Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Tumbangnya Pohon Beringin

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 22:00 WIB
Tumbangnya Pohon Beringin. (GRAFIS: AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Tumbangnya Pohon Beringin. (GRAFIS: AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Suharsono A.Q.S.
Guru Bahasa Indonesia mengajar di MAN 1 Lamongan

 

DUSUN Werengen Anom adalah sebuah kampung tua yang sudah sejak lama berdiri. Sebuah kampung tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan dan berkeloknya jalan setapak, menyimpan kenangan masa lalu yang seakan-akan beku dalam waktu. Rumah-rumah tradisional dengan atap yang terbuat dari ijuk atau daun nipah masih berdiri kokoh, meski sebagian telah ditelan lumut dan ditumbuhi tanaman liar. Dinding-dinding kayunya yang sudah mulai lapuk menceritakan kisah-kisah yang tak terhitung jumlahnya, tentang kehidupan sederhana dan kebersamaan yang pernah mewarnai tempat ini. Di pojok kampung, berdiri kokoh sebuah pohon beringin tua yang sudah berusia ratusan tahun. Batangnya besar dan kuat, dengan kulit yang kasar dan berwarna kecoklatan tua, dipenuhi guratan-guratan alami akibat usianya. Akar-akarnya menjalar ke segala arah, beberapa di antaranya mencuat ke permukaan tanah seperti ular besar yang melingkar di sekeliling pohon. Akar gantungnya menjuntai dari dahan-dahan tinggi, memberikan kesan anggun sekaligus misterius. Daun-daunnya lebat, hijau gelap, dan rimbun, membentuk kanopi yang luas sehingga sinar matahari hanya menembus tipis di sela-sela dedaunan. Ranting-rantingnya yang kokoh merentang lebar, seakan memberikan naungan dan perlindungan bagi desa di bawahnya.

Suara gemerisik dedaunan sering terdengar ketika angin berhembus pelan, menambah suasana tenang dan damai di sekitar pohon. Pohon beringin ini bukan hanya sekedar pohon bagi penduduk desa, melainkan simbol kekuatan dan ketahanan. Banyak cerita dan mitos yang berkembang di sekitarnya, tentang roh penjaga desa yang bersemayam di dalamnya atau pertemuan-pertemuan penting yang sering diadakan di bawah naungannya. Hingga kini, pohon itu tetap berdiri megah, menjadi saksi bisu dari perjalanan waktu dan kehidupan di desa tersebut. Di sekitar kampung, hamparan sawah yang hijau terbentang luas, menyatu dengan bukit-bukit kecil di kejauhan. Para petani yang masih bertahan di kampung ini bekerja dengan cangkul dan bajak tradisional, mengandalkan tenaga kerbau untuk membajak sawah. Suara burung-burung yang berkicau di pagi hari dan gemericik air dari sungai kecil yang mengalir di pinggir kampung menciptakan suasana tenang yang hampir tidak tersentuh oleh modernitas.

Jalan-jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga dipenuhi dengan batu kerikil, dan sesekali, anak-anak kampung tampak bermain dengan riang, berlari di antara pohon-pohon besar yang telah ada selama ratusan tahun. Di pojok kampung, sebuah pohon beringin raksasa berdiri dengan akar-akarnya yang menjalar ke segala arah, memberikan kesan angker namun dihormati oleh penduduk. Di bawah naungan pohon ini, terdapat sebuah mata air yang jernih, di mana para penduduk biasa mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Mata air ini dianggap sakral oleh penduduk kampung, dan ada berbagai mitos serta cerita yang mengelilinginya. Setiap tahun, pada bulan tertentu, penduduk kampung mengadakan upacara adat di sekitar mata air ini, memanjatkan doa kepada leluhur agar kampung mereka tetap aman dan makmur. Meskipun perkembangan desa semakin mendekat, kampung tua ini tetap mempertahankan tradisi dan kebudayaannya. Para penduduknya hidup dengan sederhana, menjaga warisan nenek moyang mereka dengan penuh kebanggaan. Di sini, teknologi modern hampir tidak ditemukan, dan penduduk lebih memilih cara hidup yang selaras dengan alam. Kampung tua ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol dari masa lalu yang masih hidup dalam hati dan ingatan setiap orang yang pernah menginjakkan kaki di sana.

Di tengah kasak-kusuk yang terus berkembang, tersiar kabar bahwa sebuah beringin tua yang telah berdiri selama lebih dari seratus tahun akan segera ditumbangkan. Pohon itu telah menjadi simbol sejarah dan bagian penting dari budaya setempat. Namun, rencana pembangunan baru, yang melibatkan perluasan jalan dan pendirian gedung-gedung, membuat keberadaan pohon itu menjadi terancam. Banyak yang merasa prihatin dan kecewa, mengingat beringin itu bukan hanya sekadar pohon, tetapi juga saksi bisu perjalanan waktu yang panjang masyarakat di sana. Berbagai komunitas dan warga lokal mulai bersuara. Mereka mengajukan petisi, menggelar aksi protes damai, dan mengirimkan surat terbuka kepada pemerintah desa. Bagi mereka, beringin tua ini adalah warisan yang tidak ternilai, sebuah penanda identitas desa yang semakin terkikis oleh modernisasi. Mereka berpendapat bahwa pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan, tanpa harus mengorbankan sejarah dan keindahan alam. Namun, di sisi lain, pihak pemerintah desa dan pengembang  berargumen bahwa proyek ini akan membawa manfaat ekonomi yang besar bagi perekonomian desa nantinya. Jalan baru akan memudahkan akses jalan. Transportasi akan lebih lancar dan gedung-gedung baru akan menyediakan banyak lapangan pekerjaan bagi warga desa. Bagi mereka, kemajuan tidak bisa dihindari, dan terkadang, pengorbanan harus dilakukan demi kepentingan yang lebih besar. Meski demikian, mereka berjanji lagi akan memberikan kemanfaatan bagi perekonomian masyarakat desa.

Debat pun terus berlangsung, dengan warga desa terpecah antara keinginan untuk mempertahankan sejarah dan kebutuhan akan perubahan. Sementara waktu terus berjalan, bayangan alat berat semakin mendekat ke pohon beringin tua itu. Nasib beringin tersebut, yang dulu begitu kokoh berdiri, kini berada di ujung tanduk, menunggu keputusan akhir yang akan menentukan apakah ia tetap menjadi bagian dari wajah desa atau hanya tinggal kenangan. Pemerintah desa dan kontraktor masih gigih dalam bersikap.  “Atas nama pembangunan, pohon beringin itu harus dilenyapkan. Demi tata wajah pedesaan yang lebih modern.” Katanya penuh ambisi.**

Alat berat pagi ini mulai mendekat, beberapa warga berkumpul, mencoba menghentikan proses penebangan. Suara protes mereka tenggelam oleh deru mesin-mesin besar yang mulai merobek tanah di sekeliling beringin. Warga yang lebih tua menangis menyaksikan akar-akar pohon yang terbongkar dan dahan-dahan yang dipatahkan satu per satu. Rasa tak berdaya menghantui mereka, menyadari bahwa kekuatan modernisasi telah menelan sesuatu yang tak tergantikan. Pohon itu akhirnya tumbang dengan gemuruh yang menyakitkan hati, dan dengan itu, sepotong sejarah desa turut terkubur bersama akarnya. Kini, di tempat beringin tua itu berdiri, hanya ada tanah kosong yang menunggu untuk diaspal. Rencana Gedung-gedung dan jalan raya yang baru mungkin akan membawa kemudahan bagi kehidupan modern, namun sebuah kehangatan, naungan, dan kenangan telah lenyap selamanya. Bagi mereka yang mengenal beringin tua itu, kehampaan ini tak bisa diisi oleh apa pun, dan setiap kali mereka melintasi jalan baru itu nanti, bayangan raksasa beringin tua akan selalu terpatri di ingatan. Saat debu dan daun kering mulai turun, suasana menjadi sunyi. Hanya sisa-sisa raungan boldozer yang masih terdengar samar di kejauhan. Warga desa mendekati reruntuhan pohon beringin itu dengan perasaan campur aduk antara kehilangan dan ketidakpercayaan. Pohon yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan keteguhan mereka kini terbaring tak berdaya di tanah.

Tetua adat, seorang pria tua dengan rambut memutih yang terikat rapi di belakang kepala, berdiri mematung, pandanganya ke arah pohon beringin yang besar dan rimbun, satu-satunya yang tersisa dari puluhan lainnya yang telah ditebang. Wajahnya keriput, namun matanya memancarkan kilatan api kemarahan yang tidak bisa disembunyikan. Di bawah tatapan tajamnya, alat-alat berat menderu, merobek tanah sakral yang telah dihormati oleh generasi demi generasi. Setiap bunyi bulldozer yang meraung seolah menembus hatinya, membuat amarahnya semakin membara. Dengan suaranya yang serak dan penuh getaran emosi, ia berbicara kepada para pekerja dan pejabat desa yang berdiri di depannya. Suaranya menggema, seakan angin dan tanah mendukung setiap kata yang diucapkannya. "Kalian telah melukai jantung dari desa ini," katanya, menunjuk pohon beringin yang sudah mulai dirusak. Pohon itu bukan hanya sekedar pohon bagi mereka; itu adalah simbol kehidupan, tempat roh leluhur berdiam, dan penjaga keseimbangan alam. Setiap dahan yang ditebang adalah luka yang menyayat hati. Para penduduk kampung berdiri dengan tatapan kosong, seolah-olah kehilangan arah. Mereka bergerak lambat, seperti dalam mimpi yang tak berujung, menyaksikan kerusakan yang ditinggalkan oleh pohon beringin yang tumbang. Beberapa di antara mereka berusaha membersihkan puing-puing, namun usaha mereka tampak sia-sia, seakan-akan setiap gerakan mereka hanya menambah berat beban yang mereka rasakan.

Di tengah-tengah suasana duka ini, beberapa orang berkumpul di bawah sisa-sisa batang pohon beringin yang kini terbaring di tanah. Mereka berbicara dengan lembut, merenungkan kenangan-kenangan yang terhubung dengan pohon tersebut. Tempat mereka bermain di masa kecil, tempat berkumpul dan berbagi cerita. Ada rasa kehilangan yang mendalam, seolah-olah bagian dari identitas kampung itu sendiri telah runtuh bersama pohon beringin tersebut. Namun, di balik kesedihan yang merundung, ada pula semangat yang mulai muncul. Dengan tangan-tangan yang lelah dan hati yang penuh harapan, penduduk kampung mulai merencanakan bagaimana mereka akan membangun kembali kehidupan mereka. Mereka berbicara tentang menanam pohon baru, memulai tradisi baru, dan menemukan kekuatan dalam kebersamaan. Saat matahari terbenam, menambah rona merah pada langit yang sudah kelabu, sebuah rasa tekad mulai menyusup ke dalam setiap jiwa di kampung. Mereka tahu bahwa meskipun kampung terasa mati saat ini, kehidupan dan harapan masih ada di dalam diri mereka. Pohon beringin yang tumbang bukan hanya meninggalkan kehampaan, tetapi juga membuka jalan bagi pemulihan dan kebangkitan yang baru. ***

 

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#suasana #keteguhan #Menanam #perekonomian #dusun #tradisional #duka #rumah #pohon beringin #Werengen Anom #Kekuatan #masyarakat #simbol #Tumbang #kampung tua #nenek moyang