Alasan Mengapa Sound Horeg Bisa Picu Ketulian Permanen

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 18:48 WIB
Ilustrasi kuping berdengung. (MAGNIFIC)
Ilustrasi kuping berdengung. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Suara menggelegar dari sound horeg bukan sekadar persoalan kenyamanan. Jika intensitasnya sangat tinggi dan seseorang berada di dekat sumber suara dalam waktu lama, paparan tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan pendengaran, bahkan berujung pada gangguan yang bersifat permanen.

Lantas, seberapa keras suara sound horeg dan mengapa bisa membahayakan telinga?

Dikutip dari detikHealth, Kamis (31/7/2025), tingkat suara yang dihasilkan sound horeg disebut dapat mencapai 120–135 desibel (dB). Angka tersebut jauh di atas tingkat suara yang direkomendasikan untuk paparan dalam waktu lama.

Baca Juga: Memicu Polemik Masyarakat, Regulasi Sound Horeg Butuh Intervensi

Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh sound horeg selalu menghasilkan suara pada level yang sama. Peneliti BRIN, Hana Arisesa M.Eng, mengatakan kepada detikINET, tingkat keluaran suara harus diukur secara langsung karena besarnya desibel bergantung pada perangkat dan kondisi pengukuran.

Mengapa suara sangat keras bisa merusak telinga?

Di dalam telinga terdapat koklea atau rumah siput. Di dalam struktur tersebut terdapat sel-sel sensorik yang berperan mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik untuk diteruskan ke otak.

Ketika telinga terus-menerus menerima suara dengan intensitas tinggi, sel sensorik tersebut dapat mengalami kelelahan dan kerusakan.

Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga, dr Rosa Falerina, SpTHT BKL Subsp NO K, menjelaskan kepada detikJatim bahwa suara sound horeg yang dapat mencapai lebih dari 120 dB berisiko bagi telinga. Menurutnya, suara yang sangat keras dapat membuat sel rambut di dalam koklea bekerja terlalu berat hingga akhirnya mengalami kerusakan.

Baca Juga: Sebabkan Keracunan Ratusan Siswa, SPPG Sukorejo 2 Ditutup Permanen

Masalahnya, sel sensorik pendengaran yang sudah mengalami kerusakan berat tidak selalu dapat pulih. Inilah yang membuat gangguan pendengaran akibat kebisingan bisa bersifat permanen.

WHO menjelaskan, paparan suara keras dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan kelelahan sel sensorik yang memicu gangguan pendengaran sementara atau tinnitus. Namun, paparan yang keras, berkepanjangan, atau terjadi berulang dapat menyebabkan kerusakan permanen dan menghasilkan noise-induced hearing loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan.

Semakin keras suara, semakin singkat batas paparannya

Risiko kerusakan pendengaran tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras suara, tetapi juga berapa lama seseorang terpapar.

Dokter spesialis THT RSCM Jakarta, Tri Juda Airlangga, mengatakan kepada Kompas.com bahwa suara 85 dB dapat ditoleransi sekitar delapan jam. Pada 88 dB, waktunya turun menjadi sekitar empat jam, sedangkan 91 dB sekitar satu jam.

Untuk suara 135 dB, Tri menyebut batas toleransinya hanya sekitar satu hingga dua menit. Ia juga menjelaskan bahwa jika paparan melebihi batas tersebut, penurunan fungsi pendengaran dapat bersifat irreversible atau tidak dapat kembali seperti semula.

Gambaran serupa diberikan WHO. Dalam panduan Safe Listening, WHO menyebut paparan 120 dB memiliki waktu dengar aman sekitar 12 detik per minggu, sementara 130 dB kurang dari satu detik. WHO juga menegaskan bahwa semakin tinggi intensitas suara dan semakin lama paparannya, semakin besar risiko gangguan pendengaran.

Baca Juga: Dander dan Kedungadem Dominasi Pengajuan Diska

Telinga berdenging setelah mendengar sound horeg?

Tinnitus atau telinga berdenging bisa menjadi salah satu tanda telinga mengalami dampak setelah terpapar suara keras. Pendengaran juga dapat terasa seperti tertutup atau suara terdengar lebih kecil dari biasanya.

WHO menyebut gangguan seperti tinnitus atau kesulitan mendengar suara bernada tinggi perlu diperhatikan, terutama jika keluhan menetap setelah paparan kebisingan.

Karena itu, berada terlalu dekat dengan speaker sound horeg dalam waktu lama bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap sepele.

Cara paling sederhana untuk mengurangi risiko adalah menjauh dari sumber suara, membatasi durasi paparan, menggunakan pelindung telinga, dan memberi waktu istirahat bagi telinga. WHO juga merekomendasikan untuk menjauh dari pengeras suara dan menggunakan pelindung seperti earplug ketika berada di lingkungan bising.

Yang perlu diingat, kerusakan pendengaran tidak selalu langsung terasa. Seseorang mungkin hanya mengalami telinga berdenging atau pendengaran terasa sedikit berkurang setelah acara. Namun, jika paparan suara keras terus berulang, kerusakan pada sistem pendengaran dapat berkembang dan menjadi permanen. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
ketulian sound horeg alasan