Mengenal Penyebab Penyakit Autoimun, Kondisi Saat Sistem Kekebalan Tubuh Menyerang Diri Sendiri

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 21:54 WIB
ILUSTRASI AUTO IMUN (PINTEREST/FARHAN REZA/RADAR BOJONEGORO)
ILUSTRASI AUTO IMUN (PINTEREST/FARHAN REZA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penyakit autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan zat asing lainnya justru keliru menyerang sel-sel sehat. Akibatnya, berbagai organ dan jaringan tubuh dapat mengalami peradangan hingga kerusakan yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Hingga saat ini, para ahli belum menemukan satu penyebab pasti yang memicu penyakit autoimun. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini umumnya muncul akibat kombinasi faktor genetik, lingkungan, hormon, serta gaya hidup yang saling memengaruhi.

Berikut beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit autoimun.

Baca Juga: Warga Keluhkan Kulit Wajah Jadi Kering Hingga Iritasi

1. Faktor Genetik atau Keturunan

Riwayat keluarga menjadi salah satu faktor risiko terbesar. Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan penyakit autoimun memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga.

Meski demikian, faktor genetik bukan berarti seseorang pasti akan mengalami autoimun. Gen hanya meningkatkan kerentanan, sementara munculnya penyakit biasanya dipengaruhi oleh faktor pemicu lainnya.

2. Infeksi Virus atau Bakteri

Beberapa jenis infeksi diduga dapat memicu sistem imun bekerja secara tidak normal. Setelah infeksi mereda, sistem kekebalan tubuh pada sebagian orang justru gagal membedakan antara sel sehat dan zat asing sehingga menyerang jaringan tubuh sendiri.

Salah satu virus yang sering dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit autoimun adalah Epstein-Barr virus (EBV). Namun, infeksi bukan satu-satunya penyebab karena tidak semua orang yang terinfeksi akan mengalami autoimun. 

Baca Juga: Musim Kemarau Bikin Anak Lebih Rentan Sakit? Dokter Ungkap 6 Penyakit yang Sering Muncul dan Cara Mencegahnya

3. Pengaruh Hormon

Penyakit autoimun diketahui lebih banyak menyerang wanita dibandingkan pria. Para peneliti menduga hormon, khususnya estrogen, memiliki peran dalam mengatur respons sistem kekebalan tubuh.

Perubahan hormon pada masa pubertas, kehamilan, setelah melahirkan, maupun menjelang menopause juga diduga dapat memengaruhi munculnya atau memperberat gejala penyakit autoimun pada sebagian orang. 

4. Paparan Lingkungan dan Bahan Kimia

Paparan asap rokok, polusi udara, sinar ultraviolet (UV), pestisida, hingga bahan kimia tertentu dipercaya dapat memicu gangguan pada sistem imun. Faktor lingkungan ini berpotensi mempercepat munculnya penyakit autoimun, terutama pada individu yang memiliki kerentanan genetik.

Merokok bahkan menjadi salah satu faktor risiko yang paling sering dikaitkan dengan beberapa jenis penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis. 

5. Stres Berkepanjangan

Stres kronis memang tidak secara langsung menyebabkan autoimun. Namun, tekanan emosional yang berlangsung lama dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko munculnya peradangan.

Tidak sedikit penderita yang mengaku mulai mengalami gejala setelah menghadapi tekanan psikologis berat, seperti kehilangan orang terdekat, beban pekerjaan, atau kurang tidur dalam waktu lama. 

Baca Juga: Penyebab Bibir Sumbing pada Bayi: Kenali Faktor Risiko dan Dampaknya Sejak Dini

6. Pola Makan dan Kesehatan Usus

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti menemukan bahwa kesehatan usus memiliki hubungan erat dengan sistem kekebalan tubuh. Ketidakseimbangan bakteri baik di usus diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan kronis yang berkaitan dengan penyakit autoimun.

Meski demikian, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa satu jenis makanan tertentu menjadi penyebab langsung penyakit autoimun. Sebaliknya, pola makan bergizi seimbang tetap dianjurkan untuk membantu menjaga fungsi sistem imun tetap optimal. 

7. Kekurangan Vitamin D

Vitamin D berperan penting dalam membantu mengatur respons sistem kekebalan tubuh. Sejumlah penelitian menemukan bahwa kadar vitamin D yang rendah lebih sering dijumpai pada penderita penyakit autoimun.

Walaupun belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama, menjaga kadar vitamin D tetap optimal dinilai penting untuk mendukung kesehatan sistem imun secara keseluruhan. 

Baca Juga: Tips Melakukan Intermittent Fasting untuk Pekerja: Tetap Produktif Tanpa Mengorbankan Kesehatan

Pentingnya Deteksi Dini

Gejala penyakit autoimun sering kali tidak spesifik sehingga kerap disalahartikan sebagai penyakit lain. Keluhan yang umum dirasakan meliputi mudah lelah, nyeri sendi, ruam pada kulit, demam berulang, rambut rontok, hingga perubahan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

Karena penyebabnya bersifat kompleks dan melibatkan banyak faktor, pencegahan autoimun tidak selalu dapat dilakukan sepenuhnya. Namun, menerapkan pola hidup sehat, berhenti merokok, mengelola stres, berolahraga secara rutin, serta menjaga berat badan ideal dapat membantu menurunkan risiko sekaligus menjaga sistem kekebalan tubuh tetap bekerja secara optimal. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
autoimun makan bergizi penyakit Gaya Hidup virus