Sebagian rambutnya memutih digelung kain hitam semacam pita. Kulitnya kuning langsat dan raut pandangnya lembut menyisakan kecantikan di masa lalu.
Sesekali lirikan matanya bertemu bayangannya sendiri yang memantul dalam cermin oval pada dinding di hadapannya. Ada sedikit kebanggaan tersimpan. Ia tinggal sendiri menempati rumah joglo pintu gebyog. Hampir semua dindingnya dari kayu jati tua. Halaman depan, cukup luas ditanami kembang bakung, bugenvil ungu dan alamanda kuning menghadap ke jalan kampung tidak begitu ramai. Suaminya telah meninggal 18 tahun lalu saat musim durian.
Sunthi anak tunggalnya kini pergi mengikuti suaminya bekerja di Papua. Waktu kesehariannya dilalui dalam kesendirian. Awalnya kesendirian itu bagai beban menyiksa. Tetapi kini dirasakan sebagai anugerah terindah membuatnya semakin tabah menjalani hidup.
Kesendirian adalah kesetiaan pada waktu dan kodratnya. Kesendirian menyatu dengan ketangguhan jiwanya. Seperti geliat halus memenuhi rongga jantung, mengalir ke seluruh jaringan nadinya. Setiap saat memantikkan getar romatisme mengajak berbuat sesuatu terindah seperti ngadi sarira, nembang, menari, melukis atau membatik lazim dilakukan kaum perempuan sebayanya.
Yang paling disukai adalah membatik. Ia suka membuat motif burung dipadukan dengan bunga dan pepohonan. Mengurai warna dasar lembut. Sejak lama ia memang menyukai burung. Secara harfiah bentuknya cantik dan indah. Berbulu halus, rapi berwarna-warni. Kaki dan cakarnya kecil ramping, gerakannya lincah ceria. Semua dimiliki senantiasa menumbuhkan rasa kasih sayang.
Beberapa jenis burung memang pernah dipelihara. Mulai kakaktua, merak, dara, tekukur, puter, dan burung ocehan lainnya. Ketika suaminya meninggal, burung peliharaan itu satu per satu mati. Tidak diketahui entah kenapa.
Mungkin masih ada ikatan batin dengan suaminya. Tinggal beberapa jenis burung lalu sekalian dilepaskan. Rasanya tak tega lagi melihat mereka pada sekarat. Semoga mereka bisa hidup bebas di alam raya. Namun, kesukaan perempuan itu pada burung tetap membara seperti saat suaminya masih hidup.
***
Pohon pohon jati di kebun belakang rumah sedang berbunga. Hampir semua daunnya tertutup warna kuning hijau indah. Tiupan angin bercampur hujan sering mengakibatkan bunga dan buahnya jatuh berserakan, bagai membuahi bumi.
Beberapa burung tekukur berteduh saling bercumbu. Berloncatan dari dahan satu ke dahan lainnya. Kemudian berkejaran terbang rendah ke pohon lain. Di sanalah mereka merasa aman berkumpul setiap harinya.
Kebun yang luas itu dulu ditanami sayuran dan berbagai macam buah. Seperti pisang, mangga, durian, dan srikaya. Sesekali pedagang datang memborongnya untuk dijual lagi ke pasar. Kini tinggal beberapa pohon mangga dan durian masih tersisa di antara pohon jati dan pisang.
Rumput liar dan ilalang tumbuh subur. Perempuan itu hanya bekerja semampunya. Daun-daun kering berserak disapu lalu dibakar. Buah-buahan dibiarkan saja masak di pohon. Sehingga menjadi tempat pesta burung dan codot.
Di dalam kebun terdapat bangunan kecil menyerupai dangau dengan beberapa bangku. Di sana perempuan itu sering duduk diam berlama-lama menikmati kesendirian.
***
Matahari kian naik menjelang tengah hari. Mendung berarak menghalangi terik panasnya. Perempuan itu bergegas lagi menuju kebun. Membuka dangau, menyediakan makanan bagi burung-burung. Dikeluarkannya jagung, gabah, dan sedikit beras, dituangkan ke dalam beberapa piring plastik.
Terutama untuk burung emprit dan gelatik semakin hari semakin punah. Mereka hampir habis dijaring, ditembaki hanya untuk nafsu kepuasan. Padahal, Tuhan menciptakan bumi air dan kekayaan alam beserta terkandung di dalamnya digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan makhluk. Piring-piring berisi gabah, dan jagung itu diletakkan di tengah halaman. Sedangkan beras hanya ditaburkan sedikit di dekatnya.
Siang menjadi redup. Angin bertiup semilir membuat perempuan itu terkantuk. Kepalanya tersandar di tempat duduknya. Tiba-tiba ia dikejutkan suara kepak sayap dari arah depan. Dari pohon jati meluncur dua ekor burung tekukur bersamaan menukik merendah lalu hinggap di piring plastik tempat gabah dan jagung.
Gerakannya lincah dan gesit. Dari arah lain datang pula serombongan burung kutilang menyerbu tandan pisang yang masak. Suasana semakin riuh dan gembira. Tak lama kemudian datang pula serombongan burung emprit dan burung gereja. Mereka turun satu per satu mengerumuni gabah dan taburan beras.
Kakinya lincah berloncatan. Serasi dengan paruhnya bergerak mematuk makanan di dalam piring. Perempuan itu semakin senang melihat mereka bergembira menikmati makanan disediakannya. Datang lagi serombongan burung dara. Warna bulunya kebanyakan putih kelabu dan hitam. Mereka ikut berebut makanan termasuk yang sedang dimakan burung emprit dan burung gereja.
Piring plastik itu diinjak ditumpahkan isinya. Perempuan itu merasa kesal lalu berdiri mengacungkan tongkatnya mengusir burung dara liar itu agar pergi. Meskipun agak bandel akhirnya mereka pergi semua.
Datang lagi burung puter putih dengan lingkaran garis hitam pada lehernya. Ia datang hanya seburung diri. Ia tidak peduli dengan burung lain berteman banyak. Ia langsung saja menuju tempat jagung lalu dengan tenang memakannya.
Perempuan itu jadi teringat suaminya pernah memelihara burung puter mirip sekali dengan yang kini ada di hadapannya. Beberapa kali ia mematuk jagung dan berkicau berulang kali. ”Kugeruu koq, kugeruu koq.”. Kepala dan badannya diangguk-anggukkan. Bulu di lehernya berdiri. Dengan tenangnya menikmati jagung, sementara burung yang datang terlebih dahulu sudah pada kenyang. Bergantian terbang pergi meninggalkan kebun itu. Termasuk burung kutilang.
Burung putih berkalung hitam satu itu terlihat jinak, tidak segesit yang lain. Tatapan matanya tidak seliar burung dara. Perempuan itu tiba-tiba tertarik akan peringainya. Bentuk bulunya lebih tebal dan gemuk. Ia lebih suka memakan gabah. Ketika gabah sudah habis ia beralih mendekati butiran jagung.
Ia tetap tenang meski sendirian. Kakinya pendek berjalan di antara piring-piring plastik tertelungkup. Paruhnya kecil mencoba membalikkannya. Ternyata di sana masih tersisa butiran jagung. Burung puter itu semakin menarik hati perempuan sejak tadi mengawasinya.
Setelah berhasil membalikkan piring, sejenak burung itu diam. Terdengar lagi suara kicauannya. Kugeerruuu koq, kugeerruuuu koq, kugeerruuu koq. Perempuan itu menjadi gemas. Biar kupanggil saja dia dengan Si Puter.
Tiba-tiba kicauannya terhenti, memandang ke arah perempuan semakin mendekatinya. Kepalanya sejenak menoleh ke kiri dan kanan seperti bersiap terbang pergi. Langkah perempuan itu berhenti tangannya bergerak agar burung itu mendekat. Tetapi kelihatannya takut, kakinya mundur beberapa langkah dan byuurrr, terbang pergi hinggap di pohon mangga.
Ah, sayang sekali ia malahan pergi. Perempuan itu melentik-lentikkan jemarinya memanggil dari bawah. Si Puter malahan terbang lalu menghilang. Perempuan itu kecewa. Pandangannya ke arah dahan pohon mangga yang sepi. Hari semakin sore, perempuan itu membenahi beberapa piring plastik dan menyimpannya kembali ke dalam dangau, lalu pulang.
***
Perempuan setengah tua itu menyelesaikan semua urusan memasak di dapur. Waktu tengah hari nanti ia sudah berada di kebun belakang rumah. Ia yakin bahwa sebentar lagi Si Puter pasti datang. Ia merasakan ada sesuatu istimewa pada burung putih berkalung hitam itu. Ia rindu kepada suaminya telah tiada. Suaminya dulu sering memintanya mengenakan kebaya hitam dan memakai jarit parang klithik.
“Diajeng kamu sangat pantas mengenakan kebaya hitam dengan jarit parang klithik seperti itu. Cantik, lemah lembut, dan anggun, seperti putri keraton.”
Digandengnya tangan isterinya, lalu duduk berdempet sekursi berhadapan dengan sangkar burung puter di beranda belakang. Tahu majikannya datang, burung berkalung hitam itu berkicau. “Kugeruu koq, kugeruu koq, kugeruu koq,” berkali-kali.
Bulu-bulu di lehernya berdiri, kepala dan badannya digerakkan hampir menungging menghadap majikannya. Wajah suaminya terlihat gembira, tangan kanannya memetik-metikkan jemari ke arah burung itu. Burung itu bergerak semakin menjadi-jadi, menari memutar badannya. Naik turun tempat pijakan. Kugeruu koq…kugeruu koq..
“Diajeng,” suaminya berbisik sangat dekat dengan pipi isterinya. “Kamu dengar bunyi nyanyian si puter itu kan?”
“Ya dengar Kang Mas. Suaranya merdu.”
“Coba tirukan dengan baik.”
“Kugeeruu koq, kugeeruu koq.” isterinya menirukan sesempurna mungkin.
“Ah, aku mendengarnya bukan begitu Diajeng.”
Perempuan itu penuh tanda tanya, ia merasa apa ditirukan sudah benar. Ia bertanya mengejarnya. “Aku sudah berusaha dengan benar lho Kang Mas ?”
“Belum. Maaf, mungkin telinga Diajeng saja yang kurang peka.”
“Lalu, yang benar bagaimana sih Kang Mas?” isterinya merajuk manja.
“Coba itu dengarkan baik-baik.”
Seperti ada yang menyuruh, burung puter itu menyanyi lagi. Mereka berdua mendengarkan lagi lebih cermat dan seksama. Menurut isterinya tidak ada bunyi lain kecuali “kugeruuu koq, kugeruuu koq”. Ia segera meminta suaminya menyontohkan bagaimana yang benar. Suaminya meminta agar isterinya mendengarkan dengan baik dan mencermatinya. Ditirukannya suara burung puter itu menurut pendengaran telinga suaminya.
“Empuk jeruu koq; empuk jeru koq;…Nah seperti itulah Diajeng yang benar.”
Sontak tawa isterinya mau meledak, tetapi ditahannya. “Ah saru; bukan begitu Kangmas.” kata isterinya protes.
***
Angin bertiup dari luar masuk ke jendela kamarnya membuyarkan lamunan perempuan setengah tua itu. Waktu mendekati tengah hari. Ia harus ke kebun menyambut kedatangan burung-burung. Dikenakannya kebaya hitam dan kain bathik parang klithik. Ia bergegas menuju dangau mengambil makanan untuk burung. Seperti biasa, beras, jagung, dan gabah dituangkan ke piring-piring plastik lalu diletakkan di tanah berjajar agak ke tengah kebun.
Perempuan itu duduk di bangku panjang menunggu kehadiran beberapa kelompok burung. Ia mulai mengeluh, biasanya saat seperti ini suasana sudah ramai. Pada ke mana mereka. Hatinya mulai kesal, lebih baik pulang saja. Mereka menyia-nyiakan tenaga, waktu, dan kesediaan menunggunya.
Ia berdiri mau mengemasi beras dan jagung akan dimasukan kembali ke dangau. Pak, pak, pak !!…terdengar kepak sayap halus. Ternata Si Puter datang lalu hinggap di salah satu piring berisi jagung. Beberapa butir jagung telah dipatuknya.
Perempuan itu menengok lalu mengurungkan niatnya pulang. Kedua telapak tangannya direntangkan ke burung puter yang makan di depannya. Wajahnya cerah berseri. Ada semacam kerinduan membelit hatinya.
“Selamat datang Kang Mas..”
“Kugeruuu koq, kugeruuu koq…..”.
Si Puter menyambutnya dengan bernyanyi panjang. “Ah, Kakang Mas…” ucapnya sendu.
Sebutir air mata bergulir membasahi pipinya membasuh rasa kangen pada almarhum suaminya.
Bojonegoro, Bupati Bojonegoro, Anna Mu'awanah, Lembar Budaya, Si Puter,
Catatan:
*Bathik parang klithik: jenis kain bathik sering digunakan perempuan di lngkungan keluarga keraton.
*Ngadi sarira : bersolek.
*Saru : tidak pantas.
*Sunaryata Soemardjo, pegiat sastra PSJB
Editor : M. Yusuf Purwanto