Oleh:
Depri Ajopan
“Bukannya aku tidak mau tinggal bersama Ibu, dan mengurus makanannya, tapi kalian tahu sendiri aku sibuk di luar kota, aku dapat proyek baru lagi,” ucap anak pertama menjelaskan pada adik-adiknya, dan ia menggaruk-garuk kepala. Seorang Ibu renta yang terbaring di atas kasur kumuh itu memejamkan mata, pura-pura tertidur pulas. Hatinya sering tersakiti oleh anaknya sendiri yang lagi berunding untuk merawatnya.
’’Kamu kan tinggal tidak jauh dari kampung ini Irfan, harusnya kamu bisa pindah ke sini dong, rawat ibu. Kalau tidak, ibu yang bawa ke rumah kamu,” usul anak yang lain.
’’Aku pernah kok bawa ibu tinggal di rumahku, ia tidak betah. Kalian tidak tahu sih bagaimana susahnya merawat Ibu, kaliankan lama di rantau. Menurutku Kak Siska saja deh yang di suruh tinggal di sini merawat Ibu. Ia jugakan tak jauh tinggal dari kampung ini,” Ibu renta yang mendengar semua itu semakin tersayat. Ia merasa dipermainkan oleh anak-anaknya, menjadikan ia terombang-ambing. Ia merasa telah gagal mendidik anak-anaknya, mereka memperlakuakan ia tidak manusiawi, seolah ia bukan seorang Ibu kandung mereka.
’’Tidak masalah, kalian mampu gaji aku perbulan berapa?” Tanya Siska ketus. Untung suaminya yang berhati lembut tidak hadir di situ. Kalau saja ia ada, bisa saja ia menampar wajah istrinya dengan perasaan geram.
’’Mengenai biaya, kita patungan,” jawab salah seorang lagi, dan mereka saling menyebut jumlah uang yang akan ditransfer mereka masing-masing setiap bulannya. Melihat kelakuan anak-anaknya yang perhitungan, membuat hati Ibu renta itu semakin hancur. Diusianya yang senja ia semakin tersudutkan oleh anak-anaknya. Sepertinya ia sudah merasakan kematian yang sesungguhnya semasih ia hidup. Ia teringat pada almarhum suaminya yang meninggal lima tahun yang lalu. Bagaimana perjuangan mereka menyekolahkan anak-anaknya agar jadi orang sukses. Setelah ada yang berhasil, kasih sayang yang ia dan suaminya berikan setinggi langit, dibalas dengan seruas jari. Ia merasa orang tua paling malang di dunia. Tapi apa boleh buat. Saat ini ia yang terluka benar-benar tak berdaya. Disisa hidupnya yang tak beruntung, ia pasrah menunggu kematian.
* * *
Dua bulan setelah anak yang paling tua meninggalkan kampung halamannya, dan ia masih sibuk dengan proyeknya yang belum kelar juga. Ia sering pulang larut malam, dan hari itu nasib baik sedang memeluknya, ia bisa pulang sore hari. Sesampai di rumah, biasa ia disambut istrinya dengan hangat. Hari itu ia dicuekin, jangankan segelas kopi yang biasa ia dapatkan sepulang kerja, segelas air putih hangat pun tak ada tersedia di atas meja.
’’Ada apa dengan kamu sayang, kenapa tiba-tiba berubah?” Tak ada jawaban, wajah istrinya yang baru dicium suaminya terus cemberut.
’’Ibumu itu lo Bang?”
’’Kenapa dengan Ibuku?”
’’Permintaannya terlalu banyak.”
’’Perasaan dia tidak minta apa-apa.”
Istrinya yang kesal keluar, duduk di teras rumah memandangi bunga-bunga yang tunduk diterjang angin, ia berharap diikuti suaminya dari belakang. Dan memang suaminya datang, dan baru duduk di sampingnya.
’’Memang dia tidak minta apa-apa. Tapi gara-gara dia kau menegeluarkan uang lumayan banyak,”
’’Dia kan Ibu kandungku sendiri, wajar dong aku melakukan yang terbaik untuknya. Lagi pula proses perjalanan proyekku kan sudah mulai normal.”
’’Aku mengerti, tapi ngasih uang jangan sebanyak itu, anak-anakkan masih sekolah.”
’’Terus mau kamu gimana sayang?” Istrinya mulai senang, dan merasa diperhatikan
’’Aku ingin jumlah uang yang kau transfer ke Ibumu tiap bulan dikurangi. Titik.”
’’Baik sayang,” ia memeluk dan mencium istrinya. Angin sejuk terus berhembus kuat menerpa tubuh mereka.
* * *
Baca Juga: Penunggu Pohon Pule
Suami Siska mendengar suara piring jatuh di dapur. Ia datang berlari memeriksa apa tangan istrinya berdarah.
’’Tak sengaja,” ucap Siska memungut pecahan piring, memasukkannya ke tong sampah.
’’Mentang-mentang aku anak perempuan, aku yang disuruh tinggal di rumah ini, aku sering disuruh masak untuk Ibu. Sekali-sekali gantian dong, mereka juga tinggal di kampung ini untuk beberapa bulan merawat Ibu, jadi sama-sama ikut merasakan. Aku telah diperalat oleh saudaraku sendiri,” ia terus merepet, suaminya yang kaget tak munggubris. Ia baru sadar dan merasa salah dalam memilih istri setelah berumah tangga tiga tahun, dan memiliki dua orang anak. Untuk merawat Ibunya saja ia perhitungan, apalagi kalau giliran ibuku nanti yang sakit, pikiran suami Siska bermain-main. Setitik kehawatiran tumbuh dalam dirinya. Untung saja saat ini Ibu dan ayahnya masih sehat. Dan setelah melihat kejadian ini ia harus waspada untuk ke depannya. Ia takpercaya kalau ayah atau ibunya sakit nanti, Siska siap bekerjasama untuk merawat seperti janji mereka dulu sebelum menikah. Ternyata manisnya kata-kata semasa berpacaran, belum tentu bisa dipegang erat-erat setelah menikah, lirihnya dalam hati.
’’Aku saja yang ngasih makan Ibumu,” suami Siska mengambil piring putih, mengisinya dengan nasi dan sepotong ikan. Ia menyuapi lembut Ibu renta itu dalam keadaan berbaring. Tiba-tiba ia melihat airmata meleleh dari pipinya.
’’Kenapa Ibu menangis?” Membuatnya heran.
“Aku minta maaf Nak sama kamu,” ucap Ibu itu sesenggukan, kemudian minta air minum, masih dalam keadaan menangis.
’’Ibu tidak ada salah padaku. Justru aku yang minta maaf, mungkin kurang memperhatikan Ibu selama ini,” Ibu itu menghapus airmatanya dengan tangannya yang keriput, lalu menatap menantunya itu yang dulu sangat ia benci. Ia teringat waktu menantunya itu masih muda, dan berpacaran dengan putrinya, tangannyalah yang sengaja memasukkan racun ke minuman lelaki itu waktu ia datang bertamu, sampai lelaki itu sakit-sakitan, tergeletak di atas kasur berbulan-bulan. Ia tidak setuju pada lelaki itu karena melihat dari sisi ekonomi. Ia menasihati anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, jangan menikah dengan mereka yang miskin karena akan membut sengsara hidup. Tapi yang terjadi sebaliknya, karena kemapanan anak-anaknyalah yang menjadikan mereka tidak peduli pada Ibu kandung sendiri. Tak ada satu pun dari tujuh anaknya yang tulus merawatnya ketika usianya sudah senja. Ia merasakan keikhlasan suami Siska memperlakukannya. Seharusnya ia berterima kasih dengan cara mewariskan beberapa petak sawah. Tapi ia sudah tidak punya apa-apa sekarang, kecuali rumah tua itu. Ada penyesalan yang terselubung dalam dirinya, kenapa dulu ia membenci suami Siska, dan terlalu buru-buru memberikan seluruh hartanya pada anak-anaknya selain Siska, yang menururtnya melakukan kesalahan, dan tak pantas mendapat, sampai ia lupa menyisakan untuknya sebagai jaga-jaga dimasa ia tua.
’’Tidak usah mikir banyak-banyak Bu, yang berlalu biarlah berlalu, yang penting aku dan Siska pasti merawat Ibu sampai sembuh,” ucap lelaki itu sambil mengasih air minum. Ibu renta itu mengusap wajahnya yang dingin setelah meminum segelas air. Setengah jam kemudian ia tertidur sebentar, dan terbangun menjelang azar. Ia mendengar ayat suci dibacakan dengan suara merdu dari masjid. Ia menyeret tubuhnya ke kamar mandi, sengaja tidak memanggil Siska atau suaminya. Setelah ke luar, tiba-tiba nafasnya sesak, ia terpaksa memanggil menantunya. Kepalanya tiba-tiba pusing. Siska dan suminya yang duduk di teras rumah bergegas datang.
’’Ibu....Ibu......” wajah Siska tiba-tiba berubah sedih, melihat nafas Ibunya sesak, kening berkeringat. Ada penyesalan dalam hati. Suaminya cepat-cepat menemui dokter di kampung itu, napas Ibu renta itu tertolong. Dengan suaranya yang terbata-bata, ia cerita pada Siska. Ia berharap disampaikan pada anaknya yang lain. Ia merasa hidupnya taklama lagi.
’’Aku pernah bermimpi, dan mendengar suara Tuhan lewat mimpi itu,” ia menarik napas.
’’Tuhan bilang, suatu saat nanti kalian, anak-anakku akan mendapat balasan dari cara kalian memperlakukanku,” ia bertambah lemas, tapi ia harus menyampaikannya sampai tuntas, dengan harapan anak-anaknya bisa bertaubat sebelum kematiannya.
’’Aku bilang pada Tuhan, berilah ampunanMu buat mereka, karena aku juga sudah memaafkan anak-anakku. Sesungguhnya aku yang salah mendidik mereka, aku merasa akulah yang durhaka, bukan mereka ya Tuhan. Tolong kasihani mereka. Tuhan menjawab, walaupun surga kuletak di telapak kakimu, bukan berarti semua permintaanmu bisa terkabul. Dan kau tidak bisa merubah janjiku. Apa yang hambaku perbuat, itulah yang mereka terima nantinya.” Wajah Ibu itu pucat, mata terpejam, kepala meluncur ke arah kanan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana