‘’Tinggal 10 jodoh, sebagian sudah saya jual beberapa hari yang lalu,’’ tutur Madchan kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (31/3).
Ketertarikannya pada burung parkit Australia tumbuh pada Tahun 2008 silam, ketika Madchan menjadi sopir bus wisata. Saat itu, kebetulan dia melihat penjual burung parkit Australia di pinggir jalan, saat mengantarkan para wisatawan ke Jawa Tengah. Saat itu, Madchan membeli satu jodoh berusia 2 bulan, dengan harga sekitar Rp 1,2 juta.
‘’Saya tertarik pada jambul dan bulu burung tersebut mas, sangat bervariasi warnanya,’’ ujar bapak dua anak ini.
Perawatan burung parkit Australia cukup mudah, sama seperti merawat burung pemakan biji-bijian lainnya. Perawatan dan budidaya yang mudah, membuat harga burung parkit Australia juga terpengaruh.
‘’Hanya saja kini harga mengalami penurunan jika dibanding dulu waktu pertama kali membeli,’’ ucap Madchan.
Membedakan jenis kelamin burung parkit Australia ini juga cukup mudah. Ukuran betina lebih besar dibandingkan jantan. Selain itu, pada ekor betina terdapat bintik-bintik.
‘’Tapi kalau dilihat besar kecilnya saja sudah kelihatan, jantan lebih ramping badannya,’’ katanya.
Burung parkit Australia mulai produktif menghasilkan anakan sejak usia 7 bulan. Satu pasang burung parkit Australia mampu menghasilkan hingga 6 butir telur. Sedangkan, masa penetasan membutuhkan waktu hingga 20 hari.
‘’Jika lebih dari itu, maka dipastikan telur rusak,’’ terangnya. (mal/ind)