RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Peningkatan timbulan sampah di Kabupaten Bojonegoro tak hanya menambah beban pengelolaan, tetapi juga memicu berbagai dampak serius. Mulai dari pencemaran lingkungan, risiko banjir, gangguan kesehatan masyarakat, hingga kian menyusutnya usia pakai tempat pembuangan akhir (TPA).
Berdasar satu data Bojonegoro, dalam dua tahun terakhir, tumpukan sampah di Bojonegoro selalu meningkat. Dari 133.639,42 ton timbulan sampah di 2023. Meningkat menjadi 134.329,37 di 2024. Kembali mengalami peningkatan timbulan volume sampah menjadi sekitar 134.641,67 ton di 2025.Artinya, sampah di Bojonegoro meningkat sekitar 312,3 ton di tahun ini.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Luluk Alifah mengatakan, meningkatnya timbulan sampah di Bojonegoro harus ditangani secara komprehensif dari hulu hingga hilir. Pengendalian dari sumber menjadi kunci, melalui perubahan perilaku masyarakat dengan edukasi dan sosialisasi pemilahan sampah sejak rumah tangga, sekolah, pasar, hingga perkantoran. Serta, penguatan prinsip reduce, reuse, recycle (3R).
“Untuk itu, Pemkab Bojonegoro telah menjalankan program satu desa satu bank sampah, Desa Berseri, Desa Proklim, dan Sekolah Adiwiyata sebagai upaya penanganan sampah di sumber,” ujarnya.
Selain penguatan peran desa dan komunitas melalui bank sampah dan TPS 3R, menurut Luluk, pemerintah juga terus meningkatkan sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Termasuk armada pengangkut dan fasilitas pengolahan.
Pemkab Bojonegoro juga telah menerbitkan Surat Edaran pengelolaan sampah yang meminta masyarakat melakukan pemilahan dan pengomposan dari sumber sampah. “Disertai penegakan regulasi serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” lanjutnya.
Dia menyampaikan, jika timbulan sampah terus meningkat, tanpa pengelolaan yang baik. Akan berdampak pada pencemaran lingkungan, meningkatnya resiko banjir, gangguan kesehatan masyarakat, penurunan kualitas lingkungan hidup, bertambahnya beban biaya pengelolaan sampah, dan memperpendek usia pakai tempat pembuangan akhir (TPA).
“Oleh karena itu, pengendalian timbulan sampah harus menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan,” dorongnya.
Dari data yang sama di tahun ini, pengurangan sampah di Bojonegoro tercatat 19,37 persen atau setara dengan 26.082,97 ton. Angka penanganan sampah 15,82 persen atau 21.297,39 ton.
Dengan jumlah sampah terkelola sekitar 47.380,36 ton atau 35,19 persen. Dan, jumlah sampah tidak terkelola mencapai 64,81 persen, setara dengan 87.261,31 ton di tahun ini. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana