RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Panik adalah reaksi psikologis dan fisiologis yang muncul ketika seseorang menghadapi ancaman yang dirasakan mendesak atau mengancam keselamatan. Dalam banyak kasus, panik bersifat akut dan dapat menyebabkan hilangnya kendali diri secara sementara.
Menurut Asosiasi Psikologi Amerika Serkat (APA), panik didefinisikan sebagai respons kecemasan ekstrem yang ditandai oleh lonjakan ketakutan atau ketegangan yang intens, disertai gejala tubuh yang nyata. Keadaan ini bisa muncul dalam situasi nyata, seperti bencana alam, kecelakaan, atau kondisi darurat lainnya.
Psikolog klinis umumnya mengidentifikasi beberapa ciri utama yang menandakan seseorang sedang mengalami kepanikan:
-
Perubahan fisik mendadak: Napas cepat (hiperventilasi), detak jantung meningkat, tubuh gemetar, berkeringat berlebihan, mual, atau sensasi seperti ingin pingsan.
-
Respons kognitif yang tidak rasional: Pikiran kacau, merasa seolah-olah akan mati, takut kehilangan kendali, atau merasa terlepas dari kenyataan (depersonalisasi).
-
Perilaku gelisah: Bergerak tanpa arah, menarik napas pendek-pendek, atau menjauh dari lingkungan sekitar.
-
Kesulitan berkomunikasi: Sulit menjawab pertanyaan, tidak fokus pada ucapan orang lain, atau bahkan diam.
Kepanikan seseorang umumnya terjadi selama 5 hingga 20 menit. Namun jika dibiarkan, perasaan panik dan cemas dapat berlangung jauh lebih lama dan menimbulkan efek samping.
Cara Menenangkan Orang yang Sedang Panik
Menenangkan orang yang sedang panik membutuhkan pemahaman psikologis dan pendekatan yang tenang. Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan para ahli.
Tenang dan hampiri orang yang panik
Ketika seseorang panik, kehadiran orang lain yang tenang dapat memberikan rasa aman. Menurut Dr. Judson Brewer, profesor psikiatri di Brown University, sikap tenang secara emosional dapat "menular" dan membantu sistem saraf korban untuk menenangkan diri.
Ngobrol dengan lemah lembut, ajak tarik nafas
Hindari berbicara cepat atau dengan nada tinggi. Gunakan kalimat pendek dan sederhana seperti, "Sudah tidak apa-apa" dan "Tarik napas pelan-pelan dulu".
Teknik pernapasan dalam bisa membantu menurunkan kadar kortisol dan memperlambat detak jantung. Sarankan untuk menarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, tahan 4 detik, lalu hembuskan perlahan selama 4 detik.
Jangan menghakimi
Hindari kalimat seperti "Jangan lebay" atau "Kamu harus kuat." Validasi seperti "Aku paham kamu sedang takut" malah jauh lebih membantu.
Alihkan fokus secara perlahan
Teknik grounding membantu mengalihkan pikiran dari kecemasan dengan fokus pada indera. Minta orang yang sedang panik untuk menyebutkan:
- 5 hal yang bisa dilihat
- 4 hal yang bisa disentuh
- 3 hal yang bisa didengar
- 2 hal yang bisa dicium
- 1 hal yang bisa dirasakan
Teknik ini didukung oleh studi Briere & Scott (2015) sebagai cara efektif mengatasi disosiasi saat panik.
Jangan menyentuh tanpa izin
Menyentuh secara tiba-tiba bisa memperburuk panik, terutama jika individu memiliki trauma. Selalu minta izin sebelum menyentuh atau menggandeng.
Dampingi sampai benar-benar tenang
Jangan tinggalkan orang yang sedang panik sendirian. Tetap bersama hingga tanda-tanda fisiologis mereda dan mereka mampu berbicara dengan normal kembali.
Dalam kasus panik berulang atau berkaitan dengan gangguan kecemasan, penting untuk menyarankan penanganan profesional. Terapi kognitif perilaku (CBT) dan terapi eksposur telah terbukti efektif dalam mengelola gangguan panik.
Mengenali tanda-tanda panik dan tahu cara merespons secara tepat bukan hanya membantu orang lain merasa aman, tetapi juga menunjukkan empati yang berlandaskan pemahaman ilmiah. Dalam situasi apa pun, ketenangan dan empati adalah kunci untuk menenangkan seseorang yang sedang panik. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana