bersama dengan tawa yang hangat—air mata Mbah Rejo menetes perlahan. ’’Niat itu yang utama…” gumamnya pelan. ’’Dan anak muda itu… paham caranya menjaga warisan tanpa mengkhianati langit.” (*)

 

Laraswangi, 31 Mei 2025

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Punden #ustad #Desa #nyadran #cerpen #Budaya #kisah #Petani #dusun #berdoa #tahlil #Kopi #Cerita #masjid #Tradisi