RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Angka stunting di Kabupaten Blora mengalami tren penurunan 0,3 persen. Dalam data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM), angka stunting turun menjadi 5,6 persen dari sebelumnya 5,9 persen.
Pemerintah setempat pun terus menggencarkan intervensi untuk menekan permasalahan tersebut. Bupati Blora, Arief Rohman mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk menekan angka stunting. Terbukti, hingga September lalu turun 0,3 persen.
‘’Alhamdulillah turun. Kami terus bersinergi dengan stakeholder juga untuk menekan angka itu. Salah satunya melakukan intervensi ke orang tua untuk dipenuhi gizinya,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, Rabu (1/10).
Bupati Arief mengatakan, pihaknya juga melibatkan ASN menjadi pendamping, guna mengentaskan permasalahan itu. Selain itu, pihaknya juga terus melakukan pemeriksaan secara rutin untuk mencegah dan menekan stunting itu.
‘’ASN kami arahkan untuk mendampingi keluarga yang terdapat stunting. Lalu, kami ada skrining rutin untuk mendeteksi masalah itu,” ujarnya.
Selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora, Edi Widayat mengakui, angka stunting di Blora turun. ‘’September ini turun jadi 5,6 persen menurut data dari e-PPGBM. Walau sedikit, ini menunjukkan jika intervensi yang kami lakukan itu berproses,’’ imbuhnya.
Edi juga menyampaikan, beberapa faktor stunting di Blora. Yaitu, pola asuh orang tua dan juga pemenuhan gizi. ‘’Pola asuh jadi utama. Karena kalau tidak diperhatikan gizinya, bisa timbul gejala-gejala stunting. Maka dari itu perlu intervensi,’’ terangnya.
Dia menjelaskan, pihaknya melakukan beberapa cara dalam intervensi stunting itu. Seperti; mengevaluasi timbangan pada balita, lalu memberikan vitamin atau suplemen bagi para remaja yang anemia dan ibu hamil.
‘’Semua itu sudah kami lakukan. Apalagi ibu hamil. Mereka kami berikan arahan untuk pemenuhan gizi yang cukup dan suplemen penambah darah agar mencegah stunting pada bayi,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga turut aktif mensosialisasikan terkait pernikahan dini, yang mengakibatkan stunting pada bayi. ‘’Terkait itu, kami juga sampaikan ke masyarakat untuk bisa mencegah rencana pernikahan dini. Itu nantinya bisa mempengaruhi kondisi bayi,’’ terangnya. (hul/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana