Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pelat Nomor Jatuh di Depan Warung Kopi

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 11 Desember 2022 | 19:46 WIB
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
Pohon randu yang berusia belasan tahun itu masih berdiri kokoh. Batangnya yang bercabang dipenuhi dengan buah yang berwarna hijau itu bergelantungan tertiup angin. Seribu kebaikan, bahkan lebih, ia berikan kepada warga kampung Sido Rukun. Buahnya yang masih muda berwarna hijau itu biasanya digunakan untuk rujakkan ibu-ibu. Bila buahnya sudah berwarna kecoklat-coklatan maka kelopaknya kemudian berangsur pecah. Itu tandanya kapas sudah bisa dipanen. Kadang saat angin kencang datang kapas-kapas yang menempel pada batang pohon randu ikut terbawa angin. Saat itulah biasanya bocah-bocah kampung Sido Rukun berlarian mengejar kapas-kapas tersebut sampai ke pematang sawah. Tak berapa lama kemudian terlihat kapas-kapas tersebut turun di mana saja yang ia sukai. Beberapa menempel di pelepah pohon pisang. Sebagian lagi tersangkut di pohon Turi. Kapas-kapas yang bertebaran itu seperti salju yang turun di negeri Sakura.

Kapas-kapas itu oleh warga kampung biasanya dimanfaatkanya untuk bantal dan guling. Tak jauh dari pohon randu tersebut berdiri sebuah rumah kecil  yang tepatnya disebut warung kopi. Warung yang berada persis dibawah pohon randu itu milik Darsono. Rumah kecil yang tak ubahnya sebuah warung sederhana itu menghadap ke Timur persis di perempatan jalan. Sebuah kursi kayu yang berjajar rapi dan beberapa amben tua masih nampak di sana.Warung itu bergeliat saat warga selesai turun dari Surau dan bersiap menuju sawah ladangnya  masing-masing. Seperti biasanya sebelum warga ngopi, Darsono bersiap-siap membuka daun jendela warungnya yang di buat memanjang dan hanya diikatkan kawat pada sebuah paku. Saat membuka pintu depan, Darsono terkejut melihat plat nomor sepeda motor yang jatuh persis di depan warung kopinya. Ya plat nomor dengan nomor seri S 1308 DL  itu membuat dada Darsono seperti tertusuk ribuan jarum. Tak terasa kristal-kristal bening meleleh jatuh di plat nomor tersebut. Perlahan diambilnya  plat nomor itu dengan tangan gemetaran. Setelah terambil dari  tanganya lalu benda tersebut di dekapnya erat-erat. Ia bawa plat nomor tersebut masuk ke dalam warung kopinya. Diambilnya lap kain dan dibersihkannya dari debu yang menempel.

Semenjak plat nomor yang jatuh di depan warung kopinya itu wajah Darsono  nampak murung. Ia berjalan mondar-mandir tak tentu arah. Matanya menerawang menembus kesunyian pagi. Pandanganya terasa  kabur terseret peristiwa yang pernah ia alami waktu itu.  Tepat lima belas tahun yang lalu gerhana bulan menyambut kedatangan sang buah hatinya  ke dunia. Menurut warga kampung gerhana bulan itu pertanda kesialan dan keburukan. Pada saat gerhana bulan total orang-orang beramai-ramai keluar dari rumah masing-masing sambil membawa lesung dan kentongan untuk mengusir Batarakala. Tak berapa lama terdengar tangisan bayi memecah kesunyian malam. Hari-hari yang ia nantikan telah nyata adanya. Sebentar lagi Darsono akan menjadi sosok seorang ayah. Ayah bagi anak dan keluarga kecilnya. Kebahagian Darsono menyambut kehadiran buah hatinya hadir ke dunia hanya sekejap. Istrinya,  Murti yang dicintainya meninggal saat melahirkan anak pertamnya karena pendaharan hebat. Mbok Reti sang dukun bayi itu tak kuasa melawan takdir. Segala usaha ia kerahkan untuk menyelamatkan bayi dan ibunya itu. Tapi kehendak-Nya lah  segala sesuatu itu berpulang.

Semenjak kematian Murti, Darsono terpaksa harus merawat anaknya sendirian. Ia harus berjuang untuk membesarkan Darko sang buah hatinya itu. Darko anak semata wayangnya ternyata memiliki kekurangan fisik. Badanya yang kerdil tak bisa tumbuh normal seperti anak-anak yang lain. Pada saat Darko menapaki jenjang pendidikan tingkat dasar, Darko menerima banyak  bullyan dari teman-temannya. Segala lebel buruk telah ia terima. “Darko si anak Cebol”,  “Darko si anak Buto” , dan sebutan lain  yang jelek.  Kadang bullyan tersebut membuat Darko tidak masuk sekolah karena malu memiliki badan yang kerdil dan dituduh anak pembuat sial. Kata-kata itu terus terngiang di ingatanya.

Pernah saat sepulang sekolah Darko protes kepada ayahnya tentang keberadaanya saat ini. Sambil meletakknya buku pelajaran Darko bertanya kepada ayahnya, “ Yah... apa benar, aku anaknya Batarakala? Pertanyaan Darko membuat Darsono tak berkutik. Terasa ribuan semut rang-rang menggigit ubun-ubun kepalanya. “ Kata siapa, kau ini anaknya Batarakala?’ dengan cepat Darko menjawab, “Teman-teman yang bilang begitu Yah, katanya Darko anak gerhana?, “Darko anak rembulan?”, “Darko pembawa sial”, dengan nada kesal Darko menjawab. “Sudahlah Darko, tak usahlah kau dengar kata-kata mereka! Sebenarnya mereka iri sama Darko karena Darko anak ayah yang  pandai dan hebat!”.  “ Kalau benar Darko anak ayah kenapa tubuhku seperti ini yah!” sambil menangis sejadi-jadinya daun pintu kamar Darko ditariknya ke dalam dengan sangat keras. Braaaakkk. Terdengar keras suara kemarahan Darko memuncak di kamar tidurnya.

Dalam kondisi kalut Darsono hanya bisa menyerahkan segala urusanya kepada sang kholik. Ia tak berani memarahi buah hatinya itu. Air matanya seketika meleleh saat melihat foto yang dipajang di pojok warung kopi bersama Murti. Terasa kebahagiaan itu sangat singkat bagi Darsono. Semenjak pernikahan dengan Murti. Darsono sudah sudah mendapatkan ucapan serapah dari mertuanya sendiri.  Ia masih ingat betul perkataan  mertuanya saat itu tatkala ia tak punya apa-apa, “Kalau kau tak sanggup membahagiakan anakku,  lebih baik anakku mati berkalang tanah dari pada hidup susah bersamamu!” Sumpah serapah itu  terasa hadir betul di kehidupan Darsono. Entahlah kekalutan demi kekalutan hadir bersamaan. Terasa berat beban hidup yang dialami Darsono. Matanya berkunang-kunang. Segala bintang datang menghampiri di atas kepalanya. Darsono  tak kuasa menahan beban tubuhnya. Tak lama tubuhnya ambruk persis di depan kamar anaknya. Sementara foto Murti masih menggantung seakan  melihat dengan jelas Darsono pingsan.

Pergantian bulan demi bulan merubah usia Darko. Lima belas tahun sudah usianya kini. Ia sekarang tumbuh sebagai remaja. Seperti layaknya teman-teman seusianya yang sudah bisa menggendarai sepeda motor. Pada hari Minggu ia meminta kepada ayahnya untuk dibelikan sepeda motor  baru. Dengan cepat Darsono membongkar celengan  yang tersimpan di atas almari kayu itu. Lalu buru-buru ia mengajak Darko anak semata wayangnya itu untuk membeli motor di dealer honda yang terkenal di kotanya. Seminggu setelah pembelian itu, plat sepeda motor dengan nomor seri S 1308 DL sudah dikirim. Kini Darko sudah memiliki sepeda motor baru yang diimpikannya. Semenjak memiliki kendaraan tersebut kenakalan Darko semakin menjadi-jadi. Ia jarang pulang ke rumah. Satu bulan lebih ia tak mengunjungi ayahnya. Sepertinya  tak ada kabar yang diharapakan bahwa Darko akan pulang.

Dalam keremangan malam Darsono menunggu dengan sabar kepulangan Darko. Tak ada yang tahu kegundahan Darsono kecuali angin malam yang lewat di depan warung kopinya. Terdengar sesekali suara-suara binatang malam dari kejauhan. Suara jangkrik dan serangga yang sembunyi dibalik gundukan tanah membuat malam semakin tragis. “Tak ada tanda-tanda bahwa Darko akan pulang” bisiknya lirih pada bayanganya sendiri. Kemudian ia bergegas menutup warung kopinya dan mematikan saklar lampu. Malam kian larut  nasib Darsono tak ubahnya seperti anak ayam kehilangan induknya.

“Kang Dar, Kopi pahit? Saya teh manis? Jahe anget, Kang? Permintaan pelanggan bersahutan menyadarkan Darsono dari lamunan panjangnya. Oh..Iya...ya...! siap..siap. Jawab Darsono spontan. “Pagi hari ndak baik kang untuk nglamun?” kata Jupri menimpali jawaban Darsono. “Mbok yo ada apa seh kang, tumben ndak semangat aduk kopinya, apa kepikiran Darko?  “Iya kang betul sebulan lebih Darko ndak pulang ke rumah”,  jawab Darsono dengan nada sedih. “ Sudahlah ndak usah dipikirkan, nanti waktunya pulang ya pulang...! “ Ya ndak bisa begitu kang, wajib bagi kita sebagai orang tua bertanggung jawab  mencarinya, “Seloroh Karto memutus pembicaraan. “Mesti harus dicari ini,  tanya ke orang pintar, “ kata Somad membela Darsono. “Ya.., sudah berapa semuanya biar saya bayar semuanya? Tanya Somad kepada pemilik warung itu. “ Dua puluh ribu kang.” Jawab Darsono sambil memandangi plat nomor yang disimpanya itu. Setelah melayani pelanggan warung kopinya tersebut tepat pukul 10.00 wib Darsono bergegas menutupnya dan segera pergi ke orang pintar.

Beberapa orang pintar ia datangi untuk mendapatkan kepastiaan keberadaan anaknya saat ini. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Darko masih hidup. Sebagian lain menjelaskan bahwa Darko disembunyikan Batarakala di sebuah hutan larangan. Darko seperti tenggelam di telan bumi. Tubuh kerdilnya seakan lenyap begitu saja. Darko murka akan keberadaan dirinya. Ia merasa malu hidup di tengah-tengah masyarakat. Keberadaanya hanya dianggap pembawa kesialan saja.

Pernah pada suatu hari beberapa hewan ternak warga kampung mati mendadak. Minggu berikutnya  disusul waktu panen raya gagal total  sebab malam harinya diserang hama tikus yang datang dengan tiba-tiba. Belum lagi telaga yang biasanya digunakan untuk kebutuhan hajat hidup orang banyak mendadak kering. Peristiwa-peristiwa  ganjil tersebut penyebabnya tidak ada yang lain kecuali Darko si manusia cebol itu. Tuduh Sapri warga kampung yang terkenal licik.

Merasa dirinya tak  dianggap dan menjadi penyebab kesialan akhirnya Darko memutuskan untuk meninggalkan desa Sido Rukun dengan harapan warga setempat bisa hidup dengan nyaman tanpa dirinya. Pada malam yang ke lima belas di bulan yang sama di hari kelahirannya itu. Darko tampak mengendarai sepeda motor yang dibelikan ayahnya dengan buru-buru. Tak sengaja plat nomor sepeda motornya jatuh  persis di depan warung kopi ayahnya. Ia tidak berani menampakkan batang hidungnya demi menjaga kenyamanan warga kampung. Darko segera meninggalkan warung kopi tersebut tempat ayahnya tinggal. Sambil bergegas meninggalkan warung kopi itu ia teringat  nasihat yang disampaikan ayahnya dulu. Tiada kemulian hidup itu diukur dari bentuk tubuh dan ketampanan wajah saja. Tetapi hakikat kemuliaan itu bagaimana kita dapat akrab dengan tuhan dan bermanfaat bagi orang lain.

Selepas dari mengunjungi orang pintar, kecemasan Darsono semakin memuncak. Segera ia masuk ke rumahnya dan mengambil plat nomor yang tersimpan di laci warung kopi. Alangkah terkejutnya ia saat mengambil plat nomor tersebut. Terdengar di luar sana teriakan orang-orang ramai  menyebut nama Sapri. Segera ia keluar dan bergabung dengan warga kampung. Warga yang berkerumun itu berhasil menangkap Sapri. Sapri dikenal sebagai pemuda yang membuat onar warga kampung. Ia tak berkutik dihadapan para warga saat bersembunyi di pos ronda.

Pemuda inilah yang menyebarkan fitnah bahwa bahwa Darko penyebab kesialan. Padahal peristiwa ganjil yang terjadi itu bukan sebab kutukan Batarakala atau semacamnya.  Peristiwa binatang ternak banyak yang mati itu akibat ulah Sapri. Pada malam hari ia sengaja menaburi racun tikus pada sebagian binatang ternak warga. Tindakan yang ia lakukan sebagai pelampiasan kekalahan si blorok yang kalah saat judi sabung ayam. Peristiwa yang kedua tentang lahan pertanian yang gagal panen akibat dikroyok tikus. Lagi –lagi itu ulah Sapri. Ia memutus mata rantai makanan yang ada di alam sekitar. Semenjak ia gemar menangkap biawak dan burung hantu di sawah, perkembangan tikus  semakin merajalela. Demi kepentingan pribadinya dijualah biawak dan burung hantu kepada penadah di kampungnya untuk di jual ke kota. Air telaga yang kering itu disebabkan pohon disekitar  telaga dibabat habis sehingga tidak ada resapan air ketika musim kemarau.

Darsono dengan mata berkaca-kaca memandangi plat nomor yang jatuh di depan warung kopinya. Nampak dari kejauhan sepeda motor dengan nomor seri yang sama tergeletak persis di samping pos ronda. Dengan perasaan berkecamuk ia berjalan mendekati pos ronda itu berharap bertemu dengan sang buah hatinya. Namun kenyataan pahit itu terulang lagi. Darko seperti menghilang ditelan bumi. (*)



 


*SUHARSONO A.Q.S
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Lamongan. Tinggal di Desa Sambopinggir, Kecamatan Karangbinangun, Lamongan.
Editor : M. Yusuf Purwanto
#pelat nomer #kapas #cerpen #warung #kisah #lembar budaya #Kopi #Cerita