Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Perempuan Pemangku Bulan

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 28 Desember 2024 | 22:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SUHARSONO A.Q.S
Guru Bahasa Indonesia, mengajar di MAN 1 Lamongan

 

Perempuan itu bernama Mayang. Sehari-hari, ia mengandalkan tenaganya sebagai buruh tani untuk menghidupi anak semata wayangnya, Bulan. Nama itu diberikan bukan sekadar karena ia lahir pada malam purnama, tetapi karena Mayang ingin anaknya menjadi terang di tengah gelap, menjadi harapan di saat semuanya terasa suram.

Bulan lahir di bawah sinar rembulan yang sempurna, di malam purnama yang membelah langit pedesaan. Cahaya lembut bulan menyelinap di sela-sela dedaunan, menerangi rumah sederhana tempat tangis pertamanya terdengar. Ibu Mayang, yang telah lama mengimpikan anak perempuan, menatap wajah mungil itu dengan penuh haru. Dalam hatinya, ia tahu nama itu telah ditakdirkan sejak awal—Bulan, seindah malam kelahirannya, secerah harapan yang kini memenuhi hidupnya.

Malam itu, seluruh desa seperti ikut merayakan kehadiran Bulan. Orang-orang tua berkumpul di depan rumah Mayang, menyanyikan kidung lama sebagai ucapan syukur. Anak-anak kecil berlarian di halaman, bermain dengan bayangan mereka di bawah sinar bulan yang terang. Bahkan angin malam terasa hangat, seolah alam sendiri menyambut bayi kecil itu dengan kelembutan. Ibu Mayang memeluk erat putrinya, merasakan kehangatan kecil yang mengalir ke jiwanya, menghapus semua lelah dan sakit yang ia rasakan sebelumnya.

Bulan tumbuh dalam cerita-cerita tentang purnama yang selalu diceritakan ibunya. Ibu Mayang sering duduk di beranda, menunjuk langit malam sambil berkata, "Kau adalah cahaya dalam gelap, seperti bulan ini." Kata-kata itu tertanam dalam hati Bulan, membuatnya percaya bahwa ia memiliki peran istimewa di dunia ini, seperti namanya yang selalu mengingatkan pada keindahan malam. Setiap kali purnama tiba, ia merasa lebih dekat dengan namanya, dengan dunia yang memberinya keajaiban saat ia lahir.

Namun, di balik keindahan nama dan kisah kelahirannya, Bulan juga membawa pertanyaan yang terus mengusik hatinya. Mengapa malam kelahirannya begitu istimewa? Apakah ada sesuatu di balik sinar bulan yang menyaksikan tangis pertamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu membawanya pada perjalanan panjang, mencari arti dari takdir dan cahaya yang selalu menyertainya sejak malam pertama ia hadir di dunia.*

Hidup di desa terpencil bukanlah hal yang mudah. Ladang-ladang kecil tempat Mayang bekerja tak selalu memberikan hasil yang cukup. Musim kemarau yang panjang sering kali mengeringkan tanah, membuat panen gagal, dan menggiring mereka ke jurang kelaparan. Tetapi, bagi Mayang, tidak ada pilihan lain selain bertahan. Ia adalah perisai bagi Bulan, sekaligus tiang yang menopang harapan kecil mereka.

Bulan, yang baru berusia sepuluh tahun, adalah anak yang ceria meski tubuhnya ringkih. Setiap pagi ia membantu Mayang mengikat hasil panen atau membersihkan rumah yang penuh dengan debu dari angin kering. Senyumnya yang polos adalah semangat bagi Mayang, tetapi juga duri yang menusuk hati. Senyum itu mengingatkan Mayang pada janji yang pernah ia buat: bahwa Bulan tidak akan bernasib seperti dirinya, terbelenggu oleh kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Malam-malam mereka sering diisi dengan cerita. Mayang bercerita tentang bulan yang selalu setia menyinari bumi, meskipun tidak memiliki cahaya sendiri. Bulan kecil selalu mendengarkan dengan mata berbinar, seolah yakin bahwa ia bisa menjadi seperti bulan yang diceritakan ibunya. Namun, di lubuk hati Mayang, selalu ada rasa cemas. Bagaimana jika ia tidak mampu memenuhi janji itu? Bagaimana jika kemiskinan ini akan terus menjadi bayangan gelap di hidup mereka?

Suatu hari, kabar buruk datang. Ladang tempat Mayang bekerja akan digusur untuk proyek besar. Tidak ada lagi tempat untuknya mencari nafkah. Mayang terperosok dalam ketakutan yang dalam, tetapi ia tahu ia tidak punya waktu untuk menyerah. Ia harus mencari jalan lain, meskipun itu berarti meninggalkan desanya, tanah yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Dalam langkah-langkah penuh doa dan air mata, Mayang menggenggam tangan Bulan erat. Ia berbisik kepada anaknya, “Kita akan pergi ke tempat di mana langit lebih luas dan bulan lebih terang. Jangan takut, nak. Selama aku masih berdiri, aku akan memikul semua beban ini untukmu.”

Mayang dan Bulan berdiri di pinggir jalan dengan membawa dua koper lusuh. Rumah mereka di desa telah rata dengan tanah, tergusur oleh proyek pembangunan pabrik besar. Sawah yang dulu hijau kini berubah menjadi timbunan beton dan alat berat. Dengan hati berat, Mayang memutuskan membawa anak semata wayangnya ke kota, tempat di mana mereka berharap bisa memulai hidup baru. Namun, kota tak seindah bayangan. Langitnya kelabu, dan jalanan penuh sesak dengan kendaraan yang tak pernah berhenti bergerak. Bulan yang baru berusia sepuluh tahun terus menggenggam tangan ibunya, merasa asing dan takut.

Di kota, mereka tinggal di sebuah kamar kos kecil di pinggiran kota. Mayang bekerja sebagai buruh cuci di rumah-rumah warga, sementara Bulan harus berhenti sekolah karena mereka tak mampu membayar biaya pindah sekolah. Setiap pagi, Mayang berangkat dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Bulan sendirian di kamar. Bulan sering duduk di tepi jendela, memandangi anak-anak lain yang bermain di gang, merindukan masa kecilnya yang penuh tawa di desa. "Bu, kapan kita bisa pulang ke rumah kita?" tanya Bulan suatu malam. Mayang hanya bisa terdiam, menahan air mata.

Akibat bekerja yang menguras teanaganya habis-habisan, Mayang jatuh sakit karena kelelahan. Tubuhnya yang sudah terbiasa dengan udara segar pedesaan tak kuat menghadapi polusi dan beban kerja yang berat. Bulan, yang tak tahu harus meminta bantuan siapa, hanya bisa merawat ibunya dengan seadanya. Uang tabungan mereka semakin menipis, sementara biaya untuk obat-obatan Mayang tak terjangkau. Rasa frustasi mulai menggerogoti hati Mayang. Dia merasa gagal sebagai seorang ibu karena tak mampu memberikan kehidupan yang layak untuk anaknya.

Di sisi lain, Bulan mulai berubah. Gadis kecil yang dulu ceria itu menjadi pendiam dan sering murung. Dia merasa kehilangan segalanya—rumah, teman-teman, dan harapannya untuk melanjutkan sekolah. Suatu hari, Bulan mencoba menjual beberapa barang milik mereka di pasar malam untuk membeli obat bagi ibunya. Namun, dia justru ditipu oleh seorang pedagang licik. Ketika pulang, dia menangis di pelukan Mayang, mengutuk kota yang penuh dengan kebohongan. "Kota ini jahat, Bu. Aku benci di sini," keluhnya.

Sementara itu, Mayang mulai merasa terpojok. Tawaran pekerjaan yang lebih baik hampir selalu datang dengan syarat yang tak manusiawi. Salah satu tetangga kos menyarankan Mayang untuk bekerja di pabrik yang menggusur lahannya dulu. Tawaran itu membuat Mayang marah sekaligus bingung. Bagaimana mungkin dia bekerja di tempat yang telah menghancurkan hidupnya? Tetapi, di sisi lain, jika dia menolak, tak ada cara lain untuk bertahan hidup.

Mayang dan Bulan harus menghadapi ancaman penggusuran lagi karena area kos mereka akan dibangun menjadi pusat perbelanjaan. Ketakutan yang sama kembali menghantui mereka. Namun kali ini, Mayang sadar bahwa dia tak bisa terus-menerus melarikan diri. Dia harus melawan, bukan hanya demi dirinya, tetapi juga demi Bulan. Bersama para penghuni kos lainnya, Mayang mulai merencanakan aksi protes kecil-kecilan, bertekad untuk mempertahankan tempat tinggal mereka. Meskipun kecil, perlawanan itu menjadi titik awal bagi Mayang untuk kembali memperjuangkan hak-haknya.

Ketika para petugas pemkot tiba dengan alat berat dan surat perintah penggusuran di tangan, Mayang berdiri di depan gerbang kos-kosan bersama para penghuni lainnya. Mereka berbaris rapat, membawa spanduk dan poster bertuliskan “Rumah Kami, Hidup Kami!” Suara-suara keberanian bergema di udara, sementara wajah-wajah tegang menyembunyikan ketakutan yang mendekam di hati mereka. Mayang, dengan suara lantang, memimpin orasi penuh semangat, “Kalian bisa meruntuhkan bangunan ini, tapi tidak akan pernah bisa menghancurkan kebersamaan kami!”

Para petugas tampak ragu sejenak, namun instruksi tegas dari pimpinan mereka membuat alat berat mulai bergerak. Tiba-tiba, suara seorang ibu penghuni kos memecah suasana, “Kami punya hak untuk hidup di sini! Kami sudah tinggal di tanah ini selama puluhan tahun!” Suaranya membuat sekelompok wartawan yang hadir semakin gencar mengambil gambar dan merekam kejadian. Mayang tahu, perhatian media adalah senjata mereka. Ia segera mengarahkan para penghuni untuk duduk bersila di depan alat berat, membentuk barisan hidup yang sulit diterobos.

Ketegangan memuncak ketika petugas mencoba membubarkan kerumunan dengan paksa. Namun, warga tetap bertahan, meski dorongan dan ancaman semakin keras. Di tengah kekacauan itu, seorang tokoh masyarakat setempat, Pak Rahmat, tiba dengan membawa dokumen penting—salinan surat kepemilikan tanah yang sah atas nama pemilik kos. “Tanah ini belum diputuskan secara hukum untuk dialihkan! Kalian tidak bisa menggusur tanpa alasan yang jelas!” serunya lantang.

Seruan Pak Rahmat membuat situasi berbalik. Para petugas mulai memperdebatkan keabsahan tindakan mereka. Wartawan yang hadir semakin intens meliput, dan siaran langsung protes warga mulai viral di media sosial. Bahkan beberapa pejabat tinggi di pemkot akhirnya mengirimkan perintah untuk menghentikan penggusuran sementara, menunggu penyelesaian sengketa hukum. Kemenangan kecil ini dirayakan dengan pelukan dan tangis haru di antara penghuni kos, meski perjuangan mereka belum sepenuhnya selesai.

Di malam yang tenang setelah ketegangan reda, Mayang berdiri di halaman kos-kosan, menatap bangunan sederhana itu dengan penuh cinta. Ia tahu, perjuangan ini bukan hanya soal mempertahankan rumah, tetapi juga tentang melawan ketidakadilan dan mempertahankan martabat manusia. “Ini baru langkah pertama,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kami akan terus bertahan, apa pun yang terjadi.” Di kejauhan, suara-suara kehidupan di kos-kosan kembali terdengar, menjadi bukti bahwa, untuk malam ini, mereka telah memenangkan hak mereka untuk tetap hidup di tempat yang mereka sebut rumah.

Bulan malam itu tampak redup, nyaris menghitam di langit kota yang sunyi. Mayang masih berdiri di halaman kos-kosan sempit itu, memandang langit dengan mata yang basah. Bersama Bulan anak semata wayangnya terpaku dalam keheningan, Mayang bersumpah dalam hati bahwa redupnya bulan tak akan menggoyahkan tekadnya. Ia akan berjuang sekuat tenaga, melampaui gelapnya malam, demi memberikan kehidupan yang layak bagi Bulan. Baginya, Bulan adalah bulan sejati yang selalu bersinar dalam hidupnya, meski langit tampak paling kelam.

Keesokan harinya, Mayang memulai langkah baru dengan tekad yang membara. Ia menerima pekerjaan tambahan sebagai penjahit paruh waktu di siang hari, sambil tetap menjadi buruh cuci piring di rumah warga pada pagi hari. Setiap tetes keringat yang jatuh adalah doa bagi masa depan Bulan. Meski lelah sering menghantui, ia tak pernah menyerah. Dalam setiap senyum Bulan yang polos, Mayang menemukan alasan untuk terus melawan gelap, melangkah menuju terang. Ia tahu, suatu saat, bulan di langit akan bersinar lagi, seperti Bulan yang akan tumbuh kuat di bawah cahaya kasihnya.**

Bumi Utara, 22 Desember 2024

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#sawah #Panen #Perempuan #kos #cerpen #kisah #mayang #buruh #kidung #pekerjaan #buruh tani #rembulan #Ladang #Kemarau #Cerita #bulan #media sosial #purnama #pabrik