Oleh:
Bachtiar Febrianto
Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro
SATU tahun pemerintahan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah di Bojonegoro bukan sekadar hitungan waktu administratif. Ia adalah fase peletakan fondasi besar menyiapkan Bojonegoro agar mandiri dan tahan banting ketika era minyak dan gas (migas) suatu saat benar-benar berakhir.
Bojonegoro selama ini dikenal sebagai daerah dengan dana bagi hasil migas terbesar di Jawa Timur. Lapangan migas seperti Banyu Urip menjadi penopang APBD hingga triliunan rupiah per tahun. Namun, Wahono-Nurul tampaknya sadar, migas adalah sumber daya tak terbarukan.
Ketika sumur kering, daerah yang tidak siap akan goyah. Di titik inilah strategi mereka terasa relevan dan visioner. Pertama, penguatan ekonomi berbasis rakyat. Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri) dan bantuan domba untuk kelompok ternak bukan sekadar bantuan sosial, tetapi skema pemberdayaan produktif.
Dengan pola kelompok dan pendampingan, program ini mendorong rumah tangga desa memiliki sumber pendapatan berkelanjutan. Jika satu kelompok mampu menghasilkan ratusan telur per hari atau mengembangkan ternak beranak-pinak, efek ekonominya bisa meluas ke desa-desa lain.
Kedua, sektor pertanian sebagai jangkar ketahanan pangan. Produksi padi Bojonegoro kini menembus lebih dari 800 ribu ton gabah kering giling per tahun, menjadikannya peringkat kedua terbesar di Jawa Timur pada 2025, naik dari peringkat ketiga pada 2024.
Atas capaian tersebut, Bupati Wahono menerima Penghargaan Ketahanan Pangan Nasional Satyalancana Wira Karya 2025 dari Presiden Prabowo Subianto, sebuah pengakuan atas keberhasilan menjaga stabilitas produksi dan kontribusi terhadap stok pangan nasional. Ini bukan prestasi simbolik.
Dalam konteks pasca-migas, pertanian modern dan produktif adalah fondasi ekonomi riil yang paling masuk akal. Ketiga, infrastruktur sebagai pengungkit ekonomi. Pembangunan jalan kabupaten, jalan desa, hingga jalan usaha tani memperpendek rantai distribusi dan menurunkan biaya logistik petani.
Ketika akses lancar, nilai jual meningkat. Infrastruktur ini adalah investasi jangka panjang yang akan terus berguna bahkan ketika migas tidak lagi menjadi penopang utama. Keempat, pengembangan kota-kota baru di beberapa kecamatan dan pusat ekonomi kawasan perbatasan daerah.
Baca Juga: Radar Bojonegoro Angkat Isu Konvergensi Industri Media Massa dan Media Sosial Lewat Kuliah Praktisi
Strategi ini mencegah ketimpangan pertumbuhan yang hanya terpusat di kota induk. Dengan menciptakan simpul-simpul ekonomi baru, Bojonegoro dipersiapkan memiliki banyak pusat aktivitas perdagangan, jasa, dan UMKM. Inilah embrio kemandirian dan pemerataan ekonomi daerah.
Kelima, strategi daerah membuka diri terhadap event-event lokal, regional, nasional bahkan internasional seperti Livoli, Proliga, Bojonegoro Thengul International Folklore Festival, dll. Event besar menghadirkan ribuan orang dari luar daerah, menggerakkan hotel, kuliner, transportasi, dan UMKM. Efek gandanya nyata. Bojonegoro tidak lagi sekadar kota penghasil migas, tetapi kota yang hidup, atraktif, dan percaya diri.
Semua program itu lahir melalui strategi pendekatan “Medhayoh”, yaitu turun langsung menyerap aspirasi. Pendekatan partisipatif ini membuat kebijakan lebih membumi. Pemerintah tidak berjalan sendiri, tetapi bersama warga.
Hasil awalnya mulai terlihat. Angka kemiskinan turun dari 11,69% pada 2024 menjadi 11,49% pada 2025. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2025 naik menjadi 73,74 (kategori tinggi), dari 72,75 pada 2024. Pertumbuhan ekonomi non-migas 5,15% menunjukkan tren membaik. Ini memang belum sempurna, tetapi arah jalannya jelas.
Tentu tantangan masih ada. Diversifikasi ekonomi harus dipercepat. Hilirisasi hasil pertanian perlu diperkuat agar nilai tambah tidak lari ke luar daerah. Lebih gencar menarik investasi. Serta transparansi anggaran dan pengawasan publik tetap menjadi kunci agar setiap rupiah benar-benar produktif.
Namun, optimisme itu rasional. Wahono-Nurul tidak sedang membangun dalam jangka pendek, melainkan merancang daya tahan jangka panjang. Jika konsistensi terjaga dan masyarakat ikut bergerak (bekerja keras, adaptif terhadap perubahan, dan berani bersaing) maka Bojonegoro bukan hanya kaya hari ini, tetapi juga tetap kuat esok hari.
Saat migas habis nanti, Bojonegoro harus sudah berdiri tegak sebagai daerah mandiri. Pondasi menuju ke sana sedang dibangun sekarang. Sehingga, Bojonegoro benar-benar akan menjadi daerah yang Bahagia, Makmur, dan Membanggakan. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana