Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Nyawaku Melayang , Oleh : A. L. Khakim

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 17 Desember 2023 | 18:55 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

                Sosok pria yang seharusnya memayungi keluarganya telah sirna dari dirimu. Kau justru berlindung pada payung keluargamu. Ah, apa juga peduliku. Kau takut dengan langit yang berkuasa megah padahal ia lapang dada. Kau berayun dalam ayunan bumi padahal ia menelanmu. Rasa mengecilmu itu, ialah penyakit abadi bila kau terus menimangnya. Haruskah penyakit macam itu ada di dunia ini? Wahai, kau anak Adam. Apakah gerangan yang menciutkanmu hingga jati dirimu mengecil? Obatilah dan hiduplah dalam kemegahan dunia dan isinya. Nasehatku jangan lupakan langit karena ke sanalah ibumu menegok tatkala berdo’a memintakan yang terindah untuk hidupmu meski kau tak kunjung bangun dari ayunanmu. Bersyukurlah, karena masih ada orang macam diriku yang sepertinya tak ada wanita yang mendo’akan dengan khusyuk seperti ibumu.

***

                Aku bertemu dengannya baru setahun lalu. Kudapati ia memandangi jalan dari balik jendela pintu belakang rumahnya. Aku yang hanya mengenalnya lewat untaian kata para mulut tak berdosa mencoba tersenyum meski penglihatanku mengudara, ternyata lamur kian berkuasa. Hmmm, obat penenangku mulai bekerja. Haha, iblis di sukmaku tertawa ria.

                Jam berapa ini? Apa fajar sudah bangun? Yang kulihat saat itu bukan ruangan yang kukenal. Tubuh tegap setengah badan dalam tangkapan mataku dengan latar belakang tembok nan semenjana. Pemandangan yang pas untuk dimasukkan kanvas. Tapi sayang, mengapa orang sepertinya harus berada di balik tembok melulu?

                 ‘Kau mabuk,’ katanya. ‘Kau nyelonong seenaknya ke tempatku,’ susulnya. ‘Kini aku pun harus menyembunyikanmu dari orang-orang seatap.’ ‘ Baiklah, dengan senang hati. Dan dengan begini aku punya tempat sembunyi,’ girangku yang kau balas dengan ketidak setujuan.

                Dan sejak saat itu kau dan aku mulai memahami kata saling. Sama-sama adalah awal mula keserasian kita. Lalu mencoba menghibur masing-masing lawan berada di tahap selanjutnya. Semakin kesini kau semakin maju tuk satu. Lalu yang terjadi kemudian adalah berputarnya rotasi hidup. Aku ingat kala itu. Padahal jadwal kepergianku ke tempatmu sudah tiba. Namun, tak ada alamat kehadiranku padamu hingga sepekan. Malam itu begitu hening, tapi kau gelisah. Entah kesadaranmu menghilang atau memang ketakutanmu telah sirna. Kau dengan tiba-tiba mengejutkanku. Bayang-bayangmu berdiri tegap menarikku dengan tegas sedang ragaku meringkuk berpangku pada kelamnya alam khayal.

                Sas-sis mulai bergema. Ibu-ibu sosial pun sudah menyalakan mesin, menandakan akan balapan adu aktual gosip yang sudah timbul. Mereka bilang perihal jodoh yang memang serasi. Dan orang pengecut memang cocok dengan pengidap mental macam aku, yang kerjaannya membanting barang apalagi kaca. Kukatakan pada mereka, hal itu diluar kontrolku. Dan aku melakukannya hanya sekali, hanya sekali, hanya sekali sebelum kupastikan gejala-gejala penyakitku. Tapi mengapa mereka mengutarakannya berjuta kali laiknya memutar kaset yang sudah rusak? Oh tetangga, tak bisakah kalian berbicara yang baik-baik saja? Toh kalian hanya mengasihaniku yang serana seraya lara.

                ‘Aku pusing sudah hampir mati,’ kukatakan itu padanya. Kuceritakan bahwa aku anak malang ketimpa tangga. Wanita keparat itu yang konon pengganti sosok ibu. Menuduhku yang tidak-tidak. Didepan ayah yang jua konon mengasihi putrinya dia mendakwa maling kepadaku. Barang yang konon jua raib itu katanya untuk kujual dan buat kubeli obat. Dakwaan pula ditujukan padaku bahwasannya diriku memacari sosok yang tak pernah keluar wujudnya. Seolah-olah berpacar dengannya adalah aib keluarga. Sudah kuduga bahwa dialah sumber kasak-kusuk para tetangga. Kukatakan pada ayah, yang seolah menjadi hakim diantara kami. Kubela diriku, maling akan selalu teriak maling Pak Hakim, dan kucoba mengangkat derajatnya dengan memutar kata mutiara. Kucoba pula membuat mengerti sang ayah tentang keadaannya dan usahaku untuk membantunya menjalani hidup dengan indah.

                Asal tau saja ayah, tak pernah ada ungkapan kata seperti mereka yang katanya berpacaran untuk memulai jalinan asmara. Jalinanku mengalir tanpa ada kata gombal rayuan. Saling mengerti adalah obat bagi kami. Antar memahami ialah pengertian itu sendiri. Aku adalah obatnya dan ialah obat bagiku. Karena ketahuilah ayah, hidupku sejatinya sama dengannya. Dia hanya bersembunyi di dalam, sedang aku bersembunyi di luar. Bukankah hidupku seperti ini karenamu? Bukannya aku menyalahkanmu. Inilah takdir yang harus kuterima dari-Nya. Tapi bisakah kau melihatku yang terlara ini? Bukannya hanya menikmati barang barumu itu? Tolonglah, wanita yang sudah dalam kuburan itu memang barang lamamu, namun aku seharusnya menjadi harta yang berharga bagimu.

                Sudah banyak aku berkata, tapi wanita adalah wanita. Penghasud yang hampir tak pernah gagal dalam sejarah, dan pria adalah makhluk lemah bila sudah dalam ikatan setan tersebut. Rupanya ia sudah dalam buaiannya. Padahal, hanya pada ayah kutaruh sisa-sisa harapanku. Kuletakkan impian-impianku yang masih ada meski selama ini kumerasa sendiri. Namun dengan ini, raib sudah rasaku. Kepercayaanku keropos. Rekam kisahku dengannya pupus. Detik demi detik gelap sebenar hitam hidupku menjelma. Cinta pertamaku telah tiada bagi wujud putri dalam diriku.

***

                Dengan hidupku yang kian malang, dia tetaplah dia. Kepiawaiannya dalam segalahal yang mulai hidup kembali, membuat orang di sekitarnya merekah. Berkat kau, kata ibunya suati hari kemarin. Namun, indahnya senjakala lembayung hanyalah selama mampir ngombe. Tak terasa, apalagi di kala haus-hausnya. Begitupun hidupnya yang mulai merekah kini mengatup kembali. Ibunya meminta tolong padaku untuk kembali menyiraminya. Ku datang padanya di tengah ributnya hidupku. Setelah malam itu, rupanya cerita malangku yang kubagi padanya tak membuat jiwanya melindungiku. Kala aku sampai di depannya, ia diam di tempat. Tak bergerak bagai budha tidur. Diamnya nan keras seperti batu karang.

                Sekian lama kami saling diam, dengan sabar diriku menunggu ia bersuara. Lalu mulutnya mulai bergetar, mengutarakan bahwa ia sangat sedih melihatku yang terpuruk sedang ia tak mampu melakukan apa-apa. Disamping itu pula dunia yang kejam sedang berdesa-desus memojokkannya ke sudut ruang untuk mengecil kembali. Dan sampai saat ini ia belum berani menceritakannya padaku perihal sebab ia menjadi begini, padahal kami sedekat ini. Keluarganya pun tak ingin aku tau kecuali bila kisahnya keluar dari mulutnya sendiri terlebih dahulu demi menjaga privasinya. Baru aku tersadar bahwa ketakutannya pada dunia sebesar itu.

                Melihatnya yang mengecil kembali ditelan bumi membuatku semakin tak karu-karuan. Aku ingin marah pada dunia. Ingin kukatakan sekeras-kerasnya pada dunia. Mengapa semesta begitu sulit dimengerti. Ia tersungkur melihatku yang terpuruk. Dan aku terperosok ke jurang karena melihatnya yang tersungkur. Wahai dunia, mengapa ada kehidupan yang seperti ini? Wahai engkau, keluarlah! Kemarilah dan buat aku tersenyum meski hanya sesaat karena tak ada lagi yang kupunya selain senyummu yang kupinjam dari ibumu. Mengapa pula engkau betah hidup dalam kolong kegelapan?

                 Apa yang bisa kulakukan? Maka menangis adalah pilihan utama seraya berlari sekencang-kencangnya. Dimana aku? Dalam pandanganku, halimun ada di mana-mana. Mana jalan yang harus kutapaki dengan jelas? Katanya ketika kita merasa sudah sampai, maka sejatinya kita terputus dengan jalan tersebut. Yah, aku merasa sudah sangat dekat dengan takdir yang kunginkan dan ia ada di sana. Setelah menyadarinya, sesungguhnya jarak itu masih sangatlah jauh. Dan di sinilah aku, di tengah perjalanan yang beriring kabut keputus-asaan. Entah di mana aku sekarang.

                Percayalah! Orang takut, yang dia inginkan hanya sembunyi. Tapi orang bingung setengah mati, yang dia inginkan adalah mati. Di saat-saat seperti ini, selalu ingin sekali kutancapkan pisau sedalam-dalamnya ke jantung. Lalu darah akan mengalir membawa segala kerisauannya. Benda itu sudah dalam genggamanku sejak hidupku pontang-panting. Ia dan gelaplah teman sejati.

***

                Di alam kematianku sekalipun, nyawaku melayang membawa pertanyaan. Akankah kau sembunyi selamanya? Dan akankah orang-orang yang kukasihi dan kutinggalkan menengok kembali padaku? (*)

 

*A. L. Khakim 

Seorang pelajar di Lamongan.

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#cerpen #kisah #keluarga