Oleh:
Laras Gupitasari
Penikmat sastra, tinggal di Perumahan Gajah Indah Baureno
Tampil mbois. Tetap stylist meski dengan low budget. Itulah gaya berbusana Ricky yang kelihatan berkelas. Awalnya tidak punya modal cukup untuk belanja baju baru. Jurus peribahasa tidak ada rotan akarpun jadi, menjadi solusi.
Sering mengunjungi display di lokasi thrifting, untuk menyebut area gombalan atau sekenan. Pajangan berbagai pakaian bekas yang berkelas. Meski second, namun tetap terlihat premium dan bernilai tinggi.
Jadilah fashion tampilan Ricky menjadi daya tarik lawan jenis untuk menjalin pendekatan. Pacaran dengan banyak gadis pesuka tampilan mbois. Bahasa jawanya, besus. Selalu tampil rapi jali. Hingga banyak anggota pertemanannya yang penasaran.Semakin banyak pengikutnya di akun media sosial aneka platform.
Penampilannya yang keren, kelihatan berkelas dan kekinian membawa pengaruh dalam hidup keseharian. Sehingga popularitasnya di dunia nyata dan maya meningkat tajam. Akun medsosnya di facebook, line, WhatsApp, tik-tok hingga youtube banyak direspon positif oleh netizen.
"Wah makin keren saja, Kang Ricky!" komentar salah satu netizen cewek seusai dia mengunggah foto terbaru.
"Kapan nih, bisa ngobrol bareng?" sahut Nita, salah satu anggota group we-a yang terang-terangan naksir lajang seperempat abad tersebut.
"Tampilan modis bak artis tenar,Mas Ricky!?" puji Hendra salah satu kenalan youtuber yang tengah membangun konten..
Seperti biasa Ricky hanya merespon dengan berbagai mention. Tidak banyak komentar dengan jawaban yang berlebihan. Dari situ kelihatan jika Ricky sejatinya jenis cowok yang jaim. Jaga imej. Tampil sedikit nyombong untuk membangun popularitas dan kualitas diri.
Sebagai pemusik anyaran yang belum tenar, tampilan dan kemampuan bermusiknya cukup menjanjikan. Citra sebagai pemusik berbakat mulai terbangun di mata follower dan beraneka pertemanan. Sebuah jalan panjang membentang yang siap diretas oleh anak milenial di jagat digital.
Membangun konten youtube dengan serius fokus dunia musik dan fashion telah menjadi pilihan. Subcribernya sudah mencapai puluhan ribu. Ini adalah momentum untuk melangitkan citra diri demi membangun konten yang tidak sekedar mengerek popularitas tapi juga dapat menghasilkan cuan.
Meski namanya sebagai seniman music sedang naik daun, namun demikian kesukaannya menyambangi lokasi thrifting tidak berkurang. Lokasi Dedy, salah satu langganannya di salah satu lokasi di Surabaya menjadi jujugan. Kiriman barang supplier yang telah dilaundry dan didisplay di lokasi tersebut selalu dikunjungi. Pilih-pilah mana yang belum dipunyai dan niscaya dibeli demi melengkapi koleksi. Barang-barang dari Singapura, Tiongkok, Australia hingga Amerika.
Kebiasaan Ricky yang gemar memilah memilih pakaian lungsuran berkelas tersebut memang sejalan dengan trend berkecenderungan vintage. Semakin berusia tua pakaian, semakin bertambah nilai jualnya. Seperti koleksi barang seni, semakin klasik dan berumur tua, semakin tinggi nilai finansialnya.
Pun pula kebiasaan berbelanja barang bekas, orang awam menyebutnya gombal, menjadi tren di kalangan milenial. Terutama untuk produk-produk fashion, semacam baju, celana, topi, hingga sepatu sacond hand. Apalagi event Thrifter Society di berbagai tempat yang diikuti banyak owner mulai digelar.
Di event tersebut pula, Ricky tertaut ketertarikan hatinya pada seorang gadis cantik bernama Monalisa. Tipe wanita yang menjadi selera dan idaman hatinya. Gadis berpenampilan energik dan cenderung agresif. Umuran anak kuliah dan katanya status masih lajang.
Klop!! Sesama penyuka fashion, dan pencari jati diri di bidang seni. Pertemuan tersebut menjadi jalan awal membangun kelindan rasa cinta. Saling suka menjadi modal menjalin hubungan lebih jauh. Ketertarikan antara pria dan wanita yang menemukan momentumnya.
Padahal berulangkali ayah dan ibu Ricky sering menasehati agar segera memcari jodoh. Umur yang seharusnya sudah membangun mahligai rumah tangga.Tapi semua saran dan harapan tersebut dianggap angin lalu. Tak pernah ditanggapi dengan serius.
"Nak, kamu harus sudah memikirkan masa depanmu. Kuliah sudah rampung. Bisnis rumah kos-kosan sudah berjalan, kamu tinggal lanjutkan. Mumpung rintisan kariermu di bidang seni sedang berkembang. Segeralah mencari teman hidup yang sesuai suara hatimu," pitutur Ahmad ayahnya, di suatu kesempatan.
Wejangan lumrah dari seorang ayah terhadap putra kesayangan yang telah mencapai usia berumah tangga. Meskipun, lagi-lagi sang anak belum berkomentar sepatah kata pun.
"Sebetulnya Pak Lurah Wicaksana secara guyonan juga pernah berharap kau jadi menantunya, Nak?" sambung ibunya dengan suara lembut.
Ricky terkaget. Tak menyangka jikalau orang tuanya hendak menjodohkannya. Baru tahu jika ayah ibunya telah berinteraksi dengan lurah di desanya. Perjodohan yang wajar karena keduanya pernah menjalin pertemanan ketika sekolah dan kuliah. Bahkan saat kontestasi pilkades, pak Ahmad menjadi botoh atau tim sukses pak Wicaksana.
Cerita tersebut juga disampaikan kepada Riky dengan harapan dapat meluluhkan hatinya. Lagi-lagi berbagai santiaji dari orang tuanya tersebut tak ditanggapi sepenuh hati. Hanya dijawab dengan sikap diam. Meski mendapati sikap demikian, ayah ibunya sudah mengerti apa yang ada dalam hati buah hati yang disayang.
"Kalau kau belum punya pilihan, dintara keluarga kita banyak calon gadis sahaja yang cocok untuk merintis masa depan denganmu. Diantara mereka kita sudah tahu kepribadian karakternya. Tidak ibarat membeli kucing dalam karung Membangun rumah tangga, bukan sekedar hidup bersenang-senang,tetapi demi melanjutkan keturunan" pitutur ayahnya sekali lagi.
“Memilih karena kecantikan sesungguhnya tidak salah. Namun kita perlu menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurn di dunia ini. Demikian juga tidak ada calon pasangan hidup yang sempurna sesuai dengan keinginan kita. Pasti selalu ada kekurangannya. Jangan sampai terlalu pilih-pilih, khawatir keblondrok kata orang jawa.” Sambung ibunya penuh harap pun nasehat.
Mendengar kalimat dari ayah-ibunya, Ricky merasa tidak suka. Karena baginya, cinta adalah urusan rasa. Oleh karenanya, ia segera meninggalkan lokasi perbincangan. Memilih masuk ke kamar tidurnya, mengunci diri.
Namun demikian, sambil terlentang di atas tempat tidur. Coba diputar ulang saran wejangan orang tua untuk segera memilih teman hidup. Digelar digulung berkali dalam pikirannya. Lalu terlintas dalam hatinya, pitutur luhur itu serasa ada benarnya. Namun suara hatinya bergulat, cinta bukan hitungan matematika usia. Sejatinya cinta dan suka berkelindan dengan urusan rasa.
Perang batin tersebut terus berkecamuk dalam dada. Memang urusan menjatuhkan asmara berbeda dengan urusan memilih pakaian yang sudah rutin dilakukannya. Urusan tampil mbois, sudah menjadi rutinitasnya. Berbagai thrifing shop sudah lengkap dikunjungi. Namun urusan perjodohan, Ricky masih belum punya jam terbang. Meski sesama segmentasi penyuka thrifty, Monalisa cewek yang baru dikenal belakangan. Belum diketahui karakter,kepribadian, dan cerita jalan hidup masa lalunya.
Kadang Riky tak tahu asal muasalnya.Tiba tiba rasa suka dan ketertarikannya kepada Monalisa seperti terhipnotis japamantra. Sekonyong menyukai gadis tersebut dengan rasa cinta sepenuh jiwa. Kondisi yang tak pernah dialami sebelum bertemu dengan gadis yang dipuja tersebut.
Hari demi hari telah dilalui bersama. Tiba-tiba ada perasaan galau. Ragu-ragu.Kadang pernuh kepercayaan diri. Silih berganti. Ketika Monalisa merajuk segera menikahi, dia tak punya argumentasi lain untuk menolaknya. karena hubungan intim yang telah dijalani sudah terlalu jauh. Sehingga segala yang dimaui Monalisa langsung dituruti. Manut nurut. Seperti kerbau dicocok hidung.
"Perutku sudah isi lho, Mas. Kita harus meresmikan hubungan ini secepatnya," pinta Monalisa dengan serius namun manja.
Ditembak kalimat menyudutkan, Ricky sempat gelagaban. Sejenak terdiam.Tak kuasa berkata-kata. Seperti tak percaya awalnya.
"Em... Apa benar? Bukankah kita belum lama berhubungan badan?" kata-kata Ricky terbata.
Hatinya masih banyak dihinggapi tanda tanya. Bukankah hubungan badannya belum genap dua bulan.
"Benar lho, Mas, aku sudah tidak datang bulan lagi," sahut Monalisa dengan rayuan meyakinkan.
Ricky, meski belum yakin dengan situasi dan kondisi yang tengah dihadapi, namun tak bisa lari dari kenyataan. Setelah berputar-putar hati dan pikiran. Saatnya mengambil sebuah keputusan. Pasrah, hanya bisa mengiyakan permintaan untuk menikahi kekasih yang telah berbadan dua.
Kedua orang tuanya dikabari. Untuk merestui pernikahannya dengan Monalisa. Orang tua sempat kaget. Begitu tiba-tiba anak semata wayangnya mau menikah. Tak ayal ayah ibu kelihatan amat bahagia. Terlihat pancaran air mukanya. Juga sunggingan senyum yang terus mengemuka.
Walau saran wejangan untuk merengkuh gadis sahaja putri pak lurah ditolaknya. Semua itu tidak menjadi masalah asal anak semata wayangnya mau menikah. Bahkan cerita-cerita miring tentang calon menantu tak dihiraukannya. Lebih memilih pasrah menerima teriring doa terbaik demi kebahagiaan sang putera. Anak satu-satunya yang diharap menjadi sandaran kelak di usia senja.
“Kau sudah benar mencintai lahir batin,Nak?” tanya ayahnya menyelidik saat berkumpul di ruang keluarga.
“Ibu ayah hanya manut apa yang telah engkau pilih. Percaya hal tersebut yang terbaik bagi masa depanmu,Nak” sahut sang ibu menguatkan pilihannya.
“Mohon maaf ayah ibu, aku belum bisa memenuhi harapan. Apa yang ayah ibu sampaikan berkali-kali benar adanya. Namun kini aku sudah terlanjur mencintai gadis yang sebenarnya belum lama aku kenal. Belum paham kepribadiannya secara menyeluruh” respon Riky berbau penyesalan.
“Kalau kau sudah mantab untuk menjalani kehidupan berumahtangga. Jangan semua gunjingan orang ditelan mentah-mentah. Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan ada konsekwensinya” nasehat ayahnya sambal memandangi dalam-dalam.
“Yang terpenting kau sudah saling cinta. Saling menerim kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kau sudah saling suka kan?” ayahnya menanya kesiapan.
Riky tak merespon dengan kata-kata. Cukup mengangguk sebagai tanda setuju. Mengiyakan apa yang disarankan kedua orang tua. Meski sejatinya masih terbersit rasa bimbang.
Semua kelengkapan menyambut perhelatan pernikahan sudah siap. Pahargyan hendak dilaksanakan secara meriah. Bagi Ahmad sekeluarga, ini adalah momentum langka. Sekaligus sebagai rasa syukur, sang anak sudah menambatkan hati untuk membangun rumah tangga.
Ijab kobul dilaksanakan pagi sebelum rangkaian acara resepsi. Dilaksnakan di rumah sendiri. Ditempatkan di rumah pengantin pria sesuai kesepakatan. Kehadiran penghulu telah memulai dengan pemeriksaan berkas kedua calon pengantin. Lama penghulu meneliti berkas seperti ada data yang disangsikan validitasnya. Namun kemudian diterima sebagai sebuah persaratan melangsungkan pernikahan secara legal.
Kekhusukan prosesi ijab kobul begitu terasa. Meski tak begitu banyak yang hadir menyaksikan, namun pelaksanaan berjalan lancar tanpa hambatan. Pengiring pengantin putri yang tak banyak sempat menjadi rasan-rasan. Namun oleh keluarga tidak dipermasalahkan.
Resepsi siang harinya mengundang keluarga dan kolega dari berbagai kalangan.Pasamuan meriah dengan menyewa catering ternama. Diisi hiburan yang memanjakan para tamu undangan
Rangkaian acara berjalan tanpa hambatan. Mulai dibuka penata acara. Panggih penganten, sungkeman kepada kedua orang tua, dan serah terima perwakilan penuh canda tawa. Tamu undangan tumpah ruah menyiratkan kegembiraan. Begitu juga kebahagiaan kedua mempelai di tengah-tengah keluarga. Meski pengantin putri diam-diam telah berbadan dua, namun semua itu tak kentara.
Saat acara hiburan dibarengi dengan photo bersama oleh tim shoting video yang sudah dipersiapkan. Pengambilan gambar secara bergantian mulai dari kedua keluarga mempelai hingga handaitaulan dan kawan-kawan.
Di tengah acara foto keluarga, tiba-tiba datang seorang anak perempuan usia TK menuju kwade penganten. Berlari menghampiri lalu menubruk Monalisa dengan tangis menghiba.
“Ibuuuu….aku ikut foto….”
Hadirin kaget tercengang. Keluarga pengantin pria tertegun tak percaya. Riky terpaku tak menyangka. Kepalanya mendadak pening. Bumi terasa berputar. Lalu terjatuh limbung di atas kwade penganten. Acara foto menjadi kacau. Semua mengerubungi laki-laki yang tak sadarkan diri. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana