‘’Keris ini memiliki berbagai nilai lebih. Mulai dari seni, filosofi, sejarah, dan budaya. Saya tertariknya dari sana,’’ tutur Fahmi saat membuka percakapan.
Keris cukup istimewa baginya. Mulai dari motif tidak diukir, tapi dari hasil tempaan. Lekukan keris selalu berjumlah ganjil. Dia memberikan contoh salah satu keris miliknya memiliki tujuh lekukan. ‘’Makanya dibuat ganjil. Entah tiga, tujuh, atau sembilan yang mengartikan ketidaksempurnaan manusia,’’ ucapnya.
Awalnya, dia cukup skeptis dan memiliki stigma negatif terhadap keris. Sebab, keris identik dengan praktik perdukunan. Namun, pandangannya berubah ketika menonton tayangan Youtube di salah satu ustadz, yang menerangkan pandangan lain terkait keris. Fahmi akhirnya mulai mengoleksi keris sejak tahun lalu. Apalagi, Fahmi semakin memahami arti keris, karena sudah diakui UNESCO sejak Tahun 2005.
Dia menjelaskan, keris merupakan benda seni tempa yang dibentuk dari tiga unsur logam. Yakni campuran besi, baja dan pamor. Pamor merupakan salah satu bahan pembuatan keris yang terdiri dari tiga jenis yakni meteorit, siderit, dan aerolit. Bahan tersebut ditempa bersama dengan bahan utamanya besi dan baja.
Pamor beragam dan memiliki arti dan filosofi masing-masing. Namun, kini pamor keris tidak lagi menggunakan bahan meteorit. Sebab, bahan tersebut sulit didapatkan. Sehingga diganti dengan nikel. ‘’Leluhur kita dalam seni metalogi sangat maju pada masanya. Jika dibandingkan dengan pedang dari Eropa dan Damaskus, keris ini unggul uji plintir,’’ terang pria 27 tahun ini.
Kini, Fahmi memiliki dua koleksi keris. Salah satu dhapur (bentuk bilah keris) koleksinya bernama megantara. Mega berarti awan atau angka. Sedangkan, antara memiliki arti tidak terbatas. Sehingga, diakuinya, pemilik keris ini diharapkan memiliki jiwa yang luas atau legowo. Sedangkan, dhapur keris satunya bernama singo barong dengan diukir emas. Keris ini memiliki simbol kekuasaan, keberanian, dan kewibawaan. Keris koleksinya didapatkan dari Pati dan Wonogiri.
‘’Setiap keris ada filosofinya masing-masing,’’ ucapnya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto