Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Masih Ada Kejadian, DPRD Bojonegoro Tegaskan Pemkab Harus Fokus Pencegahan DBD

Yana Dwi Kurniya Wati • Rabu, 17 Desember 2025 | 14:15 WIB
FOGGING: Petugas sedang fogging di permukiman, butuh kolaborasi pemerintah dengan masyarakat untuk pencegahan DBD.
FOGGING: Petugas sedang fogging di permukiman, butuh kolaborasi pemerintah dengan masyarakat untuk pencegahan DBD.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi penyakit musiman. Tak jarang menyerang anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Pemerintah kabupaten (pemkab) dipacu meningkatkan upaya. Di sisi lain, kesadaran masyarakat masyarakat harus ditingkatkan.

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto menanggapi masih adanya korban nyawa akibat penyakit disebabkan nyamuk Aedes Aegypti itu. Menurutnya, angka tercatat tahun ini yakni 335 kasus tidak bisa dibaca hanya dari penurunan kasus. Kalau kasih ada korban harus menjadi perhatian khusus.

"Dari angka iya mengalami penurunan. Tapi, kalau masih ada korban tentu harus menjadi perhatian serius. Langkah pencegahan harus ditingkatkan lagi," ujarnya.

Dokter Umum, dr. Anggraeni Indah menjelaskan, DBD bisa menyebabkan kematian karena komplikasi seperti shok, perdarahan berat, respon tubuh ekstrem, hingga penanganan terlambat. Telat diperiksakan atau telat dibawa ke fasilitas kesehatan seperti rumah sakit (RS).  

"Apakah kasus dipengaruhi cuaca, mungkin itu ikut berperan. Tapi, bukan satu-satunya faktor. Cuaca memengaruhi siklus nyamuk, tapi upaya pencegahan juga sangat menentukan," ujarnya.

Dia melanjutkan, untuk upaya pencegahan DBD fokus pada memutus rantai penularan nyamuk Aedes Aegypti. Dilakukan lewat pendekatan lingkungan, perilaku, dan sistem kesehatan.

Seperti 3M atau menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air.

Juga, menabur larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, sampai menjaga pencahayaan dan sirkulasi rumah. Anggraeni menambahkan, diperlukan kolaborasi dari pemerintah dan masyarakat. DBD turun bukan karena satu faktor. Tapi, kerja bersama. "Ini terbukti lebih efektif daripada fogging," tandasnya. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#demam #DPRD #penyakit #dprd bojonegoro #demam berdarah #bojonegoro #dbd #Nyamuk Aedes aegypti #rumah sakit