‘’Bisa dikatakan, agak susah untuk menyeimbangkan pekerjaan saya sebagai guru honorer SD dan pemilik toko ikan hias. Apalagi, sekarang saya sudah punya empat cabang toko,” tutur Dimas, sapaan akrabnya.
Awalnya, Dimas memutar otak mencari modal untuk menikah. Kebetulan dirinya menggemari ikan hias. Itu menjadi ide bagi Dimas untuk memulai usaha ikan hias. Setelah memiliki ide dan pengetahuan yang cukup, Dimas meminjam uang untuk modal dari sejumlah orang. Dia akhirnya menyewa sebuah outlet kecil di Dusun Gampang, Desa Sekarbagus. Di awal merintis bisnis, Dimas menemui sejumlah kendala.
‘’Waktu saya menyewa outlet dulu, saya sempat mengalami kesulitan dalam membayar sewa outlet. Untungnya, pemilik outlet saat itu, bersedia meringankan beban saya sementara waktu,’’ imbuhnya.
Dua tahun setelah membuka bisnis, Dimas mulai menggeluti tren baru tata akuarium ikan hias atau aquascape. Sebuah aquascape tidak hanya diisi dengan ikan hias, tapi juga tanaman hidup serta elemen-elemen alam lain berupa kayu dan bebatuan.
‘’Saat itu, aquascape belum sepopuler saat ini. Tren aquascape baru mulai booming sekitar Tahun 2017 dan 2018, dimana event perlombaan aquascape mulai diadakan,” ujar Dimas.
Awal mula perjalanan Dimas menggeluti seni aquascape memiliki banyak jalan terjal. Namun lambat laun, karya aquascape Dimas mulai terdengar oleh banyak kalangan. Kini kebanyakan pelanggannya berasal dari kalangan pegawai negeri dan berbagai instansi dinas.
‘’Kalau di desa sendiri masih tergolong jarang. Baru beberapa hari yang lalu saya membuatkan aquascape untuk sebuah rumah sakit,” katanya. (edo/ind)