Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

ASN Wajib Belanja di Lingkungannya, Peran Pers Tetap Diperhitungkan

M. Yusuf Purwanto • Selasa, 25 Oktober 2022 | 16:29 WIB
BACHTIAR FEBRIANTO, General Manager Jawa Pos Radar Bojonegoro (Dokumentasi Pribadi For RDR.BJN)
BACHTIAR FEBRIANTO, General Manager Jawa Pos Radar Bojonegoro (Dokumentasi Pribadi For RDR.BJN)

Oleh: Bachtiar Febrianto


BERKUNJUNG ke Kota Madiun dipastikan tidak akan kesulitan mencari pilihan kuliner. Tidak hanya pecel sudah menjadi trade mark-nya, tapi juga ada Nasi Jotos, Soto Madiun, Ayam Panggang Madiun, dan lainnya. Termasuk jajanan yang populer, yaitu brem dan terbaru yaitu bluder. Berbagai pilihan kuliner mudah dijumpai setiap waktu di sudut-sudut kota, termasuk sekitar alun-alun Kota Pendekar itu.

 

Warung-warung atau toko-toko tempat berjualan menjamur di tengah kemegahan mal-mal juga banyak berdiri di kota tersebut. Sehingga perkembangan warung atau toko ‘’tradisional’’ milik perorangan warga setempat itu terkesan berjalan harmonis dengan perkembangan toko-toko modern. Alhasil, modernisasi Kota Madiun cukup terlihat, tanpa mengurangi perkembangan perekonomian warga lokal.

 

Perkembangan perekonomian tidak lepas dari hasil revitalisasi Kota Madiun. Kota Madiun sebelumnya sering mengalami banjir setiap musim penghujan, setelah direhab, kini berubah menjadi ‘’banjir manusia’’. Sebab, warga lokal maupun pendatang dari daerah lain semakin antusias ‘’berwisata kota’’. Tentu, keberadaan mereka mengangkat daya beli, sehingga gairah perekonomian ikut terdongkrak.

 

‘’Tidak hanya merehab wajah kota, revitalisasi juga meliputi sektor perekonomian. Khususnya pada subsektor UMKM (usaha mikro kecil menengah),’’ kata Wali Kota Madiun Maidi dalam gala diner dengan jajaran pimpinan Jawa Pos Radar di Balai Kota Madiun (18/10).

 

Bahkan, ungkap mantan Sekretaris Kota Madiun itu, untuk mengangkat perekonomian kota, dirinya mewajibkan para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Madiun belanja kebutuhan sehari-harinya di toko-toko di lingkungan rumahnya. Tujuannya, agar uang orang Madiun tetap berputar di daerahnya. Sehingga perekonomian daerah akan terangkat.

 

‘’Saya sudah menerapkan aplikasi IT bisa memantau aktivitas belanja para ASN,’’ ungkapnya sambil tersenyum.

 

Secara khusus Maidi mengaku, hampir semua bidang di Pemkot Madiun, termasuk pelayanan publik, telah menerapkan IT. Tujuannya memberi kemudahan warganya. ‘’Kami memiliki keyakinan, IT dalam genggaman, dunia akan bisa dikuasai,’’ terangnya.

 

Meski begitu Maidi menyadari benar, bahwa semua kebijakan dan programnya penuh terobosan itu tidak bisa berhasil sepenuhnya tanpa bersinergi dengan pers. Meski saat ini media sosial (medsos) berkembang pesat, keberadaan pers masih memiliki posisi strategis. Yakni mengomunikasikan dan menyosialisasikan program dan kebijakan pemkot kepada warganya, maupun ke luar daerah.

 

‘’Pers memiliki kode etik, sehingga informasi disampaikan akan obyektif dan mendidik. Baik informasi bersifat kritis maupun yang menginspirasi. Dan Kota Madiun bisa seperti sekarang ini salah satunya karena peran pers,’’ tutur Maidi.

 

Karena itu, wali kota berlatar belakang pendidik itu mengaku terus menjaga kemitraan dengan kalangan pers. ‘’Yang pasti, saya selalu meminta teman-teman pers menulis Kota Madiun apa adanya. Saya tidak mau dilebih-lebihkan. Sebaliknya, kalau ditulis tidak sesuai kenyataan, saya akan protes,’’ tandasnya sambil tersenyum. (*)  

 

(*) General Manager Radar Bojonegoro

Editor : M. Yusuf Purwanto
#Hasil Revitalisasi #Kota Madiun #Public Relation #bojonegoro #Peran Pers