Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lembar Budaya: Sapi Kurban

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 6 Juli 2024 | 22:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Khairul A. El Maliky

 

TAHUN ini Pak Samuji akan berkurban lima ekor kambing dan dua ekor sapi yang akan disumbangkannya ke masjid dan musalla dekat rumahnya. Berbeda dengan tahun lalu, pengusaha sukses itu berkurban tiga ekor kambing dan seekor sapi. Panitia kurban Masjid Jamik menyambut dengan bahagia hewan kurban yang diserahkan oleh Pak Samuji. Nama lelaki kaya itu ditulis di kolom nomor dua sebagai penyumbang hewan kurban paling banyak. Lainnya hanya menyumbang dua ekor kambing atau seekor sapi saja, dan itu hewan kurban yang kurus. Lain dengan hewan kurban sumbangan Pak Samuji, gemuk-gemuk dan banyak dagingnya. Tak kalah dengan hewan kurban yang disumbangkan oleh artis tanah air yang sering diekspos ke dalam koran maupun televisi nasional.

Mendengar Pak Samuji menyumbangkan hewan kurban untuk yang kesekian kalinya sepanjang lima tahun ini, warga memuji-muji namanya setinggi langit hingga hidung lelaki itu kembang-kempis. Dan sejak itu, penampilan orang itu menjadi religius. Dengan titel yang ia sandang sebagai Muslim yang pernah umrah ia pun semakin dekat dan sering ke masjid. Tidak lupa penampilannya tampak seperti ustadz yang sering muncul dadakan di youtube maupun facebook. Anehnya orang-orang kampung yang tidak bisa membedakan antara orang yang sudah berhaji dan umrah memanggilnya dengan sebutan Pak Haji. Semakin membusunglah dada lelaki itu.

"Ngomong-ngomong, apakah Pak Haji Samuji tidak ada rencana mau berangkat naik haji tahun ini?" tanya salah seorang pengurus takmir masjid pada Pak Samuji.

"Kalau daftar sih sudah, Pak. Tapi masih nunggu antrean," jawab Pak Samuji.

"Tapi kemarin dua calon presiden yang juga sama-sama mantan gubernur kok bisa langsung berangkat haji ya, Pak?"

"Itu namanya haji plus wabil khusus calon kepala negara, Pak. Tidak sedikit kok calon kepala daerah maupun calon legislatif yang hajinya dadakan. Tujuannya agar dinilai religius dan banyak yang mencoblos dirinya."

Sebagai pengusaha kaya raya di kampungnya, sangat mudah bagi Pak Samuji mendaftar haji. Rencananya ia akan mengajak istrinya berangkat naik haji. Tapi ya itu, ia masih harus menunggu sepuluh tahun lagi untuk bisa berangkat ke tanah suci.

Tapi Pak Samuji sudah bertekad bahwa sebelum ia dipanggil oleh Tuhan ke tanah suci, ia akan mencoba menjadi manusia yang religius dan alim. Jika di rumah ia akan memakai sarung dan baju koko. Ia juga akan rajin salat lima waktu. Dan jika di kantor perusahaannya ia akan menjadi pemimpin yang mampu mempengaruhi anak buahnya.

"Bekerjalah kalian dengan giat seolah-olah kalian akan hidup seribu tahun lagi, namun ketika waktunya beribadah ingatlah bahwa kalian akan mati besok pagi," Pak Samuji memberikan nasihat kepada para bawahannya.

Para bawahannya manggut-manggut saat mendengar nasihat atasannya itu.

Selain menyumbangkan hewan kurban, tahun ini Pak Samuji juga mengeluarkan sedekah berupa parsel sembako, sarung, baju koko, dan bonus liburan ke luar kota kepada puluhan pekerjanya. Melihat hal itu mereka tampak senang akan kebaikan boss mereka. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan sampai mencium punggung tangan Pak Samuji sambil terisak.

Sudah tugasnya Pak Samuji berbuat kebajikan dengan cara berkurban dan bersedekah. Sebagai pemilik perusahaan yang bergerak di bidang obat-obatan ia tahu diri bahwa harta yang berkah akan semakin berkah jika sebagiannya digunakan untuk di jalan agama. Sedekah dan kurban yang telah ia kembalikan kepada Tuhan, selain dibalas dengan surga dan pahala di akhirat nanti juga akan dibalas dengan rizki yang melimpah ruah.

"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berkurban sekaligus sedekah tahun ini," ucapnya.

***

Dengan penuh semangat, Pak Samuji dan keluarganya pagi itu berangkat ke Masjid Jamik untuk melaksanakan salat Ied. Konon kabarnya, pihak pengurus takmir masjid sengaja mengundang beliau untuk beramah-tamah dengan Pejabat Walikota yang sudah mendengar nama Pak Samuji sebagai dermawan yang menjadi donatur tetap masjid.

"Berkenankah jika Bapak bertemu dengan Bapak Walikota pada hari raya?" kata pengurus takmir Masjid Jamik.

"Oh, tentu saja bisa, Pak." Pak Samuji menyambut dengan bahagia. Bukankah sebuah cita-cita semua orang berkumpul dan bersahabat dengan pejabat sekelas kepala daerah maupun presiden?

"Pak Wali bilang, beliau juga nantinya yang akan memimpin penyembelihan sapi kurban milik Pak Samuji," lanjut Pengurus Takmir.

Kembang-kempis hidung Pak Samuji mendengar berita bahagia itu. Maka untuk memenuhi undangan istimewa itu, Pak Samuji mengajak seluruh anggota keluarganya agar berangkat ke masjid pagi-pagi.

Sesampainya di masjid kota itu, pengurus takmir Masjid Jamik mempersilakan Pak Samuji duduk di shaf paling depan sendiri, duduk bersama para pejabat penting, termasuk Pak Walikota, ketua DPRD, ketua MUI, ketua pengurus ormas Islam kota, dan para orang penting lainnya. Sebuah kesempatan yang sangat langka sekaligus istimewa bisa duduk bersama orang-orang yang derajatnya ditinggikan oleh Tuhan. Apalagi nanti saat proses penyembelihan, sapi kurbannya juga akan disaksikan oleh Pak Walikota secara langsung.

"Senang sekali saya akhirnya bisa bersua dengan Pak Samuji, orang paling dermawan sekaligus pengusaha sukses," ucap Pejabat Walikota tampak menjabat erat tangan lelaki itu.

Dijabat oleh orang penting nomor satu di kota, membuat tubuh Pak Samuji gemetar akibat jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh orang itu menjalar ke raganya.

"Ah, Pak Wali terlalu memuji. Bahkan apa yang saya lakukan masih kalah jauh dari apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad. Bukankah begitu, Pak Walikota?"

"Inilah yang saya sukai dari orang paling dermawan, meski sudah menyumbangkan separo hartanya untuk agama, namun Pak Samuji masih merendah. Rendah hati. Hahaha." Pak Wali menggoyang-goyang jabatan tangannya.

Setelah acara ramah-tamah berupa makan bersama usai, Pak Walikota, pengurus takmir masjid, para pejabat teras kota dan Pak Samuji meluncur ke rumah penjagalan untuk menyaksikan proses penyembelihan sapi kurban sumbangan Pak Samuji.

"Berapa ton berat sapi ini, Pak?" tanya Pak Walikota. "Kalau tidak salah 800 kilogram, Pak Wali."

Pak Walikota manggut-manggut. "Sehat ya, Pak?"

"Alhamdulillah. Dua-duanya sehat, Pak. Sebab sapi-sapi ini rutin divaksinasi selama masa PMK dan LDR."

"Alhamdulillah, kalau begitu sehingga aman ketika dikonsumsi oleh warga yang berhak menerima daging hewan kurban," ujar Pak Walikota senang.

Pak Samuji mengangguk.

"Rencananya berapa ribu orang penerima daging kurban tahun ini, Pak Haji?" Pak Wali bertanya pada ketua pengurus takmir masjid.

"20.000 kepala keluarga warga fakir miskin, janda tua maupun muda, pengangguran, dan penerima bantuan PKH, Pak."

"Jangan sampai salah sasaran ya, Pak. Takutnya nanti orang yang kaya juga dapat jatah daging."

"Aman, Pak."

Sampailah mereka di rumah pemotongan hewan milik pemkot yang tampak terjaga bentuk bangunannya itu. Lalu, mereka melihat secara langsung sapi kurban sumbangan Pak Samuji. Tampak sapi berkulit cokelat susu itu segar dan sehat sehingga layak dijadikan sebagai hewan kurban. Dan Pak Samuji sama sekali tak berdusta. Setelah ditimbang, berat sapi itu 800 kilogram koma sekian sehibgga jumlah dagingnya banyak.

"Semoga kurban Bapak diterima oleh Allah," Pak Walikota mendoakan. "Semoga dagingnya berkah dan bermanfaat bagi yang menerimanya."

Semua yang mendampingi kepala daerah itu mengamini.

Maka pagi itu juga, di harinya para orang miskin dan dhuafa itu, ketika matahari pagi mengintip dari balik sela-sela daun pohon mangga, sapi kurban Pak Samuji disembelih.

Tampak para warga penerima daging kurban telah berkumpul dengan memegang kupon macam hendak mengantre beras murah pas zaman Orba dulu. Mereka tampak menggendong bayi-bayi, balita-balita, dan anak-anak kecil mereka.

***

Tak sampai seminggu. Malam hari setelah proses penyembelihan sapi kurban, salah satu televisi swasta menurunkan berita tentang keracunan warga kota yang mengonsumsi daging sapi kurban. Begitu juga koran wartawan koran lokal yang berbasis di kota kecil kami menurunkan berita yang sama, warga yang keracunan sapi kurban. Dan yang membuat dunia seakan kiamat, mereka yang keracunan adalah warga yang mendapat jatah daging sapi kurban Pak Samuji yang dibungkus plastik kresek merah.

"Diduga mereka habis mengonsumsi daging sapi kurban bantuan salah satu dermawan kota yang selama lima tahun ini menjadi donatur tetap Masjid Jamik," kata presenter pembawa berita.

Pak Samuji yang menonton acara berita itu bagai merasakan kiamat. Tubuhnya dikuasai rasa bersalah dan dosa.

"Diduga sapi yang dijadikan hewan kurban ini terkena dampak PMK dan LDR. Sesuai dengan hasil sampel daging dari uji laboratorium, daging sapi tersebut positif PMK. Dan malam ini juga pihak kepolisian disertai pihak MUI dan pengurus masjid akan memanggil langsung penyumbang sapi kurban," lanjut presenter itu.

Pak Samuji langsung mematikan televisi. Ia jadi teringat bahwa sapi tersebut ia beli dari salah satu peternak sapi, dan kondisi sapi dalam keadaan sakit karena PMK. Harga sapi tersebut juga murah. Bahkan Pak Samuji mendapat bonus dua ekor kambing yang juga terkena PMK. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#panitia kurban #pkh #cerpen #kisah #Sapi #pmk #sapi kurban #kurban #Samuji #ldr #cerita pendek #kambing #keracunan #Cerita #naik haji #hewan kurban #berkah