Ria Kustia Ningsih, seorang perajin fake nails di Lamongan mengatakan, dulu mempercantik kuku menggunakan kutek, yang kini mulai ditinggalkan. Sebab, pengerjaan rumit dan butuh waktu lama untuk pengeringan.
Sehingga, diakuinya, muncul fake nails yang lebih simpel tapi lebih bervariatif dan indah. Tak hanya itu saja, tapi beberapa warna dan model pilihan sangat banyak, tergantung selera pelanggan, tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (2/6).
Ria, sapaan akrabnya menjelaskan, awalnya membersihkan kuku asli kliennya. Setelah bersih, Ria lalu memberikan lem untuk menempelkan kuku palsu. Agar kuku terlihat berkilau diberikan cairan hingga dimasukkan ke mesin pengering selama 30 detik.
Pengerjaannya sendiri, untuk satu orang kurang lebih 30 menit tentunya sudah selesai hasilnya, ucap Ria sembari menunjukkan hasil fake nails pengerjaannya.
Tarif jasa fake nails bervariasi antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk sepuluh jari. Itu bisa bertahan hingga tiga minggu, tergantung aktivitas sehari-hari. Menurut dia, kliennya dari sejumlah pelajar atau mahasiswa yang hendak wisuda.
Selain itu, sejumlah pegawai kantor dan mamud juga kerap meminta jasanya untuk memasang kuku palsu. Jika sudah bosan dengan kuku palsu tersebut, hanya tinggal melepaskan saja.
Meskipun digunakan mencuci piring tidak masalah, tapi harus berhati-hati agar bisa tahan lebih lama, ujarnya.
Ira, salah satu pengguna fake nails menuturkan, dirinya lebih memilih fake nails daripada kutek. Sebab, diakuinya, kutek membutuhkan waktu lama dan kalau bosan sulit dibersihkan.
Menurut dia, penggunaan fake nails tak mengganggunya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci piring atau mencuci baju. Meski hanya ditempel, diakuinya, fake nails cukup kuat saat digunakan aktivitas sehari-hari.
Menurut saya lem sendiri tentunya tetap kuat bisa bertahan dua minggu lebih, terangnya. (mal/ind)