10 Cara Mengatasi Kesehatan Mental Menurut Pandangan Islam, Lengkap dengan Dalil Alquran dan Hadis

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 20:23 WIB
Kesehatan mental menurut pandangan Islam. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Kesehatan mental menurut pandangan Islam. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kesehatan mental menjadi salah satu hal yang semakin penting untuk diperhatikan. Dalam pandangan Islam, menjaga kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kondisi pikiran dan perasaan, tetapi juga erat hubungannya dengan ketenangan hati, hubungan dengan Allah SWT, serta hubungan dengan sesama manusia.

Masalah seperti stres, kecemasan, kesedihan, rasa takut, dan tekanan hidup dapat dialami siapa saja. Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan sabar, berdoa, bertawakal, sekaligus melakukan ikhtiar yang diperlukan.

Dengan demikian, menjaga kesehatan mental dalam Islam bukan berarti mengabaikan usaha medis atau psikologis. Sebaliknya, seseorang dianjurkan untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah yang sulit ditangani seorang diri.

1. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh ketenangan hati adalah memperbanyak mengingat Allah SWT atau berdzikir.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir dapat menjadi salah satu ikhtiar spiritual untuk memperoleh ketenangan batin. Salat, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan berdzikir dapat membantu seseorang meluangkan waktu untuk menenangkan diri serta mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Baca Juga: 5 Cara Efektif Mengurangi Stres karena Pekerjaan, Tetap Produktif Tanpa Mengorbankan Kesehatan

Namun, ketenangan spiritual tidak berarti seseorang harus memendam masalah psikologis. Jika tekanan yang dialami sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional tetap merupakan bagian dari ikhtiar.

2. Memahami Bahwa Setiap Ujian Memiliki Batas

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Seseorang dapat menghadapi masalah keluarga, pekerjaan, ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, maupun berbagai persoalan lainnya.

Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi ujian.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Ayat ini sering menjadi pengingat bagi umat Islam ketika menghadapi kesulitan. Namun, maknanya bukan berarti seseorang harus menanggung seluruh beban sendirian.

Meminta bantuan kepada keluarga, sahabat, ulama, psikolog, maupun tenaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar untuk menghadapi persoalan tersebut.

3. Bersabar dan Tidak Berputus Asa

Ketika menghadapi masalah berat, seseorang terkadang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar. Dalam kondisi tersebut, Islam mengajarkan pentingnya kesabaran dan harapan kepada Allah SWT.

Dalam QS. Az-Zumar ayat 53, Allah SWT berfirman:

"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah."

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa seorang Muslim tidak seharusnya kehilangan harapan, meskipun sedang berada dalam kondisi sulit.

Kesabaran dalam Islam juga bukan berarti pasif. Sabar dapat diwujudkan dengan tetap berusaha mencari jalan keluar, memperbaiki keadaan, serta meminta pertolongan ketika membutuhkan.

4. Menjaga Salat dan Memperbanyak Doa

Salat merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam yang juga dapat menjadi ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153:

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Bagi seorang Muslim, salat dan doa dapat menjadi sarana untuk mencurahkan kegelisahan kepada Allah. Berdoa juga dapat membantu seseorang membangun harapan dan keyakinan bahwa dirinya tidak menghadapi kehidupan seorang diri.

5. Tidak Memendam Masalah Sendirian

Islam juga mengajarkan pentingnya hubungan sosial. Ketika seseorang menghadapi kesulitan, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi salah satu langkah untuk mendapatkan dukungan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain."

Hadis tersebut diriwayatkan oleh HR. Bukhari dan Muslim.

Pesannya dapat menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan satu sama lain. Karena itu, seseorang yang sedang menghadapi tekanan psikologis tidak perlu merasa malu untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

6. Islam Menganjurkan Ikhtiar dan Pengobatan

Salah satu hal penting dalam memahami kesehatan mental dari perspektif Islam adalah bahwa doa dan ibadah tidak harus dipertentangkan dengan pengobatan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya."

Hadis tersebut diriwayatkan oleh HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

Hadis ini menjadi salah satu dasar bahwa mencari pengobatan merupakan bagian dari ikhtiar. Dalam konteks kesehatan mental, seseorang dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila mengalami masalah yang membutuhkan bantuan profesional.

7. Menjaga Tubuh dan Pola Hidup

Kesehatan mental juga berkaitan dengan kondisi fisik. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga amanah tubuh yang diberikan Allah SWT.

Menjaga waktu istirahat, mengonsumsi makanan yang baik, melakukan aktivitas fisik, serta menghindari kebiasaan yang merugikan tubuh dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keseimbangan hidup.

Pola hidup yang lebih teratur juga dapat membantu seseorang memiliki rutinitas yang lebih sehat ketika menghadapi tekanan kehidupan.

8. Menghindari Berlebihan dalam Menghadapi Masalah

Ketika menghadapi persoalan, seseorang terkadang terus-menerus memikirkan hal yang sama hingga membuat dirinya semakin cemas.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Seorang Muslim dianjurkan untuk berusaha, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT atau bertawakal.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 159:

"...Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."

Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal dilakukan setelah seseorang menjalankan ikhtiar dengan sebaik mungkin.

9. Jangan Menganggap Masalah Kesehatan Mental sebagai Tanda Kurang Iman

Masalah kesehatan mental tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang kurang beriman.

Seorang Muslim tetap dapat mengalami kesedihan, kecemasan, ketakutan, atau tekanan psikologis. Bahkan para nabi dan manusia saleh dalam sejarah Islam juga mengalami berbagai bentuk kesedihan dan ujian kehidupan.

Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental di Bulan Suci Ramadan

Karena itu, seseorang yang sedang mengalami masalah mental membutuhkan dukungan, bukan stigma atau penghakiman.

Memberikan nasihat agama dapat menjadi bagian dari dukungan spiritual, tetapi tidak seharusnya digunakan untuk menggantikan penanganan profesional ketika kondisi memang membutuhkan bantuan psikologis atau medis.

10. Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Ada kalanya masalah mental tidak cukup ditangani sendiri. Jika seseorang mengalami kesedihan, kecemasan, gangguan tidur, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, atau perubahan perilaku yang berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang bijaksana.

Dalam perspektif Islam, berobat dan mencari pertolongan bukan tanda kelemahan iman. Justru, usaha tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga amanah kesehatan yang diberikan Allah SWT.

Jika seseorang memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, jangan menghadapi kondisi tersebut sendirian. Segera hubungi orang yang dipercaya dan cari bantuan dari tenaga kesehatan atau layanan darurat setempat.

Kesimpulan

Mengatasi kesehatan mental menurut pandangan Islam dapat dilakukan melalui perpaduan antara ikhtiar spiritual, dukungan sosial, pola hidup sehat, dan bantuan profesional ketika diperlukan.

Dzikir, salat, doa, membaca Al-Qur'an, sabar, dan tawakal dapat menjadi sumber kekuatan spiritual. Di sisi lain, berbicara dengan orang terpercaya, menjaga kesehatan tubuh, serta berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater juga merupakan bentuk ikhtiar.

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan terus berusaha menghadapi berbagai ujian kehidupan. Dengan pendekatan yang seimbang, kesehatan mental dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kehidupan dan menjalankan amanah yang diberikan Allah SWT. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Kesabaran perasaan psikologis Kesehatan Mental pandangan islam