Ada yang berangkat karena menjual sawah cepat laku atau payu. Masyarakat menyampiri gelar guyonan sebagai Kaji Wahyu. Sawahe wis payu. Diundang kaji Abidin. Atas biaya dinas. Berangkat haji karena dibiayai uang negara. Ada juga yang disebut Kaji Sokeh karena disumbang biayanya oleh banyak anggota keluarga. Dengan kata lain, Sokeh sebab disokong wong akeh.
Bagi Kaji Mardud keberangkatannya ke tanah suci bukan karena semua alasan diatas. Sebab biaya yang dipakai berangkat ke Makah Madinah berasal dari keberlimpahan harta benda yang dimilikinya. Tapi juga bukan karena niat bersih untuk beribadah menunaikan rukun Islam di Haramain. Berangkat ke dua kota mulia atau tanah haram tersebut lebih karena alasan gengsi. Prestise yang ingin ditunjukkan pada sebagian masyarakat di lingkungannya yang sering mengolok-olok dengan kalimat miring. Karena kekayaannya didapat dari penghasilan uang haram. Semasa muda jadi bandar dadu di kampung-kampung. Pernah mndirikan warung untuk jualan miras. Terakhir sebelum berangkat haji, diketahui punya area strategis dimana dia sebagai bos mucikari.
Julukan Kaji Mardud sebagai bukti nyata olok-olok tersebut. Karena nama asli yang disandang dari kedua orang tuanya adalah Mohammad Marjud. Kalau kemudian dilecehkan sebagai Kaji Mardud atau kaji yang ditolak karena mengunakan uang haram, dia cuek tak ambil pusing. Suara sumbang orang-orang dianggap sebagai ulah kelompok Jarkoni. Pinter ujar ora bisa nglakoni. Jika dibiarkan pasti diam sendiri. Hilang terhempas angin lalu.
Ternyata tidak salah. Apa yang dipikirkan oleh Kaji Mardud menjadi kenyataan. Gunjingan orang itu lama-lama reda sendiri tanpa ditanggapi. Malah julukan Kaji Mardud menjadi populer. Disebut dan dikenal di mana-mana. Namanya menjadi semakin kondang dan terkesan gagah. Bahkan lama lama meninggi penuh wibawa berkharisma. Meski dulu, istrinya sering memarahinya karena pilih diam diolok-olok.
"Pak, sampeyan iki piye? Dilecehkan orang di sembarang tempat dan tak kenal waktu kok diam saja tidak membela diri?!" protes Hajah Marfuah istrinya di suatu kesempatan.
"Biarkan, nanti kalau sudah bosan akan berhenti sendiri Mar!" tukas Kaji Mardud dengan nada enteng.
"Lho, harusnya kita malu dirasani dan diolok-olok dengan sebutan merendahkan begitu, Pak!" sahut wanita yang telah memberinya dua anak.
"Rendah dihadapan manusia itu hal biasa, tapi yang celaka jika yang merendahkan dan meremehkan tersebut pengeran sing gawe urip, Mar. Biarkan orang-orang itu menistakan kita, toh kenyataannya begitu. Hanya aku heran mengapa mereka tidak pernah menghujat orang-orang yang berangkat umrah dan haji dari uang korupsi dan penipuan? Kita dinistakan, sementara mereka yang diam-diam melakukan pencucian uang dielu elukan seperti pahlawan" jawab Kaji Mardud dengan swara meninggi bak politisi berargumentasi.
"Sudahlah, Pak. Kalau tak mau menanggapi omongan orang-orang itu, sebaiknya tidak usah nglantur membawa bawa kejelekan orang. Ayo lebih baik bertaubat dihadapan Allah atas dosa kesalahan yang pernah kita lakukan. Mumpung kita masih diberi kesempatan umur panjang. Bukankah, pengampunan Allah lebih besar daripada dunia dan seisinya,"
Tiba tiba Kaji Mardud tak mampu berkata kata. Setelah mendengar kalimat terakhir istrinya. Duduk tertegun menghadap meja. Sambil melepaskan asap udud yang baru dihisapnya dalam-dalam. Kalimat yang dilontarkan Hajah Marfuah bak kekuatan ghaib yang menyusup menyadarkan laku hidup anak manusia. Seperti kalimat bercahaya yang tiba tiba datang membenderang jalan rohani penerang hati.
Sejak itulah Kaji Mardud seperti mulai insaf akan jalan gulita hidupnya. Terlebih dua anaknya yang sudah merangkak dewasa, menjadi pertimbangan utama. Tak tega pun tak elok terus mempertontonkan laku nista di depan buah hatinya.
Jadilah perbincangan singkat tersebut sebagai momentum titik balik lembar hidup bersalin warna. Istrinya bersukur luar biasa mendapati perubahan nyata. Kedua anaknya putra putri merasa bangga ayahnya menjadi teladan siapa saja.
Begitupun orang-orang yang dulu mengolok-olok dan menyebarluaskan aibnya. Kini telah berubah seratus delapan puluh derajat dalam bersikap. Puji sanjung meresonansi jauh ke mana-mana. Kharisma pun wibawanya melambung tak terkira. Undangan berbagai jenis hajatan diterima. Diposisikan duduk di deretan kursi paling depan. Penghormatan sebagai tokoh yang dianggap teladan, pebisnis sukses nan dermawan. Sekelompok masyarakat sudah ada yang dukung-mendukung agar ke depan ikut running di ajang kontestasi pemilihan kepala daerah.
Diam-diam Kaji Mardud mengembangkan bisnis anyar. Bisnis dengan skala yang lebih luas dan lebih besar. Setelah meninggalkan pekerjaan yang berlumur maksiat di masa lalu. Jualan miras, mucikari, dan bandardadu yang pernah menjadi sumber pundi-pundi uangnya, kini semua itu dijadikan cerita masa lalu yang hendak ditinggalkan. Antusias menekuni bisnis baru yang misterius. Nyaris tidak ada yang tahu sedang bisnis di bidang apa. Namun yang pasti, keuntungan yang diraup berlipat ganda. Jika dibandingkan dengan usaha sebelumnya.
Terbukti kekayaannya berupa transportasi, properti, hingga investasi begitu mencengangkan. Omzet dan aset yag begitu menggurita. Kiprahnya di ranah sosial begitu fenomenal. Masjid, mushalla, pesantren, pendidikan hingga kegiatan sosial di berbagai tempat didanai secukupnya.Pendek kata Kaji Mardud menjadi miliarder anyar yang sukses pribadi menawan dan berjiwa dermawan.
Meski telah menjadi orang baik-baik. Figur yang dihormati disegani dan sarat pengaruh, julukan lamanya tidak pernah berubah. Tetap dijuluki Kaji Mardud. Namun bukan lagi Kaji Mardud yang dikesankan negatif. Justru sebutan yang dulu berkonotasi miring tersebut kini berubah memiliki makna positif. Makna yang produktif untuk mengangkat citra seseorang di tengah masyarakat.
Pencitraan yang semakin sempurna. Karena tahun ini Kaji Mardud bersama istri mendapat jadwal porsi haji yang berangkat ke tanah suci. Haji untuk yang kedua kalinya. Sebab puluhan tahun lalu keduanya telah menyempurnakan rukun Islam ke lima. Meski sepulang haji mendapat julukan Kaji Mardud, bukan haji mabrur.
Diantara kesuksesan yang digapai tersebut ternyata masih ada sesuatu yang mengganjal bagi istrinya. Sesuatu tersebut berasal dari perubahan kekayaan yang mendadak. Begitu cepat, sehingga tidak dapat dinalar oleh anggota keluarga. Menyeruak tanda tanya besar yang menjadi teka-teki sarat misteri. Dalam ungkapan jawa, disebut sebagai cangkriman tanpa batangan. Hingga istrinya terus mendesak untuk menjelaskan terus terang. Agar apa yang dirasa sebagai rahasia tersebut gamblang di mata keluarga.
"Pak, betapa besar anugerah Allah kepada keluarga kita. Bahagia,tidak kurang suatu apapun dalam hidup ini. Hanya masih ada yang mengganjal dalam hati saya. Ingin tahu sebetulnya usaha apa yang menjadikan bisnis kita selama ini sukses besar?" tanya Hajah Marfuah penuh harap.
"Sudahlah,Mar. Tidak usah cemas. Nggak usah tanya macam-macam. Bisnis kita di Sulawesi maupun di Nusa Tenggara Timur sudah ada yang menjalankan. Sudah menempatkan orang-orang kepercayaan. Saya di sana sebatas mengawasi. Dengan harapan jika kelak anak kita sudah selesai kuliahnya, bisnis tersebut akan kita wariskan,"
"Tapi sebagai istri saya ingin mengetahuinya,Pak. Biar kalau ada tetangga yang rasan rasan bisa menjelaskan. Sesungguhnya apa bisnis yang bapak lakukan di berbagai tempat. Bahkan hingga ke manca negara?!"
"Ah, seperti tidak tahu saja,Mar. Tetangga, di mana tempat sudah terbiasa suka rasan rasan. Bahkan gosip dan ngrumpi sudah dipelihara menjadi budaya. Sudahlah, yang saat ini penting dipikirkan adalah kesiapan berangkat haji ke tanah suci. Bukankah kita berangkat di kloter awal Bojonegoro dan Tuban?"
Perbincangan terhenti. Kalimat Kaji Mardud yang mengingatkan kesiapan ke tanah suci, menjadikan Kaji Marfuah tersentak ingatannya. Tersebab belum menyiapkan segala sesuatu untuk tasyakuran, manasik, termasuk mempersiapkan oleh-oleh buat tamu sepulang haji.
Di tengah persiapan melaksanan prosesi haji, Kaji Mardud mewanti-wanti anak lelakinya yang baru lulus kuliah. Agar ditengah kesibukan keluarga, tetap melanjutkan rencana membuka lokasi destinasi wisata di daerah. Untuk melebarkan sayap bisnisnya sebagai konglomerat. Anak putrinya yang menjelang wisuda, sudah diberi amanah mengembangkan bisnis properti. Menjadi pengembang perumahan yang masih ada harapan meski sempat lesu selama pandemi. Semua rencana besar dalam bisnis,diatasnamakan dua anak kesayangan. Bukan nama Kaji Mardud pribadi yang dipakai. Entah apa tendensinya.
Tidak hanya nama istri dan anak-anaknya yang dipakai mengibarkan bendera berbagai jenis bisnis. Nama saudara dan kemenakanpun dimanfaatkan untuk mendirikan usaha bisnis. Usaha kuliner dan showroom jual beli kendaraan. Sementara Kaji Mardud sendiri tidak begitu kentara mobilitasnya. Bahkan nyaris tak terlintas di mata umum, di area mana kantor pengendali bisnis. Bak siluman yang tak kasat mata, namun gerakannya begitu tersa.
Kondisi menjalankan bisnis dengan strategi siluman tersebut barangkali telah dipikirkan masak-masak oleh Kaji Mardud. Tidak banyak mobilisasi. Mengurangi interaksi yang kontraproduktif. Komunikasi dan interaksi yang efektif efisien. Interaksi menonjol baru nampak saat persiapan tasyakuran pemberangkatan haji. Walimatus safar yang dikemas mewah dan meriah.
"Mar, katering untuk walimahan seribu orang jangan lupa diingatkan kembali," wanti-wantinya malam itu saat rembugan keluarga sehari sebelum hajatan.
"Sudah pak, bahkan jumlahnya saya tambah dua ratus. Untuk jaga-jaga panitia dan kru lain. Lebih baik lebih daripada kurang saat pelaksanaan" jawab Hajah Marfuah dengan rona wajah sumringah.
"Le, Yanto. Terop kursi dipastikan sudah siap pada hari pelaksanaan. Hadrah pengiring shalawat talbiyah, termasuk panitia pelandang harus dipahamkan rangkaian acara awal hingga akhir," Kaji Mardud mengingatkan anak lelakinya.
"Sudah beres, Pak. Tinggal memastikan KH Sahid yang ngasih tausiyah." ujar anak sulungnya santun.
"Ndhuk, Citra. Kesiapan oleh oleh tamu saat berangkat dan pulang dari tanah suci bagaimana?" tanya Kaji Mardud mengkonfirmasi.
"Sampun, Pak. Jumlah sarung dan mukena yang disiapkan kurang lebih lima ribu,"
Memang keberangkatan Kaji Mardud dan istri ke tanah suci tahun ini dibuat lebih megah dalam banyak hal. Kalau haji pertama dulu sudah digelar mewah, saat ini lebih meriah lagi. Artinya biaya yang digunakan untuk tasyakuran, oleh oleh dan hal lain yang menyertai jauh lebih besar dibanding dengan biaya resmi mendaftar haji itu sendiri.
Dapat ditebak, bagi Kaji Mardud ibadah haji bukan sebatas prosesi perjalanan religi. Tapi sekaligus dijadikan panggung menggelar gengsi. Membuktikan kepada khalayak ramai bahwa dia adalah dermawan yang pantas disegani. Jiwa sosialnya dikonversi sebagai alat untuk membungkam orang-orang yang berkonentar minor tentang dirinya.
Hajatan walimatus safar yang digelar Kaji Mardud sukses besar. Kesuksesan dipandang dari sisi kemeriahan pelaksanaan maupun pesan yang ingin disampaikan. Pesan yang tersirat, bahwa dia bukan orang biasa apalagi dituding pengumpul uang haram. Karena pasca tasyakuran perbincangan orang terus memuji sanjung tanpa henti. Tak heran kunjungan handaitaulan dan kenalan mengalir tiada putusnya menjelang keberangkatan.
Meski bukan politikus, komunikasi Kaji Mardud dapat dibilang jempolan. Setiap kesempatan sekecil apapun dapat dijadikan panggung mendulang simpati. Meraih popularitas. Panggung untuk memainkan sandiwara yang memukau penonton dengan permainan watak. Bagi Kaji Mardud, hidup dan kehidupan adalah dramaturgi. Dibutuhkan kemampuan memainkan panggung depan dan panggung belakang. Dan yang terpenting, orang tidak tahu dan tidak merasa kalau sedang terkena tipudaya.
Tak terasa Kaji Mardud dan istri sudah hampir tuntas menunaikan prosesi haji di tanah suci. Arbain di Masjid Nabawi Madinah, umrah thawaf dan sa'i di Masjidil Haram, wukuf di Arafah, hingga lempar di Jamarat telah usai. Tinggal berkemas menuju Jeddah untuk pulang ke tanah air. Kepulangan, yang pasti akan dijadikan panggung lagi demi meraih ketenaran. Panggung menghapus lembaran hitam masa lalu, menjadi pujian yang siapa tahu di suatu waktu menjadi keuntungan elektoral.
Hari ini rumah Kaji Mardud penuh orang untuk menyambut kedatangannya. Kerabat dan tetangga dengan wajah berbinar serta selingan tawa tak jenuh menunggu meski agak lama. Tiba-tiba kerumunan orang di depan rumah terkejut, karena datang mobil aparat keamanan. Hadir beberapa polisi berseragam maupun tidak. Semua warga di lokasi tersebut terheran dengan ketokohan dan ketenaran Kaji Mardud. Sampai-sampai, pulang haji saja rumahnya dijaga ketat oleh aparat keamanan.
Taklama rombongan penjemput datang. Kendaraan pajero sport masuk halaman. Kaji Mardud bersama istri turun langsung dikerumuni kerabat dan tetangga yang berebut peluk cium. Saling berangkulan.Tangis kebahagiaan mewarnai suasana kedatangan. Sejurus kemudian masuk menuju rumah utama. Diikuti oleh keluarga dan tetangga. Polisi yang ada di halaman tak lama ikut masuk ke dalam rumah.
Namun orang-orang mendadak tercengang, belum lama di dalam rumah, polisi tiba-tiba menggiring Kaji Mardud dan istri naik mobil polisi yang sudah disiapkan untuk diinterogasi. Keluarga dan seluruh tamu ikut berhamburan. Rumah mewahnya segera di pasang garis polisi. Semua orang dilarang masuk mendekati.
Esoknya, hampir semua media mainstream dan media online menulis headline. Isi judul yang hampir sama. Bandar Narkoba Internasional ditangkap polisi sepulang haji. (*)
Tamat
*) Sastrawan di Sanggar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) Buku karyanya berupa Kumpulan Geguritan “Dalan Enggokan” segera terbit
Editor : M. Yusuf Purwanto