Warga Desa Sungelebak RT 13/ RW 04, Kecamatan Karanggeneng itu mulai beternak tikus impor sejak Maret tahun lalu. Fian, sapaan akrabnya pertama kali beternak tikus mencit dengan nama latin musmusculus Swiss webster. Selanjutnya merambah ke tikus jenis rat dengan nama latin rattus norvegicus wistar. Hingga akhirnya Fian juga mencoba tikus putih asal Afrika jenis African soft fur (ASF).
Siapa sangka beternak tikus ini cukup menggiurkan. Yakni sebagai sampingan penghasilan bagi Fian yang sehari-hari menjadi guru honorer ini. Pria berkacamata ini mengajar di tiga lembaga berbeda, dengan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta per bulan.
‘’Untuk saat ini, penjualannya baru di daerah Lamongan sendiri atau teman komunitas. Namun ke depan sudah ada target bahwa bakal lebih jauh lagi dan lebih tekun lagi,’’ tutur Fian kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (10/12).
Dari ketiga jenis tikus, diakuinya, yang paling prospektif yakni yakni tikus jenis ASF. Sebab, menurut dia, jenis ASF memiliki banyak keunggulan dari tikus lainnya. Salah satunya tikus ASF ini tergolong memiliki keturunan lebih banyak dibandingkan tikus lain.
Dia mengakui satu betina tikus ASF mampu menghasilkan sekitar 18 ekor. Sedangkan, mencit dan rat hanya menghasilkan sekitar 5 hingga 7 ekor. Selain itu, tikus ASF ini juga saling melindungi antar koloninya, berbeda dengan tikus jenis mencit dan jenis rat.
‘’Jenis mencit dan rat tidak kuat suhu panas, yang berpotensi menyebabkan kanibalisme,’’ ujar bapak dua anak ini.
Fian mengatakan, harga tikus ini cukup bervariatif. Untuk tikus ASF umur dua minggu Rp 4 ribu per ekor, usia satu bulan seharga Rp 8 ribu per ekor, serta ASF berat 50 gram harganya Rp 15 ribu per ekor. Kalau afkir yakni tidak produktif lagi harganya Rp 25 ribu per ekor.
Kemudian paket tikus breeding (siap produksi) Rp 150 ribu, yakni berisi tiga betina dan satu jantan. Menurut dia, kebanyakan pecinta reptile lebih suka tikus ASF, karena proteinnya paling tinggi.
‘’Untuk penggemukan ular setelah bertelur dan mengembalikan postur tubuh ular semula, bisa menggunakan tikus ASF,’’ ujar pria 28 tahun ini.
Sementara itu, harga tikus mencit umur satu bulan seharga Rp 3 ribu per ekor, usia 1,5 bulan harganya Rp 4 ribu per ekor, mencit afkir Rp 7 ribu per ekor, dan rat umur dua bulan Rp 4 ribu per ekor.
Ide beternak tikus impor dari hobinya merawat reptile. Fian merasa pengeluaran makan untuk ular peliharaannya cukup besar. Sebab, dia harus merogoh kocek cukup dalam membeli pakan tikus impor. Hal itulah yang menginisiasinya beternak beberapa jenis varian tikus impor.
‘’Akhirnya langsung belajar, sambil terjun beternak tikus ini. Dari hasil menjual tikus impor per minggu kadang menghasilkan Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Tapi banyak juga dipakai sendiri (memberi makan ular peliharaan, Red),’’ terangnya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto