Oleh:
dr. Ahadi
Dokter Kardiologi Intervensi RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo / anggota IDI Cabang Bojonegoro
HIPERTENSI merupakan penyakit tidak menular dengan angka kejadian yang tinggi di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencapai 30,8 persen pada usia 18 tahun ke atas.
Hipertensi termasuk dalam penyakit kronis di mana tekanan pada pembuluh darah arteri meningkat secara persisten dan memerlukan tata-laksana seumur hidup. Secara umum, penderita hipertensi tidak dapat sembuh tetapi dapat mengontrol tekanan darah dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan guna mencegah komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan kerusakan ginjal.
Puasa Ramadan adalah ibadah wajib bagi umat Islam. Puasa Ramadan dapat dikategorikan sebagai bentuk puasa intermiten yang secara umum dapat menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Puasa Ramadan umumnya aman bagi penderita hipertensi yang terkontrol.
Penyesuaian pengobatan yang ketat, hidrasi, dan pemantauan diet penting untuk menjaga keamanan saat berpuasa. Konsultasi dengan dokter penting untuk beberapa penyesuaian terkait obat-obatan yang dikonsumsi. Saat puasa terkadang diperlukan perubahan jenis dan dosis obat. Selain itu, terkadang juga diperlukan penyesuaian waktu minum obat (pergeseran jam minum obat siang hari menjadi pagi saat sahur atau malam setelah berbuka).
Hidrasi atau konsumsi cairan yang cukup (sekitar 8 gelas) selama jam-jam di luar puasa penting untuk mencegah dehidrasi. Konsumsi teh atau kopi yang memiliki efek diuresis (meningkatkan produksi urine) bisa dilakukan saat berbuka guna menghindari dehidrasi saat berpuasa. Pemilihan makanan saat sahur dan berbuka juga tidak kalah penting. Disarankan menghindari makanan tinggi natrium, olahan, dan gorengan yang dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah. Buah-buahan atau sayuran, menu rebus atau bakar bisa dipertimbangkan sebagai pilihan makanan.
Pemeriksaan tekanan darah berkala baik secara mandiri di rumah atau di fasilitas kesehatan dapat dilakukan untuk memastikan tekanan darah tetap dalam kisaran yang aman. Jika didapatkan gejala seperti pusing hebat, sakit kepala, pingsan, atau tanda-tanda dehidrasi parah saat berpuasa disarankan untuk segera berbuka atau membatalkan puasa.
Bagi penderita hipertensi yang sulit terkontrol atau dengan penyakit penyerta lain semisal penyakit jantung, ginjal, diabetes dan stroke perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu apakah memungkinkan untuk berpuasa atau tidak. Pada populasi ini terkadang perlu penyesuaian obat, kecukupan status hidrasi yang lebih bersifat individual.
Demikian sedikit informasi mengenai puasa bagi penderita hipertensi. Semoga bulan Ramadan tahun ini dapat menjadi keberkahan bagi kita semua. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana