Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Sunyi yang Menyembuhkan

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 12 April 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

 

Pagi itu, seorang ayah baru saja pulang dari tempat kerjanya. Di ruang tengah, putri remajanya telah berdiri menunggu—siap untuk kembali ke pondok pesantren.

IA tampak anggun dalam balutan baju batik panjang berwarna pink. Kudung pashmina abu-abu membingkai wajah teduhnya. Ada pesona yang begitu alami terpancar dari dirinya—ketenangan yang lahir dari keikhlasan.

Segala perlengkapan telah dikemas rapi. Satu tas besar berisi seragam dan keperluan harian.

Satu tas punggung yang lebih kecil, entah berisi apa, namun tampak dijinjing dengan penuh kesungguhan—seolah ia tengah membawa sepotong dunia yang ia cintai.

“Assalamu’alaikum...”

Suara Raka, sang ayah, terdengar dari arah depan pintu—penuh kelelahan tapi tetap diselipi kehangatan.

“Wa’alaikumus salam,” jawab Zahra lembut dari dalam rumah. Ia mendekat sambil tersenyum manis. Senyum itu merekah begitu alami di bibir mungilnya, seolah menyambut matahari yang pulang terlambat ke ufuk barat.

“Ayah sudah pulang?” tanyanya.

“Iya, Ndhuk. Maaf, Ayah pulang agak siang. Tadi ikut acara halal bihalal guru dan siswa, dilanjutkan rapat dinas,” jelas Raka sambil melepas sepatu, meski lelah tapi disembunyikan.

“Nggak apa-apa, Yah,” jawab Zahra, lembut dan penuh pengertian. Tak ada keluh, hanya kasih yang diam-diam menyembuhkan.

Raka menatap anak perempuannya dengan penuh haru.

“Kamu sudah siap?”

Zahra mengangguk pelan.

“Hayuk, berangkat.” ucap sang ayah, seraya tersenyum dan mengulurkan tangan mengambil salah satu tas.

“Sebentar, Yah…”

Zahra menahan langkahnya. Tangan kirinya refleks memegangi perut. Senyum yang tadi mengembang berubah menjadi raut nyeri yang ditahan.

Raka segera menoleh, raut wajahnya berubah khawatir.

“Kenapa, Ndhuk?” tanyanya dengan nada panik, mendekat sambil memperhatikan wajah putrinya yang mulai pucat.

“Perutku sakit, Yah…” gumam Zahra pelan, nyaris tak terdengar. Wajahnya mengernyit, tubuhnya sedikit membungkuk.

“Pengen ke belakang?” tanya Raka, mencoba menebak.

Zahra menggeleng pelan.

“Enggak, Yah… nyeri haid…” jawabnya lirih, menunduk, seolah ingin menyembunyikan rasa tidak nyamannya.

Raka terdiam sejenak.

Ada rasa iba, ada juga kekaguman—bagaimana anak kecil yang dulu digendongnya kini tumbuh menjadi perempuan yang mulai merasakan fase-fase dewasa.

“Ayo, kita duduk dulu sebentar. Nggak usah buru-buru,” ucap Raka lembut, menuntunnya ke kursi terdekat. Tangannya yang kasar tapi hangat menyentuh bahu Zahra, seolah berkata: Ayah di sini. Tak ada yang perlu kamu tahan sendirian.

Zahra melirik jam dinding yang menempel di tembok ruang tengah. Jarum panjang sudah melewati angka enam, menunjuk tepat ke angka 09.30.

“Nggak apa-apa, Yah. Sudah, ayo berangkat...” ucapnya sambil menarik napas pelan, mencoba menutupi rasa sakit yang belum juga reda.

Ia tak ingin terlambat sampai di pondok.

Raka menatapnya sekali lagi, ragu masih menggantung di matanya.

“Beneran, kamu nggak apa-apa, Ndhuk?” tanyanya, memastikan untuk kesekian kali.

Zahra tersenyum “Bener, Yah... ayo.”

Raka pun mengeluarkan motor kesayangan Zahra dari garasi—Vario 125 merah yang sudah menemaninya bertahun-tahun.

Motor itu adalah pilihan Zahra sendiri, jauh saat ia masih duduk di bangku kelas dua SD. Sejak itu, motor itu jadi semacam simbol kecil kedekatan mereka.

Tas besar Zahra diletakkan di depan, di bawah setir. Zahra sendiri duduk di jok belakang, memanggul tas kecilnya, masih sedikit menahan nyeri, tapi tak ingin membuat Ayahnya khawatir.

Keduanya memakai helm. Dan pelan-pelan, motor itu melaju meninggalkan halaman rumah yang mereka cintai. Rumah kecil yang penuh kenangan, doa, dan rindu yang belum sempat dituliskan.

Raka memacu motor perlahan namun pasti. Setiap putaran roda dipenuhi kehati-hatian, seolah ia ingin memastikan setiap getar jalan tidak memperparah nyeri yang sedang ditahan oleh putrinya di jok belakang.

Mereka menyusuri jalan beton yang mulai retak di beberapa sisi, lalu berganti dengan aspal yang memantulkan panas matahari.

Jarak 58 kilometer bukanlah perjalanan singkat—sekitar satu setengah jam waktu yang harus mereka tempuh. Tapi bagi Raka, waktu itu adalah anugerah, kesempatan untuk membersamai putrinya dalam diam yang penuh makna.

Cuaca hari itu terik. Matahari menggantung tinggi di atas langit, sinarnya menimpa aspal hingga nyaris berkilau. Debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas.

Zahra diam di belakang, tak banyak bicara. Sesekali menggenggam erat bagian belakang jaket ayahnya—bukan hanya karena keseimbangan, tapi karena di situlah rasa aman berteduh.

Dan Raka… hanya menatap ke depan. Tapi hatinya melayang jauh—mungkin ke masa saat Zahra masih kecil, atau ke waktu yang tak lama lagi saat ia harus melepas putrinya benar-benar tumbuh, mandiri, dan berdiri sendiri.

Di tengah perjalanan, saat motor melaju melewati hamparan sawah dan pepohonan yang mulai meranggas, terdengar suara lirih dari Zahra di jok belakang.

“Yah… kalau nanti ketemu masjid, tolong berhenti, ya?”

Bisikannya nyaris tenggelam oleh deru angin, tapi cukup jelas untuk mengguncang hati seorang ayah.

Tangan kirinya kembali memegangi perut. Nyeri itu belum reda. Tapi Zahra tetap berusaha kuat—meski tubuhnya mulai berkeringat dan matanya sedikit redup menahan sakit.

Raka menoleh sebentar, lalu mengangguk kecil.

“Ya, Ndhuk…” jawabnya singkat, namun penuh keyakinan.

Ia tahu, sakit itu bukan sekadar fisik. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, dan Zahra memilih diam, memilih kuat, memilih tak merepotkan.

Dalam hati, Raka berdoa diam-diam.

Semoga segera terlihat masjid di tepi jalan. Semoga Allah memeluk putrinya lewat tempat istirahat itu. Semoga kesabaran Zahra menjadi jalan bagi rahmat-Nya turun perlahan.

Tak butuh waktu lama, Raka membelokkan motor ke kiri. Di tepi jalan, Masjid Ar-Rohman berdiri teduh—tempat yang dulu hanya dilewati, kini menjadi pelindung dari panas dan nyeri.

Motor dihentikan pelan.

Raka menoleh, menyentuh pundak Zahra, lalu menggandengnya menuju teras. Namun belum sempat memarkir motor, pandangannya kehilangan sosok sang putri.

Raka panik sejenak. Ia menoleh—dan melihat Zahra meringkuk di sudut teras, menahan sakit. Tubuhnya gemetar, wajah tertunduk. Diam, tapi jelas sedang berjuang.

Raka segera mendekat, duduk di sampingnya. Perlahan ia mengelus punggung Zahra—seperti dzikir dalam diam, hanya hati yang bicara.

“Istirahat dulu, Ndhuk…” bisiknya, penuh kasih.

Tangan Raka memijit pelan bagian punggung anaknya, berharap bisa mengalihkan sedikit dari nyeri yang bersarang.

Angin bertiup pelan di halaman masjid. Daun-daun berdesir seolah ikut menunduk, menyaksikan kasih seorang ayah yang diam-diam menetes dalam setiap pijatan lembut.

“Minum, ya, Ndhuk?”

Suara Raka pelan, nyaris seperti bisikan. Ia mengulurkan sebotol air mineral yang dibawanya dari rumah. Semoga meredakan sakit. Semoga menenangkan.

Zahra hanya melambai kecil. Tanda menolak, pelan.

Wajahnya masih tertunduk, napasnya teratur tapi berat. Nyeri itu belum juga reda, dan tubuhnya masih memilih diam sebagai perlawanan paling sabar.

Raka tak memaksa. Ia menurunkan botol perlahan, lalu duduk lebih dekat.

Matanya menatap Zahra—diam, tapi penuh kasih dan kekhawatiran. Doa-doa terus mengalir dalam hati.

Angin berhembus pelan di beranda Masjid Ar-Rohman.

Di sana, hanya ada dua jiwa: ayah dan putrinya, saling menguatkan dalam diam.

Suara beduk bertalu dari dalam masjid, menggema lembut namun menggetarkan.

Zahra yang terbaring lemah tiba-tiba tersentak kaget. Tubuhnya bergerak sedikit, tapi belum sempat bangun, tangan Raka sigap menopang punggungnya—tak ingin Zahra memaksakan diri.

Tak lama, azan Zuhur berkumandang, menyatu dengan hembusan angin dan terik siang.

Zahra masih meringkuk, diam. Entah tertidur, atau terlalu sakit. Matanya tertutup, wajahnya tenang tapi menahan.

Raka menunduk sedikit, lalu berbisik lembut dekat telinga Zahra.

“Sebentar, Ayah ambil wudhu dan jamaah Dhuhur dulu, ya, Ndhuk.”

Zahra tak menjawab. Tapi Raka tak menunggu. Ia tahu, cinta tak selalu butuh kata.

Perlahan ia berdiri, melangkah menuju tempat wudhu, sesekali menoleh—memastikan Zahra tetap dalam pandangannya.

Langkahnya berat, bukan karena lelah, tapi karena hati.

Namun ia yakin, dalam rukuk dan sujud nanti, akan ada doa yang lebih kuat dari kata:

Ya Rabb… ringankan sakit anakku. Jadikan deritanya penggugur. Jika boleh, biarkan aku saja yang menanggungnya. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pondok pesantren #cerpen #ayah #kisah #anak #putri #Cerita #seragam #masjid