Oleh:
Khairul A. El Maliky
DENGAN mengayuh sepeda kumbangnya, Pak Zainul pulang dari mengajar di salah satu SMA yang masih satu payung dengan pesantren. Setiap hari ia harus berangkat pagi-pagi dengan mengayuh sepeda kumbang, sebab jarak dari rumah ke sekolah yang harus ia tempuh kurang lebih 30 km. Jadi, pulang-pergi jarak yang harus ditempuhnya total 60 km. Di sekolah tempat ia mengajar, Pak Zainul dikenal sebagai guru matematika dan fisika. Dan, sore itu, sehabis mengajar, Pak Zainul pulang. Tapi, wajah lelaki muda itu tampak kusut masai seperti dirubungi mendung. Ia sama sekali tak bersemangat. Lalu, ia memarkirkan sepeda kumbangnya di teras rumah. Ia duduk di atas bale-bale bambu. Ia menghela napas panjang sambil menatap langit yang kosong. Sekosong hatinya yang hampa. Ia mengeluarkan dompetnya, juga kosong.
"Sudah gajian, Mas?" tanya Amel, istrinya yang masih muda. Lebih muda dari suaminya malah. Pak Zainul usianya 35 tahun, sedangkan istrinya 20 tahun.
Ditanya gaji oleh istrinya justru membuat muka Pak Zainul semakin ditekuk. Sudah tiga bulan ini ia tidak digaji oleh kepala sekolahnya yang juga seorang kiai. Dan ke 15 guru juga senasib dengannya. Bahkan ada yang sudah 7 bulan tak digaji.
"Belum," jawabnya datar.
Sudah lima tahun Pak Zainul mengajar di situ, dan soal gaji yang dibayar terlambat tidak hanya sekali ini saja. Gajinya sih jauh dari cukup. Ia tidak bisa menafikan dengan mengatakan bahwa gaji yang diterimanya jauh lebih cukup. Bahkan istrinya harus pandai-pandai menghemat uang.
"Apakah guru-guru yang lain juga tak digaji?"
"Bukan hanya aku saja, namun juga kawan-kawanku sama. Bahkan, mereka sampai rela menggadai motornya."
Raut muka istrinya pun langsung berubah muram bagai langit mau hujan.
Sebagai guru swasta, Pak Zainul tidak bisa berbuat apa untuk menuntut kepala sekolah. Meskipun ia pernah menempuh pendidikan S2, namun ia tidak pernah berpikir untuk mengikuti ujian PNS. Sebenarnya, ia bisa lolos dan diterima jadi PNS bila ia berniat untuk ikut. Tapi, kita paham sendirilah bahwa untuk bisa diterima sebagai tenaga guru di sekolah negeri tertentu, kita musti nyogok dulu pada negara. Jadi, meskipun Pak Zainul itu jenius, namun ia sama sekali tidak dihargai kejeniusannya oleh negeri ini.
"Kenapa tidak coba mendaftar di sekolah negeri saja, Mas? Yang sekiranya bayarannya tidak sering telat," ujar istrinya yang hanya tamat sampai SMA.
"Dikira daftar ke sekolah negeri itu gampang? Siapa bilang kalau mau mengajar di sekolah negeri itu gampang? Kalau kita mau ngajar di sekolah negeri, kita harus mengikuti ujian CPNS. Aku sih pasti lolos, namun tidak serta merta langsung jadi PNS. Aku kudu nyogok dulu pada negara. Kamu tahu, sepintar apa pun seseorang di negeri ini sama sekali tak ada harganya."
Dalam kekesalannya, Pak Zainul menyalahkan Pak Kiai yang juga kepala sekolahnya. Orang itu telah menzhalimi para guru dengan cara sengaja memperlambat pembayaran gajinya. Padahal, minggu kemarin sekolahnya mendapatkan bantuan kucuran dana BOS dari pemerintah. Lalu, jika gaji para guru tidak dibayar, ke manakah dana BOS tersebut? Apakah kiai yang katanya ahlinya fiqih suka menggarong duit bantuan dari pemerintah? Jika duit bantuan itu tidak diberikan pada guru, digunakan untuk keperluan apa duit sebanyak itu?
"Andai saja ada sekolah lain yang membutuhkan guru fisika, aku lebih baik mengundurkan diri daripada harus mengabdikan diri pada orang yang suka mengentengkan perkara dosa. Tapi kamu tahu sendiri kalau mencari pekerjaan seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami? Dan itu tidak untuk zaman sekarang saja. Sejak zaman dulu, mencari pekerjaan di negeri ini sama saja susahnya. Lucunya, sekarang ada sarjana yang mau menjadi kacungnya bupati."
Pantas saja istrinya cemberut mengetahui suaminya tidak membawa duit gajian. Sebab beras di rumah mau hampir habis. Pulsa token juga sudah seminggu belum diisi. Segala kebutuhan dapur juga sebagian ada yang habis. Ke manakah Pak Kiai tidak berpikir tentang orang lain? Di manakah otaknya diletakkan? Apakah Pak Kiai selama ini mikir pakai dengkul?
***
Bagi kiai, mengajar di pesantrennya adalah sebuah pengabdian yang apabila dikerjakan dengan ikhlas akan memperoleh pahala. Beh, itu lagu lama. Dalam sejarahnya, di atas muka bumi ini tidak satu pun kiai yang memiliki karamah. Semua kiai itu hanya memiliki ilmu hikmah yaitu ilmu sakti yang nabi dan rasul pun tidak punya. Di mana-mana kiai itu mempan terhadap senjata tajam maupun peluru. Bahkan, ada kiai yang konon tangannya bisa menerobos langit. Hal-hal kejadian semacam itulah yang kemudian membuat orang-orang awam menganggap bahwa kiai yang ada di seluruh tanah Jawa ini sakti mandraguna. Padahal, baik wali maupun nabi Allah tidak ada yang sakti macam kiai. Jika benar bahwa kiai memiliki karamah sedemikian hebatnya, berarti para nabi dan rasul bisa protes. Sebab nabi-nabi terdahulu banyak yang meninggal di tangan orang Yahudi. Nabi Muhammad pun giginya berdarah saat dilempar batu.
"Apakah mas tahu, ke mana uang-uang bantuan dari pemerintah itu larinya jika tidak dibayarkan ke guru?"
"Ya mau ke mana lagi kalau tidak dibelikan mobil baru!"
Selain dituntut memiliki ilmu kebal yang kemudian diklaim sebagai karamah, kiai zaman sekarang juga dituntut harus memiliki harta. Jika para sunan Wali Sanga dulu hidupnya zuhud dan bahkan sama sekali tak memiliki harta, berbeda dengan kiai model sekarang. Adakah kiai saat ini yang tidak memiliki mobil dan rumah yang mewah? Lihat Kiai Burhan yang memiliki lahan sawah berhektar-hektar. Kehidupan mereka sangat hedon. Berbeda dengan junjungan yang selalu menjadi bahan cerita mereka setiap ada pengajian. Harta apa yang dimiliki oleh Nabi Muhammad?
"Bertahan. Untuk sementara waktu aku harus bertahan sampai ada sekolah yang membutuhkan guru fisika dan matematika," gumam Pak Zainul.
Ya, dengan kondisi perekonomian negeri kita yang morat-marit macam sekarang, mempertahankan pekerjaan yang ada adalah keputusan yang paling baik daripada mengundurkan diri dan pada akhirnya menjadi pengangguran.
"Lalu, bagaimana dengan menteri pendidikan? Apakah Pak Menteri tidak pernah memikirkan nasib guru di Indonesia? Apakah Pak Menteri tidak kepikiran untuk menyejahterakan guru-guru swasta di negeri ini?"
Pak Zainul seolah mendapatkan pencerahan saat istrinya yang masih muda itu menyentil nama menteri pendidikan. Lalu, dalam otaknya terbetik untuk menulis sesuatu kepada Menteri Pendidikan.
"Kenapa aku tidak mengirim surat saja khusus kepada Mas Menteri? Bukankah Mas Menteri orangnya open mind?"
Kemudian, tanpa berpikir panjang, Pak Zainul mengeluarkan buku dan pena. Ia menyobek selembar kertas, dan di atasnya ia menulis surat cinta untuk menteri pendidikan:
Assalamualaikum, Mas Menteri, Mas Nadiem Makariem...
Begitu panjangnya ia menulis surat. Dalam isi suratnya itu ia memperkenalkan diri sebagai seorang guru swasta yang tinggal dan mengajar di pelosok. Ia menceritakan bahwa sudah tiga bulan ini dirinya tidak dibayar oleh kepala sekolahnya juga pemerintah setempat. Padahal, baru seminggu yang lalu sekolah tempatnya mengajar habis menerima bantuan dana BOS. Ia juga menceritakan bahwa, kepala sekolahnya tidak pernah menggunakan dana hibah dari pemerintah pusat itu untuk kepentingan sekolah, melainkan untuk dirinya sendiri. Ia memohon kepada Mas Menteri Pendidikan agar kehidupan para guru di seluruh Indonesia lebih diperhatikan lagi agar mereka semakin bersemangat mendidik anak-anak bangsa.
"Siapa lagi yang akan menggantikan pemerintahan di masa mendatang kalau bukan generasi bangsa yang terdidik. Dan sudah menjadi tugas para guru di negeri ini mendidik para generasi bangsa itu," tulis Pak Zainul menguatkan argumentasinya.
Dan, tulisan itu ditutup dengan kalimat berikut,
"Atas kebaikan dan kesediaan Mas Menteri dalam memerhatikan kesejahteraan kami para guru di pesantren, saya haturkan ribuan terima kasih. Semoga Mas Menteri dipercaya lagi oleh presiden yang baru sebagai Menteri Pendidikan agar tidak ada lagi kepala sekolah-kepala sekolah bedebah di negeri ini."
Setelah menulis sebanyak tiga lembar surat yang panjang, lelaki muda itu langsung melipatnya. Ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil selembar amplop.
"Aku akan mengirim surat ini ke kantornya Mas Menteri. Mudah-mudahan beliau berkenan dan sudi membaca keluh-kesah anak buahnya yang dirundung nestapa karena tak dibayar-bayar ini," kata Pak Zainul dengan penuh harap.
Keesokan paginya, ketika ia berangkat mengajar, ia menyempatkan diri untuk terlebih dulu mampir ke kantor pos.
***
"Surat untuk Mas Menteri," Pegawai kantor pos yang melayani Pak Zainul membaca nama penerima surat yang ditulis di muka amplop.
Pak Zainul mengangguk. Pegawai kantor pos itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sebenarnya orang itu mau menertawakan hal konyol yang dilakukan oleh lelaki berkacamata itu.
"Kenapa, Mbak? Apakah ada yang aneh dengan surat saya?" Pak Zainul yang mampu membaca mimik muka orang lain bertanya.
"Tidak ada, Pak." Pegawai kantor pos itu menggeleng.
"Apakah karena di situ saya menulis nama Mas Menteri Pendidikan sebagai penerima surat?"
Gadis itu diam sambil mengetik di komputer.
"Mbak sama sekali tidak salah baca. Surat itu memang saya sampaikan kepada Mas Menteri Pendidikan Nadiem Makariem." Pak Zainul mengulum senyum.
Lima menit kemudian, gadis itu selesai mengetik dan menimbang surat, dan Pak Zainul membayar ongkos kirimnya. Setela lelaki muda itu pergi, gadis berseragam oranye itu menoleh ke temannya sambil menyilangkan jari di keningnya. (*)
2024
Editor : Yuan Edo Ramadhana