Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lembar Budaya: Bancakan

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 17 Mei 2025 | 23:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Anggalih Bayu Muh Kamim

 

Anak emas Pak Carik segera naik ke pelaminan. Putri semata wayangnya mendapat jodoh sesuai kehendak kedua orang tuanya. Putrinya tidak punya pilihan lain, selain harus mengikuti kemauan orang tuanya. Putrinya terpaksa melepaskan lelaki pujaannya. Pak Carik punya alasan sendiri untuk menjodohkan putrinya dengan anak Pak Kuwu. Pak Carik ingin mempertahankan ikatan kekeluargaan dengan Pak Kuwu. Memang di desa itu sudah menjadi kebiasaan untuk menjodohkan keturunan sesama penggede. Ada udang di balik batu. Motif yang muncul adalah untuk mempertahankan kedudukan para penggede di desa. Wajar saja, pengisian pamong di desa itu berasal dari lingkaran penggede.


JAMINAN kemapanan yang selalu dielu-elukan oleh para penggede kepada anak-anaknya termasuk yang dilakukan Pak Carik. Dia tidak ingin masa depan putrinya suram. Kapan lagi bisa punya menantu dari anak Pak Kuwu. Hitung-hitung siapa tahu bisa dapat tambahan tanah lungguh maupun pengarem-arem setelah pensiun. Pak Carik sudah menakar untung-ruginya. Perjodohan anak sudah seperti bermain dadu. Putrinya pun dijadikan bagian dari upaya mendapat pundi-pundi.

Pak Carik memandang masalah cinta dan kasih sayang sebagai urusan belakangan. Asalkan semakin dekat dengan Pak Kuwu, apapun akan dilakukannya. Dia bangga diri dan membayangkan satu besan bisa sekandang di kalurahan. Awalnya Pak Carik selalu membujuk putrinya dengan berbagai iming-iming, agar mau menerima putra Pak Kuwu. Pak Carik memang nekat, bukannya pihak laki-laki yang datang melamar. Dia dan keluarganya yang secara makbedunduk datang untuk melamar putra Pak Kuwu di rumahnya.

Rupa-rupanya Pak Kuwu juga membutuhkan kedekatan dengan Pak Carik. Tidak hanya untuk meningkatkan komunikasi keduanya dalam bekerja di kalurahan, tetapi juga untuk mengamankan pemilihan pada periode selanjutnya. Pak kuwu sendiri langsung meminta menyegarakan pernikahan anaknya dengan putri Pak Carik. Pak Carik senang bukan kepayang. Selangkah lagi akal kancilnya akan membuahkan hasil.

Pak Carik segera menyampaikan kepada keluarga besarnya bahwa putrinya akan segera menikah. Pak Carik mengingatkan kepada keluarga besarnya untuk jangan lupa membawa seserahan yang mewah dan indah. Dia tidak ingin pernikahan anaknya tidak monumental dan megah. Pak Carik sudah melakukan rembug dengan istrinya untuk menyiapkan pesta yang mewah. Dia berpesan kepada keluarga Pak Kuwu untuk tidak ikut ambil pusing. Pak Carik hanya meminta keluarga Pak Kuwu untuk menyiapkan mahar yang bernilai tinggi.

Pak Carik sudah menentukan tanggal mainnya. Pak Carik juga meminta para pamong, kami tuwo, jagabaya untuk membawa hadiah-hadiah yang mewah. Dia menggoda para penggede untuk mau menunjukan bahwa mereka benar-benar orang-orang berada yang pantas mengelola des aitu. Pak Carik mengingatkan para penggede, agar jangan sampai kehilangan taji di mata para kawula. Pak Carik merasa gengsi, jika para penggede tidak mau memberikan seserahan yang bernilai tinggi. Apalagi pagelaran yang akan berlangsung adalah hajat dari kedua petinggi desa. Para penggede asal mengiyakan saja segala pesan dari Pak Carik. Para penggede menganggap pesan Pak Carik sebagai wujud perintah dari atasan sekaligus upaya untuk mempertahankan posisi mereka di desa.

Pak Carik membiayai semua pagelaran dari pundi-pundi yang dia dapat dari proyek pengadaan jalan dusun. Pak Carik merasa cuan yang sudah dia dapat harus diputar lagi untuk investasi yang lebih besar. Dia merasa pernikahan anaknya akan membawa keuntungan yang lebih besar. Pak Carik tidak keberatan menggunakan semua pundi-pundi yang dia dapat dari proyek jalan dusun. Apapun dilakukannya untuk menguatkan posisinya di desa. Hanya satu hal yang belum terurus menyangkut pagelaran bagi anaknya. Izin penggunaan jalan umum serta gangguan belum diurus ke kantor kepolisian. Kebetulan dia sudah meminta jagabaya untuk mau menguruskan persoalan izin ke kepolisian.

Pagi itu, Pak Carik menunggu kedatangan Jagabaya untuk meminta bantuan menguruskan segala administrasi keperluan pesta perjodohan anaknya. Sembari membolak-balik dokumen, Pak Carik memeriksa kelengkapan administrasi untuk pernikahan anaknya. Sudah setengah jam, kenyataannya jagabaya tak kunjung datang. Pak Carik menjadi sedikit kesal. Pak Carik kemudian mengecek kembali pesan di gawainya untuk memastikan bahwa dia telah membuat janji dengan si jagabaya. Dia menjadi termenung, geleng-geleng dan bertanya dalam hatinya, mengapa sudah setengah jam si jagabaya tidak kunjung datang.

“Maaf……… sugeng enjing, kula nuwun, Pak Carik. Ngapunten, saya baru datang, Pak. Tadi saya ada urusan sebentar di kantor kalurahan. Ada pertemuan sebentar dengan ulu-ulu menyangkut gegeran warga terkait masalah irigasi,” kata Jagabaya sambil berdiri di depan pintu rumah Pak Carik yang sudah terbuka.

“Oalah, kamu kok baru datang. Ayo sini silahkan duduk, aku tunggu dari tadi. Cepat ini penting,” Pak Carik mempersilakan jagabaya duduk di sofa.

“Terima kasih, Pak As. Sepurane, Pak. Tadi ada gegeran, itu udah tanggungjawabku untuk menyelesaikan segera. Biar desa ini tetap harmonis dan guyub rukun,” Jagabaya berusaha memohon maaf dan memberi penjelasan kembali.

“Udah….. udah, aku enggak ngurus soal masalah gegeran itu. Itu udah bukan jadi urusanku lagi. Sekarang yang paling penting ini lho, kamu kan udah janjian sama aku duluan untuk ketemu pagi ini. Lha kok bisa-bisanya kamu malah ngurusin masalah lain duluan,” Pak Carik menumpahkan kekesalannya.

 “Sekali lagi minta maaf, Pak As. Mau bagaimana lagi itu menyelesaikan gegeran kan sudah bagian dari tugas. Tanggungjawab saya itu, Pak. Pamong harus amanah eeee.”

“Lho….. kamu itu buat janjinya sama siapa duluan? Aku ini atasanmu lho, kok kamu malah ngurusin yang lain duluan. Udah gitu mendadak lagi itu, kok kamu bisa-bisanya kaya ngono, Tet?”

“Maaf, Pak As, sekali lagi saya minta maaf. Bukannya saya mau membangkang atau enggak nurut sama atasan, Pak. Tapi, bagaimana lagi, Pak As, warga sedang butuh saya duluan tadi pagi. Itu bahaya kalau gegeran tidak segera diselesaikan.”

“Lho….. aku tu juga sedang butuh kamu lho, Tet. Udah gitu kan kita udah janjian pagi ini. Memang itu warga sudah janji sama kamu mau gegeran pagi ini? Ya…. kan enggak kan? Udah jangan membantah, ini urusanku ini penting lho buat jaga posisi kita sebagai penggede desa iki.”

“Pak As ya ada-ada aja, mana ada orang gegeran kok direncanakan dan bikin janji sama jagabaya sebelum pada ribut. Gegeran itu juga penting lho, Pak, untuk segera diselesaikan. Nanti kalau tidak segera diselesaikan bisa muncul ketidakpuasan yang lebih besar dari para kawula, Pak. Itu juga bisa mengancam posisi kita, Pak As, kalau kawula udah enggak percaya dengan para penggede seperti kita. Jadi, harus diselesaikan dulu itu, Pak As,” Jagabaya mencoba menyakinkan Pak Carik.

“ Ya, sudah masalah gegeran enggak usah dibahas lagi, ini durasinya tinggal sebentar lagi. Aku ada urusan lagi enggak cuma padu sama kamu aja. Dah, jadi seperti yang aku sampaikan ke kamu lewat pesan, ini tolong diuruskan masalah perizinan gangguan ke polsek untuk acara pernikahan anakku ini. Dokumennya sudah ada semua. Acaranya tiga hari lagi.”

“Lho, kok mendadak banget, Pak As. Ya enggak bisa kalau acaranya tiga hari lagi.”

“Oalah ya udah ini pake pelicin ni, pasti nanti diurus. Pokoknya harus bisa, kalau kurang nanti lapor ke aku aja. Ini enggak bisa ditunda lagi, ini udah pas tanggal mainnya. Udah pas dengan weton anakku.”

“Oh……. baik, Pak, kalau begitu. Tapi anu, Pak. Ada yang kurang?”

“Lho, apalagi yang kurang kok pake anu-anuan segala?”

“Pak, ini kan yang dikasih baru pelicin untuk ngurus izin. Lha….. ini ngurus kan saya juga butuh dana operasional, Pak As. Bapak kan juga habis dapat dari jalan dusun itu kan, Pak? Ya gapapa, Pak, ini kan bancakan kita sebagai pamong. Bapak untung, saya juga dong.”

“Hadeh….. ya udah ini dana operasional buat kamu ngurus izin itu, Tet, ingat jangan bilang-bilang siapa soal ini semua.”

“Nha, kalau gini kan beres semua, Pak. Kalau gitu saya permisi, Pak As.” Jagabaya pamit dan meninggalkan rumah Pak Carik. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Desa #Polsek #cerpen #kisah #Gegeran #Anak Emas #pensiun #Carik #irigasi #jodoh #asmara #bancakan #menikah #hadiah #pelicin #Cerita