Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Melihat Kesenian Jedoran di Desa Talokwohmojo, Kecamatan Ngawen: Tradisi yang Mulai Terkikis, Masih Belum Dilirik Anak Muda

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 4 Januari 2025 | 20:00 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Para pria paro baya asal Desa Talokwohmojo, Kecamatan Ngawen menampilkan seni jedoran di acara Ngawen Traditional Festival 2024, Minggu (29/12/2024). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
LESTARIKAN BUDAYA: Para pria paro baya asal Desa Talokwohmojo, Kecamatan Ngawen menampilkan seni jedoran di acara Ngawen Traditional Festival 2024, Minggu (29/12/2024). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Jedoran dengan khas senggakan lantang langgam Jawa bercorak Islam itu mencoba tetap eksis di etalase kebudayaan Blora. Di tengah modernisasi, eksistensi kesenian tersebut mulai tergerus, butuh generasi penerus.


LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro


SALAH satu grup jedoran yang masih eksis saat ini di Desa Talokwohmojo Kecamatan Ngawen. Sebelum modernisasi mulai menciptakan ruang digital, jedoran di desa tersebut masih berjumlah tujuh grup. Lambat laun, grup jedoran hanya tersisa satu.

’’Dulu, di Talokwohmojo saja setiap dukuh memiliki grup jedoran. Total ada tujuh grup, tapi sekarang tinggal satu grup saja,” ungkap pelaku kesenian Jedoran Desa Talokwohmojo, Mudaris.

Pria berusia 53 tahun itu masih terus menyemai kesenian jedoran hingga saat ini. Kecintaannya pada kesenian memakai alat bedug yang ditabuh itu membuatnya masih teguh menekuni kesenian. Mirisnya, hingga kini belum digemari kalangan muda.

Alasan kuat yang mendasarinya karena kesenian jedoran menemaninya sejak kecil. ’’Saya merupakan generasi kelima yang belajar jedoran sejak kecil,” ungkap pria kelahiran 1971 tersebut.

Untuk mebawakan kesenian jedoran membutuhkan keterampilan khusus, terutama dalam teknik vokal. Napas yang panjang dan suara yang lantang untuk membuahkan suara yang sesuai dengan pakem kesenian jedoran.

’’Untuk Jedoran, harus punya napas panjang karena vokalnya harus ngelik atau bersuara keras dan panjang,” ungkapnya. Sayangnya, saat ini, anak muda di desa kelahirannya belum tertarik menekuni kesenian jedoran.

Mudaris mengungkapkan, pemainnya kebanyakan orang tua. ”Anak muda tampaknya kurang tertarik untuk belajar,” kata dia. Mudaris mengungkapkan, dalam satu grup jedoran, biasanya terdiri atas 10 hingga 12 pemain.

Lagu-lagu yang dibawakan pun juga sudah terpakem. Biasanya berisi tembang salawat atau kisah Walisongo, seperti Ya Qoluu Syaikhuna. Salah satu syair seperti kitab manaqib. ’’Tiap lagu dimainkan selama lima sampai lima belas menit, tergantung durasi ceritanya,” tambah dia.

Grup jedoran yang digelutinya hanya tampil saat ada acara. Beruntung, pada momen akhir tahun lalu, terdapat agenda Ngawen Traditional Festival di halaman kantor Kecamatan Ngawen, Minggu (29/12/2024). Baginya, hal itu merupakan angin segar untuk memperkenalkan kesenian tradisional yang sudah dilakoni masyarakat desa sejak dahulu.

’’Saya berharap akan muncul kesadaran baru di kalangan anak muda Blora untuk turut melestarikan Jedoran,” ungkapnya penuh harap. Menurutnya, jika generasi muda turut menyemarakkan dan latihan kesenian jedoran, maka akan menggeliatkan lagi kesenian tersebut. ’’Jika anak muda mau belajar, maka saya yakin jedoran bisa bangkit lagi,” ujarnya.

Sementara, Ketua Panitia Ngawen Tradisional Festival 2024 Muhamad Adib mengatakan, event itu diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap seni tradisional.

’’Kami ingin kesenian jedoran ini tidak hanya dikenal, tetapi juga diminati oleh anak muda. Kami memberikan ruang bagi seni tradisional agar tetap lestari,” katanya. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi antara generasi tua dan muda untuk melestarikan seni jedoran. Agar di tengah modernisasi saat ini tidak sekadar menjadi sejarah. ’’Tetapi juga bagian dari masa depan budaya kita,” ujarnya. (*/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#keterampilan #ruang digital #jedoran #walisongo #Ngawen #kesenian #bedug #Langgam #generasi penerus #kebudayaan #islam #kitab #seni tradisional #blora #salawat