RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kasus penghentian distribusi susu formula bayi S-26 Promil Gold pHPro 1 di Indonesia memunculkan perhatian serius terhadap toksin cereulide, senyawa berbahaya yang jarang dikenal publik.
Meski tidak terdeteksi dalam hasil uji akhir BPOM, potensi keberadaan toksin ini pada bahan baku membuat isu keamanan pangan bayi menjadi sorotan nasional.
Toksin cereulide merupakan senyawa beracun yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus. Dalam dunia keamanan pangan, cereulide dikenal sebagai toksin yang sangat stabil karena tidak rusak oleh panas.
Baca Juga: Butuh Skrining Kesehatan Lewat BPJS Kesehatan? Begini Caranya, Mudah dan Bisa Online
Artinya, proses penyeduhan dengan air mendidih maupun pemasakan normal tidak mampu menonaktifkan toksin ini apabila sudah terbentuk.
Karakter tersebut menjadikan cereulide berbahaya bila mencemari bahan pangan, termasuk produk sensitif seperti susu formula bayi. Risiko inilah yang menjadi dasar kehati-hatian otoritas pengawas, meskipun produk akhir telah melalui pengujian laboratorium.
Cara Kerja dan Dampak Cereulide pada Tubuh
Bacillus cereus diketahui dapat memicu dua jenis gangguan kesehatan akibat pangan terkontaminasi, yakni sindrom muntah dan sindrom diare. Gejala muntah biasanya muncul dalam rentang 0,5 hingga 6 jam setelah konsumsi, sementara diare terjadi sekitar 8 hingga 16 jam kemudian.
Baca Juga: Dinkes Siapkan Lahan Pengganti Puskesmas Tanjungharjo
Kondisi diare terjadi akibat infeksi Bacillus cereus enterotoksigenik. Spora bakteri masuk bersama makanan, kemudian berkembang di saluran pencernaan dan menghasilkan enterotoksin yang bersifat labil panas di usus halus. Sementara itu, cereulide bekerja dengan mekanisme berbeda.
Toksin cereulide memengaruhi tubuh dengan mengganggu proses energi seluler normal. Gejala awal umumnya berupa mual dan muntah dalam beberapa jam setelah konsumsi makanan yang terkontaminasi. Pada sebagian besar kasus, gangguan yang ditimbulkan bersifat ringan dan berlangsung singkat, namun tetap berisiko pada kelompok rentan seperti bayi.
Pencegahan menjadi aspek krusial dalam pengendalian bakteri ini. Pendinginan cepat makanan matang dan penyimpanan pada suhu lemari es dinilai sebagai langkah paling efektif untuk menekan pertumbuhan Bacillus cereus dan pembentukan toksinnya.
Mengapa Kasus Ini Menjadi Perhatian Khusus?
Perhatian publik meningkat setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menghentikan distribusi susu formula bayi produksi Nestlé di Indonesia. Produk yang dimaksud adalah S-26 Promil Gold pHPro 1, yang diduga berpotensi terpapar toksin cereulide dari bahan baku arachidonic acid (ARA) oil tertentu.
Langkah ini dilakukan menyusul adanya peringatan dari European Union Rapid Alert System for Food and Feed (EURASFF) serta The International Food Safety Authorities Network (INFOSAN) terkait keamanan pangan global.
"BPOM telah memerintahkan PT Nestlé Indonesia untuk menghentikan distribusi dan melakukan penghentian sementara importasi produk tersebut," tulis keterangan resmi BPOM, Rabu (14/1).
"Paralel dengan itu, PT Nestle Indonesia telah melakukan penarikan sukarela (voluntary recall) dari peredaran terhadap seluruh produk formula bayi dengan bets yang terdampak di bawah pengawasan BPOM," tambahnya.
BPOM menegaskan bahwa kebijakan penghentian dan penarikan ini merupakan langkah kehati-hatian, mengingat konsumen produk tersebut adalah bayi yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap risiko kesehatan.
Baca Juga: Makanan yang Perlu Diwaspadai: Pola Konsumsi Pemicu Penyakit Jantung, Hipertensi, dan Diabetes
Hasil Pengujian dan Klarifikasi BPOM
Meski terdapat notifikasi keamanan pangan, BPOM memastikan bahwa hasil pengujian laboratorium terhadap dua bets produk menunjukkan hasil negatif.
Sebab, berdasarkan hasil pengujian terhadap sampel produk dari 2 bets produk S-26 Promil Gold pHPro 1 menunjukkan toksin cereulide tidak terdeteksi (limit of quantitation/LoQ <0,20 µg/kg).
BPOM juga menegaskan bahwa produk yang terdampak hanya terbatas pada S-26 Promil Gold pHPro 1 untuk bayi usia 0–6 bulan dengan nomor izin edar ML 562209063696 dan nomor bets 51530017C2 serta 51540017A1.
"BPOM juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir untuk menggunakan/mengonsumsi produk Nestlé lainnya, termasuk produk S-26 Promil Gold pHPro 1 dengan nomor bets selain yang disebutkan di atas," tegasnya. (km/bgs)
Editor : Hakam Alghivari