Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Hujan Deras di Musim Kemarau: Banjir Bandang Mengintai, Penyakit Musiman Mengancam

Bachtiar Febrianto • Kamis, 18 September 2025 | 22:07 WIB
HUJAN DI AGUSTUS: Pengendara menerjang hujan kemarin (19/8)
HUJAN DI AGUSTUS: Pengendara menerjang hujan kemarin (19/8)
 
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Musim kemarau yang seharusnya sudah datang di bulan September ini berubah menjadi fenomena aneh: Hujan deras turun hampir setiap hari, bahkan memicu banjir besar di sejumlah wilayah.
 
Kasus paling parah terjadi di Bali pada awal September, ketika banjir bandang merenggut belasan korban jiwa dan memaksa ribuan orang mengungsi. Data BNPB mencatat lebih dari 6.000 keluarga terdampak dengan kerugian miliaran rupiah.
 
Fenomena ini sekaligus menguatkan prediksi BMKG bahwa anomali iklim global El Niño–La Niña telah membuat musim di Indonesia sulit diprediksi. Namun, persoalan tidak berhenti pada kerugian infrastruktur dan korban jiwa.
 
Kondisi cuaca ekstrem, hujan deras disertai suhu yang tetap gerah akibat kelembapan tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi munculnya berbagai gangguan kesehatan. Jika tidak diantisipasi, ancaman penyakit bisa jauh lebih besar daripada banjir itu sendiri.

Penyakit yang Mengintai di Tengah Cuaca Buruk

1. Leptospirosis
 
Air banjir menjadi medium bakteri Leptospira yang berasal dari urin tikus. Kontak kulit terbuka dengan air kotor dapat menimbulkan infeksi serius, bahkan gagal ginjal. Dinas Kesehatan DIY pada tahun-tahun sebelumnya mencatat lonjakan kasus leptospirosis setelah banjir.
 
2. Penyakit Bawaan Air (Diare, Hepatitis A, Infeksi Usus)
 
Gangguan ini muncul akibat air bersih tercemar. Menurut WHO, wabah diare pascabanjir kerap terjadi karena akses sanitasi terganggu.
 
3. Demam Berdarah dan Malaria
 
Genangan air di pekarangan rumah jadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles. Transisi musim seperti saat ini dikenal sebagai “musim puncak” kasus DBD.
 
4. Infeksi Kulit
 
Kelembapan tinggi dan air kotor memicu gatal, kudis, hingga infeksi jamur. Anak-anak dan lansia paling rentan karena imunitas lebih lemah.
 
5. Flu, ISPA, dan Pneumonia
 
Inilah ancaman tambahan yang jarang disadari masyarakat. Perubahan suhu mendadak dari panas ke hujan deras, ditambah kondisi tubuh yang kelelahan, meningkatkan risiko flu dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
 
Baca Juga: BMKG Sebut Musim Hujan Datang Lebih Cepat Dari Perkiraan, Bakal Berlangsung Hingga 7 Bulan
 
Di pengungsian, risiko lebih tinggi karena ventilasi buruk dan kontak dekat antarpengungsi. Bahkan, pneumonia atau radang paru bisa menjadi komplikasi fatal, terutama bagi bayi, lansia, dan penderita penyakit kronis. Data Kemenkes menunjukkan ISPA masih menjadi salah satu penyebab utama kunjungan pasien di puskesmas setelah musim hujan

Kenapa Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu?

BMKG menjelaskan, curah hujan ekstrem pada September ini sebagian besar dipicu anomali iklim global yang memperkuat massa udara basah di Indonesia. Akibatnya, meski seharusnya kemarau, udara justru penuh uap air. Kondisi ini membuat siang hari tetap terasa gerah, meski hujan turun deras.
 
Kombinasi panas–basah inilah yang ideal bagi perkembangbiakan bakteri, virus, dan nyamuk penyebab penyakit. Selain itu, banjir merusak sistem sanitasi, membuat warga sulit mendapatkan air bersih, serta memaksa tinggal di tempat pengungsian yang padat. Semua faktor tersebut berkontribusi meningkatkan potensi wabah penyakit.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Cuaca Buruk, Kewaspadaan Harus Lebih Tinggi

Kondisi cuaca yang sulit diprediksi tidak hanya merusak pola pertanian dan infrastruktur, tetapi juga langsung mengancam kesehatan masyarakat. Dari leptospirosis hingga flu, dari diare hingga demam berdarah—semuanya bisa meledak menjadi masalah serius jika tidak diantisipasi sejak dini.
 
Karena itu, langkah mitigasi kesehatan sama pentingnya dengan mitigasi bencana fisik. Pemerintah daerah, lembaga kesehatan, hingga masyarakat harus berkolaborasi agar banjir dan cuaca ekstrem tidak berubah menjadi krisis kesehatan baru. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana
#air bersih #BKMG #indonesia #Air Hujan #nyamuk #penyakit #kesehatan #Air Banjir #bali #banjir #Hujan #Musim Kemarau #fenomena #Musim Hujan #banjir besar #gangguan kesehatan