Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Kota Tua yang Hilang

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 9 November 2024 | 20:00 WIB
Ilustrasi : (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi : (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Khairul A. El Maliky

 

"DI SINILAH Nabi Nuh diutus sama Gusti Allah," kata Pak Tarsun, salah satu tokoh agama yang paling disegani oleh masyarakat yang menganut dua agama berbeda di desa ini. Sepasang netranya menyapu ke hamparan jurang yang seakan pernah menjadi tempat pembuatan kapal raksasa. "Selama 950 tahun beliau mengajak umat manusia agar tidak menuhankan maupun mengultuskan utusan Gusti Allah."

"Tapi, Pak, di buku sejarah Islam yang kita pelajari dari SD sampai SMA bahkan sejak internet masih hitam putih sampai zamannya Starlink, Nabi Nuh itu berdakwah di negeri Irak?" ujarku mengomentari perkataan Pak Tarsun.

Meledaklah tawa Pak Tarsun setelah mendengarkan penjelasanku. Tawanya berderai-derai sampai lelaki paro baya itu batuk-batuk. Lalu sepasang matanya memandang ke arah bekas kota kuno yang diyakini sebagai tempat Nabi Nuh dulu mengajak umat manusia agar menyembah Tuhan yang Esa.

"Kalian itu ditipu oleh para ahli sejarah maupun arkeologi. Kalian mungkin akan merasa menjadi pintar setelah membaca ratusan buku sejarah yang dianggap paling benar. Hahaha." Pak Tarsun kembali tertawa. "Di film, Nabi Nuh digambarkan sebagai nabi yang tak bermoral. Begitu juga dengan Nabi Luth yang digambarkan sebagai nabi yang cinta dunia. Padahal tidak satu pun nabi yang diutus sama Gusti Allah kaya raya. Bahkan Nabi Muhammad pun sangat miskin. Beda dengan ustadz dan habib viral yang memiliki Lambhorgini atau Ferarri. Lantas siapakah yang menggambarkan para nabi seperti itu? Apakah ada bukti valid jika Nabi Nuh adalah orang Mesopotamia? Bukankah Mesopotamia dulunya bagian dari Babilonia dan Assirria?"

Aku sebagai anak muda yang merasa berpendidikan lebih baik pun menciut.

"Benar, Pak."

"Jangankan sejarah tentang Nabi Nuh, sejarah tentang seperti bentuk istana Kerajaan Majapahit saja kita tidak tahu. Coba bayangkan, sejarah tentang Kerajaan Singhasari saja diplintir. Kerajaan Majapahit diplintir. Apalagi sejarah tentang Nabi Nuh?"

Apa yang dikatakan oleh Pak Tarsun memang benar adanya. Belakangan ini memang banyak muncul beberapa ahli sejarah yang mencoba memelintir fakta sejarah terutama yang berkaitan dengan zaman kerajaan di Nusantara. Coba bayangkan saja, Nama Ken Arok dirubah menjadi Khan Aroq. Nama Mahapatih Gajah Mada diganti Gaj Ahmada. Nama Jawa Timur tak luput juga diganti Jawatul Sarqiyah. Nama Sumatra diganti Assamatori. Nama Makasar dirubah menjadi Al Maqasari. Nama Maharaja Hayam Wuruk pun diganti Haji Khayyam Wuruq. Memangnya orang Arab dalam hal ini para pendakwah lebih dulu mana munculnya dari Kerajaan Tarumanegara? Tidak hanya itu saja. Para nabi dan rasul mereka klaim berasal dari negara mereka. Apa pantas seorang nabi yang memiliki akhlak disebut sebagai bagian dari masyarakat yang moralnya sangat bejat?

Di mana letak bejatnya orang Arab dan Timur Tengah? Alasan diutusnya Nabi Nuh lah jawabannya yang paling tepat.

"Nabi Nuh adalah seorang nabi yang memiliki akhlak. Beliau diutus sama Gusti Allah agar membimbing kembali manusia yang sudah menyimpang jauh dari ajaran Nabi Idris," lanjut Pak Tarsun. "Saat itu manusia memang dalam kondisi krisis moral. Mereka sama sekali tak memiliki akhlak. Ya macam zaman kalian para anak muda ini. Ngakunya pinter-pinter tapi moralnya bejat."

Aku tidak perlu merasa emosi kenapa Pak Tarsun mengatakan demikian, sebab kenyataannya memang benar. Sekarang mana ada manusia yang tidak kritis dalam menanggapi suatu pernyataan yang tidak hanya menyangkut soal politik, tapi juga terhadap hukum, bahkan keyakinan. Mereka sudah tidak bisa dibodoh-bodohi dengan segala teori tentang agama. Tapi lihatlah kelakuan mereka. Bejat. Kenapa? Karena manusia zaman sekarang terlalu mengandalkan akalnya sehingga akal dijadikan sebagai Tuhan.

"Dalam kisahnya diceritakan bahwa bahan pembuatan bahtera Nabi Nuh berasal dari kayu uka-uka ya, Pak?"

Mendengar aku menyebut nama kayu uka-uka atau yang dalam bahasa Arabnya Kaukah, tawa Pak Tarsun kembali meledak. Aku jadi salah tingkah.

"Kayu uka-uka?" Dahi lelaki itu terlipat macam kain jemuran.

Aku mengangguk.

"Kayu yang dibuat untuk bahtera itu adalah kayu yang berwarna merah atau kayu pohon jati. Di mana pohon jati tumbuh? Di Irak? Di Mesir? Atau di Saudi?"

"Di pulau Jawa, Pak," jawabku pendek.

"Pohon jati hanya tumbuh di Pulau Jawa. Begitu juga pohon kamper tumbuh di Kalimantan.  Pohon-pohon surga hanya ada di Nusantara ini. Orang Arab sejak dulu sudah iri dengan orang Jawa. Makanya semua yang berhubungan dengan Tuhan dan surga diklaim berasal dari sana."

Aku mengangguk. Dalam novel yang ditulis Sibel Eraslan, aku pernah membaca bahwa pohon-pohon surga tumbuh di sepanjang Sungai Nil. Sebab Sungai Nil dalam hadis disebut sebagai salah satu sungai di surga.

"Kenapa memangnya, Pak? Bukankan mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Nuh?"

"Keturunan Nabi Nuh kok suka membunuh?"

*

"Lihat saja di video itu. Mana ada manusia yang mengaku sebagai keturunan Nabi Nuh memenggal kepala sesama Islamnya karena hanya berbeda mazhab? Mana ada keturunan Nabi Nuh mengebom sesama keturunan Nabi Adam hanya karena beda masjid atau beda agama? Apakah Nabi Nuh sebejat itu?"

Tentu saja tidak. Islam kan bukan agama pedang?

"Adalah orang Arab benci dan iri terhadap orang Jawa adalah bahwa Gusti Allah menjadikan pulau Jawa sebagai tempat pijakan pertama Nabi Adam ketika diturunkan dari surga. Nabi Adam diturunkan di Jawa Timur, sedangkan Hawa diturunkan di Jawa Barat," Pak Tarsun bercerita. "Tujuh daun surga yang dibawa oleh Hawa tersebar di Nusantara, bukan di Arab."

Aku mengangguk. Baru kali ini aku mengetahui sejarah asli Nabi Adam yang apabila sampai terdengar di telinga para pemuka agama pasti mereka akan kebakaran jenggot demi membela negara Arab, negara asalnya Abu Jahal dan Abu Lahab.

"Di sini pula Gusti Allah mengutus Nabi Nuh. Kenapa? Sebab pada zaman itu masyarakat Jawa menyekutukan Gusti Allah dengan para utusannya. Begitu juga dengan para nabi selanjutnya. Semuanya diutus ke sini."

"Apakah termasuk Nabi Musa, Pak?"

Pak Tarsun mengangguk.

"Bukannya Nabi Musa diutus ke Mesir, Pak?"

Pak Tarsun terkekeh-kekeh membuatku menelan saltiva.

"Kamu coba lihat bagaimana kelakuan orang-orang Mesir! Masak Nabi Musa pernah kencing dekat dengan masjid, berdiri kayak anjing lagi?"

Aku menggelengkan kepala.

"Apakah Nabi Musa pernah mengajarkan agar orang-orang Yahudi membunuh yang bukan Yahudi? Apakah pernah Nabi Yakub menyuruh pengikutnya agar memperkosa anak kandungnya sendiri? Apakah pernah Nabi Muhammad menyuruh agar orang yang tidak sealiran dengannya dipenggal?"

Aku kembali menggeleng.

"Itu semua adalah perbuatan bejat orang Arab yang sedari dulu sudah mendarah daging. Atas alasan kebencian mereka yang membara lalu mereka menyebut bangsa Jawa adalah bangsa penjajah," lanjut Pak Tarsun dengan berapi-api.

Belakangan memang sering aku menemukan tulisan-tulisan yang berisi tentang anti Jawa. Dan ternyata mereka adalah manusia yang masih memiliki darah Arab. Mereka menulis berbagai propaganda agar seluruh pulau di Nusantara ini kompak menyebut sebagai bangsa penjajah.

"Bukankah yang layak disebut sebagai penjajah adalah bangsa Arab sendiri, Pak?" tanyaku dan Pak Tarsun mengangguk. "Bani Umayyah di bawah komando Muawiyyah bin Abi Sufyan Al Harb misalnya yang menjajah Damaskus? Padahal Nabi Muhamnad sendiri tidak pernah menyuruh demikian?"

"Ah, susah memang kalau ngomong soal fakta sejarah. Gegara kebudayaan Arab, kebudayaan asli milik kita hampir saja musnah. Keraton Majapahit tak berupa, Keraton Dahanapura juga hilang tanpa bekas, Kerajaan Tarumanegara, Kalingga, Singhasari, dan Kutai pun kita tidak tahu seperti apa bentuknya. Semua milik kita musnah tak berbekas," desah Pak Tarsun. "Hanya tempat inilah yang masih tersisa."

Aku masih belum yakin kalau di desa Jurang Perahu inilah dulu, ratusan ribu yang lalu ada seorang lelaki yang diutus oleh Tuhan untuk berdakwah kepada masyarakat sekitar sini. Selama 850 tahun lelaki itu mengajak manusia agar kembali menyembah Allah. Tapi selama 950 tahun, manusia yang mengikuti seruannya hanya 80 orang saja. Lantas mereka mengusirnya sehingga Allah menyuruh nabi-Nya agar membuat bahtera yang terbuat dari kayu jati.

"Lalu, di manakah bahtera Nabi Nuh saat ini, Pak?" tanyaku bodoh 

Pak Tarsun mendekatiku lalu menunjuk ke dadaku.

"Bahtera Nabi Nuh itu simbol dari jiwa manusia. Di dalam jiwa manusia penumpangnya sangat banyak. Ada sifat dengki, iri, dendam, sombong, picik, bodoh, pelit, munafik, bangga diri, emosi, juga ada sifat jujur, amanah, cerdas, pintar, pemaaf, pemberi. Lalu apa simbol dari babi? Makanan-makanan yang berasal dari perbuatan yang haram. Babi kan dikasih makan kotoran? Entah itu makanan dari hasil menipu, mencuri, korupsi, dan perbuatan-perbuatan haram lainnya. Itulah babi."

Hari ini aku menemukan seorang guru ahli sejarah yang jauh lebih pintar daripada guru besar sejarah dunia yang hanya menulis buku penelitian demi memperoleh penghargaan.

"Bagaimana, Nak Akmal?" tanya Pak Tarsun. "Apakah kamu masih ragu dengan fakta sejarah yang telah saya tuturkan?"

"Sama sekali tidak, Pak.

*

Sungguh aku merasa takjub dan merasa beruntung karena berdiri di atas bekas kota kuno yang hilang setelah disapu Tsunami. Sekilas aku membayangkan kalau Tsunami itu datang dari dua laut yang berbeda, Laut Jawa dan Pantai Selatan. Lalu, aku membayangkan lagi apa yang dikatakan oleh Pak Tarsun bahwa bahtera adalah simbol jiwa-jiwa manusia masa mendatang yang diombang-ambingkan oleh Tsunami ambiguitas. Di dalam jiwa-jiwa terdapat berbagai macam sifat yang diwariskan oleh pendahulunya. Di dalam jiwa itu juga terdapat babi yang dapat menghalangi jalan ketuhanan. (*)

 

2024

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Pembuatan #Kota Tua #kapal #nabi nuh #cerpen #arab #kisah #lembar budaya #nusantara #agama #SD #sejarah #islam #sma #Cerita #kota kuno