6 Makanan di Sekitar Kita yang Tak Disangka Mengandung Racun Berbahaya

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 23:49 WIB
Singkong mengandung senyawa glikosida sianogenik, yang dapat melepaskan sianida saat umbi rusak atau dikunyah. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Singkong mengandung senyawa glikosida sianogenik, yang dapat melepaskan sianida saat umbi rusak atau dikunyah. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidak semua racun berasal dari bahan kimia buatan. Sejumlah makanan yang sering dijumpai di dapur ternyata secara alami mengandung senyawa beracun. Meski terdengar mengkhawatirkan, sebagian besar makanan tersebut tetap aman dikonsumsi selama dipilih, disimpan, dan diolah dengan cara yang tepat.

Para ahli keamanan pangan menjelaskan bahwa racun alami merupakan mekanisme pertahanan tumbuhan atau hewan terhadap hama dan predator. Berikut beberapa fakta menarik mengenai makanan yang mengandung racun alami.

1. Singkong Mengandung Senyawa Penghasil Sianida

Singkong mengandung senyawa glikosida sianogenik, yang dapat melepaskan sianida saat umbi rusak atau dikunyah. Konsumsi singkong mentah atau yang tidak diolah dengan baik berisiko menyebabkan keracunan, mulai dari mual, pusing, hingga gangguan pernapasan pada kasus yang berat.

Untuk mengurangi risikonya, singkong sebaiknya dikupas, direndam bila diperlukan, lalu dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.

2. Kentang Hijau Menyimpan Solanin

Kentang yang berubah menjadi hijau akibat paparan cahaya tidak hanya mengalami perubahan warna. Kondisi tersebut sering kali disertai peningkatan kadar solanin, senyawa alami yang dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, hingga gangguan saraf jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Bagian kentang yang berwarna hijau atau sudah bertunas sebaiknya dibuang. Jika sebagian besar umbi telah berubah hijau atau banyak bertunas, kentang lebih baik tidak dikonsumsi.

3. Ikan Buntal

Ikan buntal dikenal mengandung racun tetrodotoksin, salah satu racun alami paling kuat. Racun ini dapat menyebabkan mati rasa, kelumpuhan, gangguan pernapasan, bahkan kematian jika tertelan dalam jumlah tertentu.

Di beberapa negara, ikan buntal hanya boleh diolah oleh juru masak yang memiliki pelatihan khusus karena proses pembersihannya harus dilakukan secara sangat hati-hati.

4. Kacang Merah Mentah Berpotensi Berbahaya

Kacang merah mentah atau yang dimasak kurang matang mengandung phytohaemagglutinin, yaitu protein alami yang dapat menyebabkan mual, muntah, diare, dan sakit perut.

Risiko tersebut dapat dikurangi dengan merendam kacang terlebih dahulu dan merebusnya hingga benar-benar matang sebelum diolah menjadi berbagai hidangan.

Baca Juga: Ragam Makanan Berbahan Dasar Singkong, Kuliner Tradisional yang Tetap Digemari

5. Pala Bisa Menimbulkan Efek Keracunan

Pala merupakan rempah yang umum digunakan sebagai penyedap makanan. Namun, konsumsi dalam jumlah sangat besar dapat menyebabkan efek toksik akibat kandungan miristisin.

Gejalanya dapat berupa pusing, halusinasi, jantung berdebar, hingga gangguan kesadaran. Dalam penggunaan sebagai bumbu masakan sehari-hari, jumlah pala biasanya jauh di bawah tingkat yang dapat menimbulkan keracunan.

6. Jamur Liar Tidak Selalu Aman

Beberapa jenis jamur liar memiliki bentuk yang sangat mirip dengan jamur yang dapat dimakan. Padahal, sebagian spesies mengandung racun yang dapat merusak hati, ginjal, bahkan mengancam jiwa.

Karena sulit dibedakan hanya dari penampilannya, masyarakat disarankan tidak mengonsumsi jamur liar kecuali benar-benar diketahui berasal dari spesies yang aman.

Berikut diatas 6 makanan atau bahan makanan yang mengandung racun berbahaya. Keberadaan racun alami dalam makanan bukan berarti makanan tersebut harus dihindari sepenuhnya. Sebagian besar tetap aman dikonsumsi apabila dipilih dengan benar, disimpan secara tepat, dan dimasak sesuai anjuran. Memahami karakteristik setiap bahan pangan menjadi langkah penting untuk mencegah keracunan sekaligus memperoleh manfaat gizinya secara optimal.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang menyebut suatu makanan "beracun" tanpa melihat konteksnya. Dalam banyak kasus, tingkat risiko sangat bergantung pada jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, serta cara pengolahannya. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
singkong Konsumsi kentang Makanan racun