Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa GERD Sering Disangka Penyakit Jantung? Menguak Fakta Medis di Balik Debat Netizen

Hakam Alghivari • Senin, 26 Januari 2026 | 19:44 WIB
Ilustrasi sakit di bagian dada.
Ilustrasi sakit di bagian dada.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh perdebatan panas antara netizen dan praktisi medis di platform Thread.

Banyak orang mengira gejala GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang mereka alami secara perlahan "merusak" jantung mereka. Tak jarang, asumsi pribadi digunakan untuk mendebat penjelasan medis profesional.

Namun, di balik riuhnya komentar, sains memiliki jawaban yang tegas dan berbasis data. Melalui penelusuran berbagai jurnal ilmiah internasional, berikut adalah bedah tuntas mengapa anggapan netizen tersebut keliru secara patofisiologi.

Baca Juga: Mengenal Toksin Cereulide, Senyawa Berbahaya di Susu Formula Bayi S-26 Promil Gold pHPro 1

1. Ilusi Saraf: Ketika Otak Salah Menerjemahkan Nyeri

Seringkali netizen bersikeras karena mereka merasakan jantung yang berdebar atau nyeri dada yang hebat saat asam lambung naik. Namun, Harvard Health Publishing dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa ini adalah masalah "birokrasi" saraf di dalam tubuh.

Kerongkongan dan jantung disuplai oleh jalur saraf yang sama. Ketika asam lambung mengiritasi lapisan kerongkongan, sinyal nyeri dikirim ke otak.

Masalahnya, saraf-saraf ini tidak memiliki sistem GPS yang presisi. Otak sering kali mengalami kebingungan spasial dan menginterpretasikan nyeri tersebut berasal dari jantung. Dalam dunia medis, hal ini sering disebut sebagai Non-Cardiac Chest Pain (NCCP).

2. Mekanisme Kerusakan: Jalur Plak vs Jalur Asam

Perbedaan paling mendasar yang sering diabaikan dalam perdebatan di media sosial adalah mekanisme kerusakan organ. Dikutip dari riset Oxford University yang dipublikasikan dalam Cardiovascular Research, penyakit jantung koroner adalah masalah vaskular (pembuluh darah). Penyakit ini disebabkan oleh aterosklerosis, penumpukan lemak dan kalsium yang menyumbat aliran darah.

Baca Juga: Bukan Cuma Gula, Mengapa Garam dan Lemak Sama Berbahayanya bagi Diabetes

Sebaliknya, menurut The American Journal of Gastroenterology, GERD adalah masalah mekanis dan kimiawi pada saluran pencernaan. Ia melibatkan melemahnya otot Lower Esophageal Sphincter (LES) yang membiarkan asam lambung naik.

Secara biologis, asam lambung tidak memiliki jalur akses untuk masuk ke dalam pembuluh darah koroner dan menyebabkan penyumbatan. Dengan kata lain, tidak ada jembatan patologis yang memungkinkan GERD "berubah" menjadi penyakit jantung koroner.

3. Tekanan Gas dan Refleks Saraf Vagus (Roemheld Syndrome)

Salah satu argumen kuat netizen adalah: "Tapi kenapa saat lambung kumat, jantung saya berdebar (palpitasi)?" Sains mengakui gejala ini, namun penjelasannya bukan karena jantungnya rusak.

Dilansir dari Journal of Atrial Fibrillation, terdapat fenomena yang disebut Gastrocardiac Syndrome atau Roemheld Syndrome. Penumpukan gas di lambung dan usus dapat menekan diafragma dan merangsang Saraf Vagus.

Baca Juga: Tips Menjaga Kebugaran Pria Dewasa agar Tetap Sehat, Kuat, dan Produktif

Saraf vagus adalah "kabel utama" yang mengatur detak jantung. Saat saraf ini terangsang oleh tekanan lambung, jantung bisa berdetak lebih cepat atau tidak teratur. Namun, jurnal tersebut menekankan bahwa ini adalah gejala fungsional, bukan kerusakan struktural. Begitu gas lambung berkurang, irama jantung akan kembali normal tanpa meninggalkan kerusakan pada otot jantung.

4. Bahaya Kolektif: Menyepelekan Diagnosis Dokter

Perdebatan ini menjadi berbahaya ketika netizen mulai meremehkan hasil pemeriksaan klinis dokter seperti EKG, Echocardiography, atau Treadmill Test. Menurut American College of Cardiology (ACC), tes-tes tersebut memiliki tingkat akurasi yang tinggi untuk melihat kondisi fisik jantung.

Jika seorang spesialis jantung menyatakan jantung Anda sehat, maka keyakinan bahwa "lambung merusak jantung" hanyalah sebuah persepsi subjektif yang tidak didukung data. Justru, perilaku menyepelekan diagnosis dokter dan lebih percaya pada teori "angin duduk" atau maag seringkali berujung fatal.

The Lancet melaporkan bahwa ribuan kasus kematian akibat serangan jantung terjadi karena pasien merasa mereka "hanya kena maag" dan terlambat mendapatkan penanganan medis darurat.

Kesimpulan: Hubungan Bukan Berarti Kausalitas

Memang benar bahwa penderita GERD seringkali memiliki penyakit jantung, namun itu bukan karena salah satunya menyebabkan yang lain. Keduanya sering muncul bersamaan karena faktor risiko yang sama: stres kronis, pola makan buruk, dan gaya hidup sedentari.

Mengabaikan teori kesehatan dan bersandar pada logika pribadi dalam urusan medis adalah tindakan yang berisiko. Sains telah menyediakan jalur diagnosa yang jelas melalui ribuan penelitian di jurnal-jurnal ternama untuk memisahkan mana yang merupakan masalah pencernaan dan mana yang merupakan ancaman bagi jantung kita. (km/bgs)

 

Sumber Referensi:

  • Harvard Medical School (Harvard Health Publishing): "Heartburn or Heart Attack? Knowing the Difference."

  • Oxford University Press (Cardiovascular Research): "The Pathophysiology of Atherosclerosis."

  • The American Journal of Gastroenterology: "Guidelines for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease."

  • Journal of Atrial Fibrillation: "The Gastrocardiac Syndrome: A Forgotten Entity."

  • The Lancet: "Acute Coronary Syndromes: Diagnosis and Management."

  • American College of Cardiology (ACC): "Expert Consensus Decision Pathway on the Evaluation and Disposition of Acute Chest Pain."

Editor : Hakam Alghivari
#jantung #netizen #dokter spesialis jantung #gerd