BLORA, Radar Bojonegoro - Selama sebelas bulan, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Blora tercatat 185 pasien. Mereka diwajibkan kontrol dan mengonsumsi obat yang disediakan di rumah sakit dan puskesmas.
Dinas kesehatan (Dinkes) Blora mengimbau, agar tidak ada diskriminasi dan pengucilan kepada ODHA. Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Blora Prih Hartono melalui Subkordnya Sutik mengungkapkan, data yang direkapitulasi mulai Januari hingga November lalu menemukan 185 ODHA.
Rinciannya, penderita HIV sebanyak 167 orang, sementara AIDS sebanyak 18 orang. ’’Data itu kami dapat karena mereka datang langsung ke rumah sakit maupun puskesmas,” katanya. Pihaknya menegaskan, tidak melakukan tracing atau penelusuran di lokalisasi.
Para ODHA yang terdata adalah mereka yang sudah sadar dengan kondisi tubuhnya. Karena virus tersebut menyerang imun tubuh seseorang. Sehingga, perlu treatment yang rutin seperti mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).
’’Setiap puskesmas sudah disediakan obat untuk ODHA, mereka rutin mengonsumsinya,” katanya. Ia menjelaskan, sebaran ODHA ada di beberapa tempat. Paling banyak berada di Kecamatan Blora dengan 20 penderita. ’’Di Kecamatan Cepu, Kedungtuban, dan Jepon sekitar ada belasan orang,” katanya.
Sutik mengimbau, agar penderita ODHA tidak dikucilkan atau didiskriminasi di lingkungan tempat tinggal. Sebab, penularan HIV/AIDS cukup sulit. Orang lain baru bisa tertular jika terjadi hubungan seksual, transfusi darah, dan penggunaan jarum suntik yang bersamaan.
’’Jadi ketika bersalaman saja itu tidak menular, berinteraksi seperti keseharian juga tidak menular,” tegasnya. Menurutnya, penyakit HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es yang harus disikapi masing-masing orang.
Pihaknya juga mengimbau untuk para pasutri agar setia terhadap masing-masing pasangan. ’’Setialah pada pasangan, karena HIV/AIDS ini merupakan fenomena gunung es,” tutupnya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana