LAMONGAN, Radar Lamongan – Sekitar 10 ribu ton atau 35 persen dari alokasi 30 ribu ton beras impor di Bulog Subdivre III Bojonegoro, Lamongan, Tuban, sudah didistribusikan.
Kepala Bulog Subdivre III, Ferdian D Atmaja, mengatakan, beras impor itu untuk bantuan pangan periode September – Oktober di wilayah tugasnya. Dia tidak menyebutkan data detail distribusi khusus Lamongan.
Menurut dia, beras diimpor itu berasal dari Vietnam dan Thailand. “Sudah didistribusikan untuk bantuan pangan periode dua bulan ini,” ujarnya.
Ferdian menjelaskan, cadangan beras pemerintah (CBP) terdiri atas beras dalam negeri dan luar negeri. Saat ini, stok CBP dalam negeri menipis karena digunakan program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) atau pasar murah.
Dia menambahkan, bantuan pangan menggunakan beras impor karena pengadaan beras lokal terkendala harga. Menurut Ferdian, harga jual beras maupun gabah di tingkat petani melebihi batas harga pembelian pemerintah dan Badan Pangan Nasional. “Harga di petani melebihi HPP Bulog, jadi serapan terkendala dan mempengaruhi stok CBP juga,” terangnya.
Harga gabah di tingkat petani mencapai Rp 7 ribu per kilogram (kg). Padahal, ketetapan HPP Bulog untuk gabah kering giling (GKG) tahun ini Rp 5.750 per kg.
Menurut dia, target serapan setara beras untuk bulog tahun ini 30 ribu ton. Target ini belum terealisasi karena tingginya harga di tingkat petani. “Semoga harga bisa stabil lagi dan daya beli masyarakat tidak terganggu,” harapnya. (rka/yan)
Editor : Hakam Alghivari