Penulis: Mustofa Efendi
Bojonegoro, 31 Desember 1967
Khodijah baru saja ditinggal mati suaminya, Ramijan, sebulan yang lalu. Dia masih berduka yang mendalam. Ramijan meninggalkan lima orang anak. Yang empat telah berkeluarga dan tinggal satu yang masih lajang. Kelima anaknya, yang pertama dan kedua bekerja sebagai tukang batu, anak yang ketiga dan keempat berdagang dan yang ragil sebagai sopir.
Khodijah amat berduka sepeninggal suaminya. Suaminya tanpa sakit yang serius. Dia hanya menderita sakit panas selama seminggu. Kini Khodijah sebagai single parent. Karena sawahnya berkategori luas, Khodijah hampir setiap hari bekerja di sawah. Khodijah hidup sederhana bersama anak ragilnya, Roni, yang bekerja sebagai sopir.
Setiap hari sekitar pukul 06.00 Khodijah harus ke sawah sambil memikul cangkul dan menjinjing keranjang. Dengan postur tubuh yang ringkih, Khodijah melewati pematang sawah yang berliku. Kadang dia harus istirahat dan duduk di pematang jika rasa capek mendera. Dan jika adzan dhuhur berkumandang, Khodijah baru beranjak pulang. Begitulah aktivitas Khodijah sehari-hari.
Khodijah dan anak ragilnya tinggal di rumah yang sederhana. Rumah yang hanya berdinding papan kayu mahoni ini berlantaikan tanah dan beralas plastik. Di ruang tamu terdapat televisi jadul 14 inci serta meja kursi kayu jati kuno. Sedangkan jendela depan hanya tertutup selembar kain yang sudah kumal.
“Mak, sampean tidak usah ke sawah. Masa tidak makan Mak. Aku yang nanggung kebutuhan sampean Mak,”ujar Roni sambil duduk di samping emaknya di ruang tamu saat Khodijah baru saja pulang dari sawah. “E Nak, selagi emak masih kuat bekerja, emak akan kerja di sawah,”jawab Khodijah sambil memijat-mijat kakinya yang capek seharian bekerja di sawah.
Di antara dua anaknya yang menjadi tukang batu, ada yang hidupnya kurang sejahtera yaitu anak kedua, Syaiful. Setiap minggu ketika mendapat upah hanya untuk kebutuhan rumah tangga serta untuk biaya sekolah anak-anaknya. Syaiful yang hanya lulus sekolah dasar itu sejak usia lima belas tahun sudah menjadi kuli bangunan.
Sebagai orang yang hanya lulusan sekolah dasar, tentunya bekal ilmu pengetahuan agama maupun umum amat kurang. Apalagi orang tuanya kurang memperhatikan akan ibadahnya apakah itu mengaji di TPQ atau sholat di musholla. Setiap hari hidupnya hanya berkutat pada pekerjaannya sebagai kuli bangunan.
Namun seiring dengan bertambahnya waktu, karena kemahirannya Syaiful akhirnya menjadi tukang batu dengan bayaran Rp 125.000 per hari. Suatu ketika Syaiful berkunjung ke rumah emaknya karena sudah lama tidak ada kesempatan berkunjung. “Mak, sudah panen apa sawahnya ?” tanyanya sambil merebahkan badannya di lantai tanah. “E Cung, jagung ya baru manggar masih lama panennya,”jawab Khodijah dengan lirih. “Nanti kalau panen, aku minta uangnya Mak,”lanjut Syaiful. “Ya, walau sedikit ya tetap saya beri jatah,”jawab Emak. “Ya yang banyak Mak. Aku butuh untuk beli gerobak untuk jualan istriku,”sahutnya. “Lo lo lo panen dapat berapa kok kamu minta banyak ?” “Pokoknya aku minta banyak Mak,”ujar Syaiful sambil pamit pulang, “Sudah aku pulang pokoknya jatah panen untuk aku lo.”
Khodijah semakin pusing setelah Syaiful datang dan meminta uang jika panen. Jika pikirannya terganggu, penyakit asmanya kambuh. Pagi itu Khodijah terpaksa tidak ke sawah. Dia merebahkan badannya di kamar sambil meredakan asmanya yang kambuh. “Ya Allah sembuhkan asmaku ini. Biar aku bisa ke sawah ya Allah,”doa Khodijah dalam lirihnya, “Berilah kesuksesan aku ya Allah dalam mengerjakan sawah dalam menanam jagung ini.”
Dua hari Khodijah istirahat di rumah dan tidak ke sawah. Ingin periksa ke dokter tetapi tidak punya uang. Akhirnya hanya dengan istirahat di rumah untuk meredakan sakit yang dirasakannya. Begitu sakit yang ia derita telah reda, Khodijah kembali beraktivitas di sawah. Berangkat pagi dan pulang siang sebagaimana biasa.
Selang beberapa hari berikutnya, datang lagi Syaiful dengan wajah muram. Rupa-rupanya Syaiful benar-benar ada masalah serius. Dia langsung menemui emak di dapur. “Mak, gimana sawahnya ? Sudah panen ?” “Eh yo Ful, belum Nak. Memang kamu butuh apa lagi Nak ? Masa kamu tidak sabar. Sebentar lagi. Iya, aku beri hasil panen Nak,”janji emak. “Mak, ini aku segera butuh uang. Gimana kalau aku minta jatah warisan untuk aku Mak ?” “Eh yo cung kacung. Emak hanya punya sawah saja. Masa mau dijual ? Terus emak nanti untuk makan dan kebutuhan sehari-hari pakai apa ?” “Sawah emak kan ada beberapa bidang. Jual saja satu bidang kan bisa Mak,” rayu Syaiful dengan jengkel, “Jika nggak mau jual sawah, rumah ini saja Mak yang dijual,”. “Apa ? Menjual rumah ? Astaghfirullah Ful, nyebut Nak,”sahut Emak, “Kamu ini sudah gak waras ya?”
Syaiful sudah tidak mempedulikan lagi ocehan emaknya. Yang penting dia segera dapat uang warisan. Sementara itu emaknya masih terus mengomel karena Syaiful mengajak menjual rumah. “Kalau rumah dijual, terus aku hidup dimana ?” “Ya ikut anak-anakmu mana yang sampean cocok. Apa ikut kakak atau ikut adik. Yang penting jangan ikut aku.” “O dasar omongane wong ora nggenah.Pokoknya aku tidak mau. Masalah warisan, kita harus musyawarah keluarga. Sekarang kamu pulang saja kapan-kapan aku kabari kalau kakakmu sudah siap untuk musyawarah.”
Syaiful pulang tanpa pamit dengan langkah gontai. Rupa-rupanya dia belum berhasil merebut harta warisan. Sementara itu Khodijah semakin tertekan batinnya setelah mendapatkan tuntutan dari Syaiful. Dia rebahkan badannya di kursi ruang tamu. Dengan nafas tersengal-sengal dia memanggil Roni, si ragil. “Ron, Roni ...” “Apa Mak ?”jawab Roni dengan tergopoh-gopoh mendekati Emak. “Kamu tadi gak dengar kakamu teriak-teriak minta warisan bahkan katanya rumah ini disuruh jual,”kata Emak dengan napas tersengal-sengal. “Gak Mak, aku tadi tidur, capek habis seharian kemarin kirim pasir Mak,”jawab Roni. “Terus gimana ini dengan tuntutan kakakmu ?”
Roni pun bingung tidak bisa memberikan jawaban dan solusi yang tepat. “Mak, kalau rumah ini dijual, kita bertempat tinggal dimana ?” “Ya itu Ron, aku juga bingung. Tadi kata kakakmu yang ‘gila itu’ ya disuruh ikut kakak-kakakmu.” “Aku emoh Mak, kalau ikut kakak. Walaupun rumah ini jelek, aku tetap senang bertempat tinggal di rumah ini Mak.” “Aku juga begitu Ron.” “Gini saja Mak, kita harus musyawarah keluarga secepatnya.” “Ya, tadi aku juga ngomong gitu sama kakakmu Syaiful.”
Meskipun demikian, Roni pun ikut memeras otak agar mendapatkan solusi terbaik. Dia memberikan solusi kepada emak. “Mak, sebetulnya aku punya tabungan sedikit Mak.” “Maksud kamu apa?”tanya Emak. “Gimana kalau kakak Syaiful ke sini lagi minta uang, aku beri uangku. Anggap saja ini jatahnya.” “La kamu punya tabungan berapa ?” “Ya sekitar 5 jutaan Mak.” “Uangmu kok banyak ?” “Alhamdulillah Mak, ini sisa kebutuhan kita sehari-hari.” “Yaudah jika nanti kakakmu kemari, kamu berikan uangmu itu.” “La nanti gimana Mak jika suatu saat masih minta lagi ?” “Itu urusan emak. Kan ada kakakmu yang lebih tua. Itu nanti yang mengatur semua.”
Kini Emak merasa lega mendapatkan solusi. Kini Dia merasa tidak lagi dikejar-kejar Syaiful diminta uang warisan. Hampir tiap hari, emak makan tak enak, tidur tak nyenyak setelah diteror Syaiful hingga badannya kurus kering apalagi sakit asma yang senatiasa kambuh jika hati dan pikiran merasa tak nyaman dan tertekan.(*)
Editor : Hakam Alghivari