Oleh:
Muhammad Suaeb
Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro
RERATA kepala daerah, baik bupati maupun gubernur, setiap Ramadan melaksanakan safari Ramadan. Tentu kegiatan itu sah, karena tidak melanggar aturan agama dan negara. Namun, perlu ditingkatkan lagi dari unsur kemanfaatan.
Dampak dari kegiatan tahunan itu apa? Apakah membawa manfaat untuk masyarakat, atau hanya kegiatan rutin yang orientasinya hanya untuk menyerap anggaran negara saja?
Jumat (7/3) lalu, penulis melihat dan menghadiri langsung kegiatan safari Ramadan Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono. Lokasinya si Desa Balenrejo, Kecamatan Balen.
Kegiatan yang berlangsung menjelang berbuka puasa itu tampak beda dari safari Ramadan dari sebelumnya, tidak hanya memberikan santunan untuk fakir, miskin, dan anak yatim.
Namun, dirangkai dengan ekspo Ramadan, para pelaku usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM) memasarkan produknya di stan dan lapak yang telah disediakan panitia.
Setiap kegiatan yang dihadiri oleh kepala daerah, atau pejabat, tentu mengandung magnet. Kegiatan yang digawangi Paguyuban Pelangi desa setempat itu menjadi magnet warga untuk bekunjung, bisa puluhan, bahkan ratusan hingga ribuan warga berdatangan di lokasi acara.
Tentu berdampak pada perputaran ekonomi. Berbagai produk UMKM yang dijual di lapak, laris. Terjadi perputaran ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Di satu sisi, pasar tradisional mulai ditinggalkan, jika tak segera ditangani seirus. Terancam tinggal cerita, generasi anak cucu kita nanti, tidak memahami apa itu pasar. Karena metode belanjanya sudah serba digital.
Safari Ramadan ini bisa menjadi momentum untuk kembali menghidupkan gairah ekonomi di pedesaan, dalam hal ini pasar tradisional.
Butuh sentuhan kebijakan dari pemerintah untuk kembali menghidupkan pasar, jangan hanya pada saat mencalonkan saat Pilkada saja blusukan ke pasar tradisional, tapi kepala daerah bisa rutin belanja ke pasar tradisional untuk menghidupkan kembali pasar tradisional.
Selama Ramadan ini, Radar Bojonegoro menyuguhkan rubrik khusus, Dolan Pasar, menggunakan bahasa lokal yang berarti jalan-jalan ke pasar, bisa juga diartikan jual-beli di pasar. Dol, dalam bahas Jonegaran artinya jual, kalau dodolan artinya jual-beli.
Dolan Pasar ini menyuguhkan informasi terkini tentang kondisi pasar tradisional, tim redaksi Radar Bojonegoro sudah mengumpulkan informasi awal sejumlah pasar tradisional di 28 kecamatan se Bojonegoro. Mulai Baureno hingga Margomulyo.
Semoga safari Ramadan tahun ini berdampak menggeliatnya ekonomi di pedesaan. Ayo dolan pasar...
Wassalam..
Editor : Yuan Edo Ramadhana