Digelar rutin setiap tahun, pada hari Jumat Pahing. Dirangkai dengan kesenian langen tayub.
DEWI SAFITRI, Bojnegoro.
ASAP dapur mengepul di permukiman warga Desa Sumberarum, Kecamatan Dander. Aroma ayam panggang di atas tungku api menggoda siapa saja yang melewati.
Tidak hanya bersumber dari satu rumah, aroma lezat ayam panggang utuh tersebut tercium hampir di setiap kediaman warga. Untuk kegiatan sedekah bumi yang dilaksanakan setiap setahun sekali di Dusun Gua Sumur, Desa Sumberarum, Kecamatan Dander.
Siti, salah satu warga Desa Sumberarum mengatakan, tradisi sedekah bumi atau sering disebut dengan Manganan Gua oleh warga sudah ada sejak zaman nenek moyang. Dilakukan turun temurun setiap satu tahun sekali di hari Jumat Pahing.
Dalam tradisi Manganan Gua, setiap warga membawa ambeng yang berisi nasi, lauk-pauk, jajanan, dan paling penting ayam panggang utuh. Di bawa ke Gua Sumur untuk bancaan, kemudian dilakukan pembagian dan tukar ambeng.
‘’Wajib melakukan pembagian dan tukar ambeng. Setiap warga tidak boleh mendapat ambengnya sendiri,’’ terangnya.
Menurut ibu dari dua anak tersebut, kegiatan sedekah bumi dilakukan ful satu hari. Diawali dengan syukuran dengan membawa ambeng di lokasi Gua Sumur pada pagi hingga siang hari. Kemudian, dilanjut dengan acara hiburan langen tayub pada siang hingga sore hari di lokasi yang sama.
Menariknya, pada waktu langen tayub dimainkan, terdapat tradisi kaul. Yakni, pemenuhan nazar yang diucapkan oleh keluarga saat harapannya tercapai.
Misal, anaknya mengalami sakit dan orang tua berjanji kalau sembuh akan kaul. Maka, saat diberi kesembuhan, anak tersebut diajak menari bersama para sinden saat hiburan langen tayub berlangsung.
‘’Setelah hiburan di Gua. Acara dilanjut dengan hiburan serupa di Balai Desa Sumberarum,’’ tambahnya.
Dia menyampaikan, bahwa sedekah bumi ini merupakan wujud dari rasa syukur masyarakat setempat kepada Tuhan dan alam semesta. Karena telah diberikan hasil bumi yang melimpah dan bermanfaat. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana