Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tak Perlu Lagi ke Solo, Semarang dan Surabaya bila Cepu Raya Terwujud

Hakam Alghivari • Jumat, 17 Mei 2024 | 20:40 WIB
Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)
Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)

 

Kawasan Cepu Raya semakin mendapat perhatian pemerintah pusat. Bupati Blora, Arief Rohman mengungkapkan, hasil pertemuannya dengan pemerintah pusat disepakati rencana pembentukan master plan dan road map pembangunan kawasan Cepu Raya (Radar Bojonegoro, 15 Mei 2024).

Hasil rapat tersebut patut disambut positif, meski belum memutuskan leading sector yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kawasan di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur itu. Apakah Menko Perekonomian, Mensesneg, atau Menteri ESDM.

Mengapa perkembangan itu perlu disambut positif? Karena kawasan Cepu Raya menjadi harapan besar bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya wilayah timur Blora dan barat Bojonegoro. Bahkan juga akan meluas hingga ke wilayah utara Ngawi, barat Tuban, selatan Pati hingga kawasan industri Rembang.

Kawasan Cepu Raya yang digagas Mensesneg Pratikno yang kelahiran Bojonegoro tersebut sangatlah strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah Cepu dan sekitarnya 

Karena wilayah-wilayah tersebut sampai saat ini relatif masih rendah perkembangan ekonominya. Padahal, wilayah tersebut cukup luas dan potensial.

Misalnya wilayah Bojonegoro barat yang membentang dari Kecamatan Margomulyo, Ngraho, Tambakrejo, Purwosari, Padangan, Kasiman hingga Kedewan. Wilayah dengan infrastruktur jalan yang bagus menghubungkan Bojonegoro-Ngawi tersebut sangat jauh dari ibukota kabupaten.

Dengan adanya kawasan Cepu Raya, wilayah tersebut sangat berpeluang lebih cepat pertumbuhan ekonominya karena lebih dekat dengan Cepu. Sehingga akan muncul pusat-pusat ekonomi baru di wilayah tersebut. Kawasan Cepu Raya merupakan kawasan perekonomian.

Keberadaannya untuk mengungkit percepatan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya, dengan Cepu sebagai episentrumnya. Sehingga pemerintah daerah yang wilayahnya akan ‘’terimbas’’ dalam kawasan Cepu Raya tidak perlu khawatir Cepu Raya akan menjadi kawasan administrasi pemerintahan yang akan membentuk sebuah pemerintah daerah baru.

Bahkan pemerintah daerah sekitar malah harus mendukung bahkan berkonstribusi bagi percepatan realisasi kawasan tersebut. Karena mereka akan diuntungkan oleh keberadaan kawasan Cepu Raya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah pinggirannya. 

Apakah Cepu bisa menjadi episentrum kawasan ekonomi? Berdasarkan infrastruktur yang dimiliki, Cepu sangat bisa menjadi pusat perkembangan ekonomi.

Saat ini Cepu memiliki infrastruktur transportasi lengkap. Mulai stasiun kereta api dan bus antar kota kelas A. Bahkan juga memiliki bandara udara Ngloram, meski belum optimal. Keberadaan sarana transportasi sangat vital bagi mobilisasi ekonomi.

Aktivitas perekonomian dan daya beli masyarakat juga cukup tinggi dibanding daerah sekitar. Selain itu juga memiliki pusat pendidikan migas, yang bisa dikembangkan menjadi pusat pendidikan vokasi dan pengembangan migas sebagai pendukung pengembangan Cepu Raya.

Tidak hanya ekonomi, Cepu Raya juga memiliki potensi pengembangan bidang seni budaya dan wisata. Karena kekayaan alamnya tidak hanya migas, tapi juga kerajinan rakyat dari kayu jati dan wisata hutan jati dengan kereta api kuno, termasuk juga seni budaya Samin.

Berdasarkan data sejarah, Cepu sejak Zaman Belanda sebenarnya sudah disiapkan sebagai pusat perkembangan ekonomi, khususnya di bidang migas. Menurut Wikipedia, kata ‘’Tjepoe’’ mulai muncul di literasi pertambangan dan perminyakan Hindia belanda pada masa Ardian T Stoop menemukan sumber minyak di Ledok Sambong dan semakin jelas disaat beliau terlibat dalam perjanjian mega proyek KONSESI PANOLAN (28 Mei 1893) yang melibatkan dua perusahaan raksasa dan dua negara.

Nama “Tjepoe” merupakan akronim Tjentrale Exploration Petrolioem Oenited.Cepu didesain sebagai kota Belanda. Salah satu cirinya adalah adanya boulevard, yaitu di Jalan RSU dan Tuk Buntung. Dalam sebuah rekaman di perpustakaan Leiden dapat kita temukan peninggalan jembatan di boulevard jalan RSU yang sampai sekarang masih kokoh berdiri.

Dalam rangka mendukung transportasi pada masa itu, dibangun pula jalur kereta api yang menghubungkan Jawa Timur - Jawa Tengah via Cepu. Di Ngloram, juga bisa ditemui bekas landasan pesawat terbang peninggalan Belanda.

Pada tahun 2005, Cepu mendapat perhatian nasional karena penemuan adanya deposit minyak yang melimpah di Blok Cepu. Bila kawasan Cepu Raya benar-benar terealisasi, ekspektasinya akan muncul pusat-pusat perekonomian baru di wilayah sekitarnya. Mobilisasi ekonomi dan masyarakat akan meningkat.

Kondisi itu akan ditandai dengan  peningkatan dan perkembangan pusat perbelanjaan, hotel, tempat hiburan, termasuk aktifnya bandara Ngloram. Sehingga warga Blora, Bojonegoro, dan sekitarnya bila ingin melakukan aktivitas bisnis, belanja, healing, hingga naik pesawat tidak perlu lagi jauh-jauh ke Semarang, Solo, atau Surabaya. Cukup ke Cepu.

Dengan potensi yang sangat besar itu, Jawa Pos Radar Bojonegoro juga akan intensif ikut mendorong realisasi kawasan Cepu Raya melalui berita-beritanya.(*)

Editor : Hakam Alghivari
#road map #esdm #bojonegoro #Cepu Raya #Leading Sector