RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan mengalami gangguan pernapasan akibat paparan polusi udara maupun infeksi saluran napas. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang, tetapi juga karena sistem pernapasan mereka belum matang secara sempurna.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi, dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K), menjelaskan bahwa secara fisiologis anak memiliki karakteristik yang membuat mereka lebih mudah terpapar polutan dibandingkan orang dewasa.
"Kondisi ini terjadi karena anak bernapas lebih cepat, sementara paru-paru dan saluran napas mereka masih lebih kecil dan belum berkembang sempurna. Ditambah lagi, tinggi badan anak yang lebih rendah membuat mereka lebih dekat dengan sumber polusi di permukaan jalan. Akibatnya, anak dapat menghirup udara berpolusi hingga 2–3 kali lebih banyak daripada orang dewasa," ujar dr. Cynthia dalam media briefing IDAI, Selasa (7/7), seperti dikutip dari KumparanMOM.
Mengapa Anak Lebih Mudah Mengalami Gangguan Pernapasan?
Beberapa faktor berikut membuat anak lebih rentan mengalami masalah pada sistem pernapasan.
1. Frekuensi Napas Lebih Cepat
Dibandingkan orang dewasa, anak-anak memiliki laju pernapasan yang lebih tinggi. Semakin sering bernapas, semakin banyak udara yang masuk ke paru-paru, termasuk partikel polusi dan zat berbahaya yang terkandung di dalamnya.
2. Paru-paru Masih Berkembang
Organ paru-paru dan saluran napas anak masih berada dalam tahap pertumbuhan. Saluran napas yang lebih sempit membuatnya lebih mudah mengalami iritasi, peradangan, maupun penyumbatan saat terpapar debu, asap kendaraan, atau virus.
3. Posisi Tubuh Lebih Dekat dengan Sumber Polusi
Tinggi badan anak yang lebih rendah menyebabkan mereka berada lebih dekat dengan sumber polusi di permukaan jalan, seperti asap knalpot kendaraan bermotor, debu, maupun partikel halus lainnya. Hal ini meningkatkan jumlah polutan yang terhirup setiap hari.
4. Sistem Kekebalan Tubuh Belum Sempurna
Sistem imun anak masih terus berkembang sehingga mereka lebih mudah terserang infeksi virus maupun bakteri penyebab penyakit saluran pernapasan.
Baca Juga: Dokter Kulit: Polusi Udara Lebih Bahaya daripada Makanan bagi Kulit
Gangguan Pernapasan yang Sering Dialami Anak
Paparan polusi dan infeksi dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit pernapasan pada anak, di antaranya:
-
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
-
Asma atau kambuhnya gejala asma.
-
Bronkiolitis.
-
Pneumonia.
-
Batuk berkepanjangan akibat iritasi saluran napas.
-
Alergi yang memengaruhi sistem pernapasan.
Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan tersebut dapat menghambat aktivitas, kualitas tidur, hingga tumbuh kembang anak.
Cara Melindungi Anak dari Masalah Pernapasan
Orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan pada anak, antara lain:
-
Menghindari aktivitas luar ruangan saat kualitas udara sedang buruk.
-
Mengurangi paparan asap rokok di lingkungan rumah.
-
Menjaga kebersihan rumah dari debu dan tungau.
-
Memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.
-
Memberikan makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.
-
Mengajak anak menggunakan masker saat berada di lingkungan dengan polusi tinggi, sesuai usia dan kemampuan anak menggunakannya dengan benar.
Baca Juga: Polusi Udara Butuh Penanganan Jangka Panjang, Industri Migas Punya Peran Besar
Kesimpulan
Anak lebih rentan mengalami masalah pernapasan karena bernapas lebih cepat, memiliki paru-paru dan saluran napas yang masih berkembang, serta lebih sering terpapar polusi akibat posisi tubuh yang lebih dekat dengan permukaan jalan. Kondisi tersebut membuat anak dapat menghirup polutan lebih banyak dibandingkan orang dewasa.
Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengurangi paparan polusi, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan anak memperoleh asupan gizi dan perlindungan kesehatan yang optimal menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan sistem pernapasan mereka. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko