Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Misteri Lembah Putri

M. Yusuf Purwanto • Senin, 13 Juni 2022 | 15:00 WIB
Windy Khairunnisa(Dokumen Pribadi For RDR.BJN)
Windy Khairunnisa(Dokumen Pribadi For RDR.BJN)
SORE ini sama seperti sore-sore sebelumnya. Sepi. Hanya suara desir ombak yang mengisi kekosonganku. Aku membiarkan angin menyibak rambutku yang tergerai panjang. Aku rindu suasana damai. Entah kapan terakhir kali aku mengunjungi pantai. Di tepi pantai Lembah Putri, salah satu pantai di Jawa Barat itu aku menautkan kakiku pada gelombang ombak yang datang. Mengistirahatkan tubuhku dari penatnya bekerja dan hiruk pikuk perkotaan.

 

Melihat betapa indah dan cantiknya semburat cahaya matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Sangat disayangkan pantai seindah ini jarang sekali ada yang mengunjungi. Terlepas dari mitos-mitos dan cerita mistis yang beredar, pantai ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menenangkan pikiran sekaligus me-recharge energi. Ngomong-ngomong soal cerita mistis, rumornya pantai ini memang penuh misteri. Banyak orang yang pernah bertemu dengan manusia tanpa kepala, makhluk berjubah putih berambut panjang yang kerap disebut kuntilanak, siluman bahkan cerita mengenai orang yang hanyut tersapu ombak karena ingin membuktikan kebenaran salah satu ‘penghuni’ yang berada disana. Tapi aku tidak terlalu mempercayainya. Hanya pemikiran jadul yang mempercayai hal tersebut, pikirku. Aku hanya ingin merasakan suasana yang sepi dan damai disini.

 

Tidak terasa tubuhku berlubang tertusuk oleh dinginnya angin sore itu. Saat aku akan beranjak dari sana, aku melihat samar-samar seseorang di kejauhan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, mungkin karena mataku yang minus. Tapi lebih tepatnya karena minim pencahayaan dipantai. Hanya semburat cahaya senja yang terlihat. Aku mulai bergidik. Alisku naik sebelah, aku merubah langkahku menjadi pelan dan sekarang mengendap-endap. Di pantai ini hanya ada aku saja.

 

“Ah sudahlah, mungkin nelayan”. Aku berusaha menenangkan diriku.

Saat aku menyalakan smartphone, aku melihat pukul 18:10 dilayar.

 

“Sudah satu jam lebih ternyata. Kukira baru limabelas menit sejak aku sampai disini”, kataku.

 

Tapi, lagi-lagi aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari orang itu. Dia hanya berjalan lurus ke laut.

 

“Mencurigakan sekali”, bisikku.

 

Bukan tanpa alasan aku ingin mengetahui siapa orang itu, sedang apa dia disana. Tapi karena ingin memastikan jika orang itu baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Aku teringat pada diriku satu tahun yang lalu. Saat aku lelah mencari pekerjaan, ibuku yang meninggal satu minggu sebelumnya dan tidak ada tempat untuk aku berkeluh kesah. Aku ingin menyerah. Aku berusaha menghanyutkan diri untuk menemui ibuku. Mungkin lebih baik begini, pikirku waktu itu.

 

Aku diam memandangnya dari kejauhan. Di tengah gelombang ombak yang datang, orang itu perlahan masuk kedalamnya tanpa rasa takut atau ragu sekalipun. Aku menelan saliva, tubuhku kaku saat melihat tiga ular yang sangat besar muncul bersamaan dengan hanyutnya orang itu. Aku mengedipkan mataku berulang kali, tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat.

 

“Sekelompok makhluk apa itu?”, tanyaku kepada diri sendiri.

 

Aku terlalu fokus memperhatikannya sampai tidak mengetahui jika ada satu binatang kecil yang mendekatiku. Aku menjerit saat kaki kananku digigit sesuatu. Saat aku mencoba melihat, ternyata satu kepiting kecil berjalan menjauh dariku.

 

“Sial. Kepiting sialan. Pasti dia menyapit kakiku”, aku menggerutu.

 

Saat aku mengelus-elus kaki untuk mengurangi rasa sakit, aku mendengar desisan seperti ada sesuatu yang mendekat. Aku lupa dengan kehadiran makhluk aneh itu, pastinya mereka mendengar suara jeritanku tadi. Jantungku berdebar tak karuan, keringat mulai membasahi tubuhku. Saat aku berbalik badan, aku melihat tiga ular besar itu berada tepat di depanku, dengan mulut yang menganga amat lebar seperti siap untuk menelanku. Mulutnya berisi gigi taring dengan ujung yang sangat runcing. Tubuhnya penuh sisik berwarna hijau kecoklatan yang berkilau sekaligus menjijikan. Matanya berwarna merah menyala. Diatas kepala salah satu ular itu aku melihat pria tanpa busana membawa keris, tubuhnya penuh dengan sisik. Orang itu menatapku. Aku terpaku, ingin berteriak tetapi tidak ada suara. Aku segera berdiri untuk lari, namun ekor ketiga ular itu lebih dulu melilitku dan mengangkat tubuhku lalu melemparnya ke laut.

 

“Gubrakkkk, brukkk”, aku terjatuh dari bangku kerja.

 

Buku yang tertata rapi di meja menjadi jatuh berhamburan di lantai. Ditambah segelas kopi tumpah membasahi lembar kerjaku. Orang-orang menghampiri, mencoba menyadarkanku.

 

“Hadeuh Sih, tong sare mun keur digawe”. Dedeng, salah satu rekan kerjaku menasehatiku dalam bahasa Sunda yang artinya “Hadeh Sih, jangan tidur kalau sedang bekerja. (*)

 

Windy Khairunnisa. Lulusan SMAN 1 Ngrambe, Ngawi. Kini mahasiswa baru prodi psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#Misteri Lembah Putri #bupati bojonegoro #lembar budaya #anna mu’awanah #bojonegoro