RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Makanan bersantan menjadi salah satu hidangan yang sulit dipisahkan dari kuliner Indonesia. Rendang, opor ayam, gulai hingga sayur lodeh merupakan beberapa contoh makanan yang menggunakan santan sebagai salah satu bahan utama.
Namun, muncul anggapan bahwa mengonsumsi makanan bersantan dapat menyebabkan kadar kolesterol dalam tubuh meningkat. Lantas, apakah anggapan tersebut merupakan mitos atau fakta?
Jawabannya: tidak sepenuhnya mitos, tetapi juga tidak sesederhana itu.
Santan mengandung lemak, termasuk lemak jenuh. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dan menjadi bagian dari pola makan yang tinggi lemak jenuh, hal tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar kolesterol LDL atau yang sering disebut sebagai kolesterol "jahat".
Baca Juga: 5 Trik Cerdas Santap Daging Kurban Tanpa Takut Kolesterol Melonjak
Meski demikian, bukan berarti setiap makanan bersantan secara otomatis menyebabkan kolesterol seseorang naik. Dampaknya juga dipengaruhi oleh jumlah santan yang dikonsumsi, bahan makanan lain dalam hidangan, pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.
1. Santan Mengandung Lemak Jenuh
Santan diperoleh dari daging kelapa yang diperas dan mengandung lemak. Sebagian dari lemak tersebut merupakan lemak jenuh.
Asupan lemak jenuh yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kadar LDL dalam darah. Karena itu, konsumsi makanan bersantan sebaiknya tetap diperhatikan, terutama bagi orang yang sedang berusaha menjaga kadar kolesterol.
2. Bukan Berarti Harus Menghindari Santan Sepenuhnya
Menghindari santan secara total bukan satu-satunya cara menjaga kolesterol. Yang lebih penting adalah memperhatikan porsi dan frekuensi konsumsi.
Makanan bersantan masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang jika dikonsumsi sewajarnya dan tidak selalu disertai makanan tinggi lemak lainnya.
3. Cara Lebih Sehat Menikmati Makanan Bersantan
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi asupan lemak dari makanan bersantan. Misalnya menggunakan santan secukupnya, memilih sumber protein yang lebih rendah lemak, memperbanyak sayuran, serta menghindari tambahan minyak secara berlebihan ketika memasak.
Selain itu, pola makan sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu jenis makanan. Buah, sayuran, biji-bijian, dan sumber protein yang lebih rendah lemak juga penting untuk dikonsumsi secara seimbang.
Jadi, Mitos atau Fakta?
Faktanya, konsumsi makanan bersantan secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kolesterol, terutama karena kandungan lemak jenuhnya. Namun, tidak tepat jika menyimpulkan bahwa setiap kali seseorang mengonsumsi santan, kadar kolesterolnya pasti langsung meningkat.
Kuncinya adalah porsi, frekuensi, dan pola makan secara keseluruhan. Bagi orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi atau faktor risiko penyakit jantung, pengaturan asupan lemak sebaiknya dilakukan dengan lebih cermat dan dapat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Dengan demikian, menikmati opor, gulai atau makanan bersantan lainnya sesekali tetap bisa dilakukan, selama tidak berlebihan dan diimbangi dengan pola makan serta gaya hidup yang sehat. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko