Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Andi Aziz, Perajin Ukiran Relief Kayu Jati di Kecamatan Jepon: Pensiun Jadi Montir, Geluti Bisnis Furnitur Ukiran Tokoh Wayang

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 20 April 2024 | 21:15 WIB
KREATIF: Andi Aziz sedang focus memahat kayu jati di tempat usahanya turut Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)
KREATIF: Andi Aziz sedang focus memahat kayu jati di tempat usahanya turut Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)

 

Usia Andi Aziz masih 21 tahun, namun kemauannya berwirausaha sangat tinggi. Ia berani pensiun jadi montir dan memilih fokus menggeluti bisnis kerajinan kayu jati di rumahnya.


LUKMAN HAKIM, Blora


JARI-jemari Andi Aziz cukup cekatan memahat bongkahan kayu jati di Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon. Bongkahan-bongkahan akar tersebut disulapnya jadi ukiran hingga relief bertema pewayangan.

Kini, telah banyak pesanan dan memberdayakan teman-teman sebayanya. Andi tertarik menggeluti seni ukir kayu jati sekitar tujuh tahun lalu. Pada saat itu, ia masih menjadi montir bengkel.

Karena melihat potensi kayu jati melimpah di Blora dan dirinya punya jiwa seni. Akhirnya, ia memutuskan pension jadi montir dan akhirnya terjun di dunia kerajinan kayu jati tersebut. ’’Sebelumnya, bekerja di bengkel, Awalnya tertarik ikut belajar di perajin kayu kawasan Cabak, Kecamatan Jiken. Belajar di sana sekitar lima tahunan,” ungkapnya.

Jiwa kreativitas pemuda usia 21 tahun tersebut terus ditempa sekaligus menjadi pekerja paruh waktu di salah satu showroom ukiran akar kayu jati di Desa Cabak. Menurutnya, perajin di Cabak menjadi kawah candradimuka memperdalam ilmu seni ukir.

’’Belajar banyak di perajin cabak, sebelum memutuskan untuk membuka sendiri,” ungkapnya. Usahanya tersebut dirintis mulai 2022 lalu dengan modal keterampilan dan gaji setelah menjadi buruh ukir kayu di Cabak. Sekitar dua tahun berjalan, usahanya cukup banyak peminat.

Pesanan mulai ada dari Blora hingga luar daerah. Rerata pesanan merupakan ukiran wayang dengan media berupa kayu jati yang dibentuk menjadi meja dan kursi. ’’Paling banyak pesanan itu untuk furnitur perabot ruang tamu seperti meja dengan ukiran tokoh wayang,” jelasnya.

Menurutnya, untuk model ukiran tersebut tak butuh waktu lama, berbeda dengan ukiran relief yang butuh waktu lebih panjang. Sekitar dua bulan pengerjaan hingga menjadi ukiran yang mempunyai nilai seni.

Ukiran relief menurutnya lebih rumit dan butuh ketelitian ekstra. ’’Paling lama saya itu mengerjakan ukiran wayang Werkudara, dua bulan mengukir sampai jadi,” ucap dia. Tentu, untuk ukiran berupa relief harus ada yang memesan terlebih dahulu.

Dirinya sendiri bisa membuat ukiran berbagai macam. Banyak ukiran wayang telah ditelurkan seperti Arjuna, Werkudara, Semar, Bagong, dan tokoh pewayangan lain. Rerata karyanya dihargai Rp 850 ribu hingga Rp 1,2 juta.

’’Melayani custom, sesuai pesanan pelanggan. Harganya tergantung kerumitan ukirannya,” bebernya. Usahanya menjadi perajin di usia muda itu membawa berkah bagi teman-teman nongkrongnya di desa.

Sebab, para pekerja yang saat ini membantu di showroom ukiran kayu jatinya adalah teman sebaya satu desa. ’’Alhamdulillah, dari membuka usaha ini bisa membuka lowongan pekerjaan bagi teman-teman saya,” jelasnya.

Menurutnya, bahan-bahan untuk membuat ukiran kayu jati cukup mudah didapat. Sebab, wilayah Blora merupakan wilayah hutan dengan produksi kayu melimpah. ’’Masih mudah didapatkan, biasanya beli dari TPK Cabak dan masyarakat langsung,” tutupnya. (*/bgs)

Baca Juga: Muhayatun Khoiriyah, Pelukis Asal Kecamatan Kedungadem: Suka Lukis Lingkungan Sekitar, Sering Dikira Sarjana Seni Rupa

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Perajin Kayu #seni #Perajin #kayu jati #ukiran #Kursi #Relief #montir #jepon #meja #kayu #wayang #kerajinan #blora